Dolar Menguat, Produsen Tahu Kurangi Produksi

PRODUKSI. Pemilik pabrik tahu dan tempe di Desa Singasari Kecamatan Singaparna H Mamat Rahmat mengurangi produksi karena harga kedelai mengalami kenaikan Jumat (7/9).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SINGAPARNA – Menguatnya dolar mengakibatkan barang-barang impor mengalami kenaikan, seperti kedelai yang merupakan bahan baku tahu dan tempe. Menyikapi hal tersebut, produsen tahu dan tempe harus memutar otak guna menyiasati hal tersebut.

Produsen tahu dan tempe di Kampung Linggasari Desa Singasari Kecamatan Singaparna H Mamat Rahmat (55) mengatakan pihaknya langsung mengecilkan ukuran untuk menyiasati naiknya harga kedelai dari Rp 6.200 menjadi Rp 7.600 per kilogramnya.

“Dampaknya bagi saya konsumsi kacang kedelai untuk bahan membuat tahu tempe jadi berkurang. Biasanya per hari sampai 60 kilogram, sekarang hanya 35 kilo jadi ukuran tahu dan tempe diperkecil,” ungkap Mamat kepada Radar, Jumat (7/9).

Sebelum mengalami kenaikan kedelai, kata dia, dalam satu hari mampu memproduksi 4.000 butir tahu dan ratusan potong tempe. Sekarang, Mamat hanya mampu memproduksi 2.000 tahu dan puluhan potong tempe. “Kita terpaksa memangkas produksi dan ukuran. Karena harga bahan baku terus mengalami kenaikan,” ungkapnya.

Walaupun harga tidak mengalami kenaikan, lanjut dia, minat beli masyarakat terhadap tahu tempe mulai menurun yang dampaknya terhadap penghasilan. “Biasanya dalam satu hari bisa mendapatkan keuntungan Rp 300.000 dan sekarang hanya kurang dari Rp 200.000,” ungkapnya.

Mamat berharap pemerintah segera cepat tanggap menyikapi hal tersebut. Karena dampaknya cukup signifikan, terlebih bagi para pengusaha kecil seperti produsen tahu dan tempe. “Harus segera ada solusi supaya para produsen tahu dan tempe tetap stabil dalam menjalankan usahanya,” harapnya.

Ikbal Komarudin (45), pengrajin lainnya juga melakukan hal yang sama dalam menyiasati naiknya harga bahan baku. “Kita menyiasati dengan berbagai cara supaya harga jual tahu tempe tidak ikut naik,” bebernya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tasikmalaya Drs Heri Sogiri MM mengungkapkan bahwa fenomena naiknya harga bahan baku kacang kedelai akibat melemahnya rupiah memang cukup berdampak besar terhadap para pengrajin tahu dan tempe. “Walaupun demikian pemerintah daerah tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ini dampak dari perekonomian pusat yang tidak stabil. Makanya pengusaha menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran,” terangnya. (dik)

loading...