Dokumen Amdal Lingkar Utara Kota Tasik Rp500 Juta, yang Bikin Orang Bandung..

90
0

Sementara itu, dari penelusuran Radar, jasa konsultasi dokumen Amdal Lingkar Utara tersebut digarap PT Sarana Perencana Jaya, yang beralamat di Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung.

Pekerjaan konsultasi itu menghabiskan anggaran Rp 500 juta lebih bersumber dari APBD Tahun 2016.

Pada Januari Tahun 2017, berita acara kesepakatan dokumen Kerangka Acuan (KA) Amdal proyek itu baru terbit. Kemudian buku revisi KA Amdal baru diterima DPUPR di awal Tahun 2019.

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tasikmalaya mengaku sudah mengusulkan permohonan pembahasan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal) Proyek Lingkar Utara. Sebab, secara prinsip dokumen tersebut sudah final atau selesai dari tahapan penyusunan.

Baca juga : Pemkot Tasik Siapkan Inovasi Smart Kelurahan untuk Permudah Pelayanan

“Nah tindaklanjutnya harus ada pembahasan Komisi Amdal. Kita sudah layangkan permohonan, Alhamdulillah saat ini Komisi Amdal sudah dimiliki Kota Tasikmalaya jadi kita dorong penyedia harus bertanggungjawab sampai selesai izin lingkungannya,” kata Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPR Kota Tasikmalaya Sandi Lesmana di kantornya, Rabu Siang (4/11).

Pihaknya tidak bisa memprediksi berapa lama waktu proses perizinan lingkungan benar-benar terbit. Sebab, penyedia jasa yang ia ketahui perusahaannya berasal dari Bandung sudah final tinggal menunggu pembahasan Komisi Amdal. Kala itu, yang membidangi kaitan tersebut masih dijabat Tresno.

“Setahu kami penyusunan dokumennya sampai dengan final, itu sesuai dengan kontrak. Berkaitan sidang amdal yang dilakukan komisi selesainya kapan, itu tidak bisa kita ukur,” ucap Sandi.
Dia mengharapkan ajuan penelaahan amdal terhadap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya segera membuahkan hasil. Sebab, per pekan lalu sebelum libur cuti bersama sudah sampaikan permohonan tersebut.

Menurut Sandi, tidak ada amdal double pada penyusunan dokumen amdal. Adapun kegiatan di Tahun 2008, karena dokumennya dianggap sudah kedaluarsa, serta adanya perpanjangan trase dari semula hanya mencakup Simpang Lanud Wiriadinata sampai dengan Karangresik saja.

“Maka di Tahun 2016 dibuatlah dokumen amdal, karena ada perpanjangan trase sampai Indihiang,” tuturnya.

“Perpanjangan tersebut otomatis nantinya akan mengubah lingkungan. Meski belum ada kegiatan apa-apa ke trase lanjutan itu, dokumen disiapkan untuk mengcover secara keseluruhan,” papar Sandi melanjutkan.

Sandi memaparkan upaya yang dilaksanakan saat ini, diharapkan mendapat respons positif dari berbagai pihak. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.