Dollar Naik, Perajin Tahu Kini Was-Was

CEMAS. Uus Sutarman, perajin tahu di Kecamatan Parigi was-was dengan melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika. Karena bahan baku tahu itu kedelai impor.

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

PARIGI – Perajin tahu di Kabupaten Pangandaran was-was dengan kondisi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika. Hal itu bisa mengancam usaha mereka karena bahan baku yang digunakan adalah barang impor.

Seorang perajin tahu di Kecamatan Parigi Uus Sutarman (42) mengatakan bahwa saat ini belum berniat untuk memperkecil ukuran tahu yang dia buat. ”Karena harga kedelai cenderung masih stabil, di kisaran Rp 8.000 sampai Rp 8100. Belum tahu nih ke depannya kayak gimana,” ujarnya kepada Radar Sabtu (9/9).

Biasanya, menurut dia, jika harga dolar terus melambung maka harga kedelai akan ikut naik. ”Karena kacang kedelai yang digunakan oleh pabrik tahu, ya diimpor dari Amerika. Tetapi biasanya juga harga kedelai sering naik turun,” jelasnya.

Jika nantinya harga kedelai naik signifikan, bukan tidak mungkin ia akan memperkecil ukuran tahu yang ia buat. ”Itu sudah biasa. Setiap ada kenaikan harga kedelai, tahu yang kita buat pasti diperkecil,” ucapnya.

Kepala DPMPTSPKP Kabupaten Pangandaran Tedi Garnida mengatakan harga kedelai di tiap pasar berbeda-beda. Di Pasar Kalipucang harga kedelai Rp 7.000, di Pasar Parigi harganya Rp 12.000 dan di Pasar Pananjung harganya Rp 8.000. ”Jadi harganya tidak sama,” jelasnya.

Untuk kenaikan harga di kebutuhan pokok, kata dia, memang belum begitu terasa. Namun untuk barang-barang elektronik yang kebetulan memang merupakan barang impor, sudah mengalami kenaikan. (den)

loading...