Bukan Alasan Ekonomi, Stres karena Gagal Rumah Tangga

Dua Janda Jadi Pengedar Narkoba

372
0
DIPERIKSA. Tiga tersangka pengedar dan kurir narkoba RA (kanan), NA (tengah) dan DC diperiksa anggota Satuan Narkoba Polres Tasik Rabu (17/7). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

MANGUNREJA – Dua janda asal Kota Tasikmalaya, RA (31) dan NA (49) berurusan dengan penegak hukum. Perempuan asal Indihiang dan Bungursari itu ditangkap Satuan Narkoba Polres Tasikmalaya terkait peredaran narkoba jenis sabu-sabtu di wilayah Tasikmalaya Rabu (17/7). Sebelumnya, polisi mengamankan seorang pria berinisial DC (41).

Kepala Satuan Narkoba Polres Tasikmalaya AKP Ngadiman SH menjelaskan sebelum menangkap RA, NA dan DC, sekitar tiga minggu sebelumnya, pihaknya mendapatkan informasi bahwa DC mengedarkan narkoba di wilayah Cikunir, Singaparna. Polisi lalu melakukan penyelidikan. Petugas juga membuntuti dan menangkap DC. Dari DC, kata Ngadiman, didapatkan sabu-sabu. DC menyimpan sabu-sabu itu di dalam bungkus rokok.

”Di dalamnya ada enam bungkus warna bening (sabu-sabu, Red) yang dimasukan lagi ke dalam sedotan limun. Kemudian dilakukan pengembangan ternyata diketahui ada dua pelaku perempuan, RA yang memiliki sabu dan NA yang disuruh jadi kurir. Kita tangkap di rumahnya di wilayah kota (Tasikmalaya, Red),” ujarnya di Mapolres Tasikmalaya kemarin.

Ngadiman menuturkan RA merupakan pengedar termasuk pemilik sabu-sabu. Narkoba itu didapatkan perempuan muda itu dari temannya di Jakarta.

“Kita berhasil mengungkap kasus pengedaran narkoba jenis sabu ini, yang melibatkan dua orang perempuan dan satu pelaku laki-laki. Sabu berhasil diamankan 0,75 gram sabu, didapatkan dari DC dan dari RA 0,15 gram, NA dan DC sebagai perantara atau kurir,” ungkap Ngadiman, saat ekspose.

Ngadiman menerangkan RA memiliki perawakan dan wajah seperti laki-laki. Namun, dia, kata Ngadiman, perempuan. Adapun NA merupakan janda dan mempunyai anak.

“Jadi memang ketiga pelaku ini baru kenal beberapa bulan. RS ini suka kirim sabu ke DC dan NA, dititipi. Tidak ada eksploitasi perempuan dalam kasus ini. Kita akan kembangkan barangkali ada eksploitasi lain. Sampai saat ini belum ada,” jelasnya.

Ngadiman menambahkan, ketiga pelaku dikenakan Undang-Undang tentang Narkotika pasal 112 dan 114 dengan ancaman hukuman untuk pemilik dan pengedar lima tahun dan kurir ancaman empat tahun penjara.

Di hadapan wartawan, NA (49) mengaku menjadi kurir atau dititipkan sabu oleh DC. Dia dijanjikan diberi uang Rp 800.000.

“Sudah tahu itu sabu, saya juga dulu pernah pakai sabu. Karena stres gagal membangun rumah tangga cerai dulu, punya anak empat,” tuturnya.

Sehari-hari, NA mengaku hanya ibu rumah tangga biasa. Adapun kebutuhannya ditanggung anaknya yang sudah bekerja di Jakarta. “Ya saya berani nyimpan sabu bukan karena ekonomi, karena diberi uang oleh anak saya buat hidup,” ungkapnya.

NA, mengaku belum lama mengenal DC dan RA. Dia baru dua bulan mengenal mereka. NA merasa menjadi korban hingga ditangkap polisi.

“Ya mungkin apes lah,” ujar NA sambil menjawab pertanyaan wartawan di hadapan polisi.

Tersangka lainnya, RA mengaku mendapatkan sabu-sabu dari temannya di Jakarta. Narkoba tersebut untuk dijual dan diedarkan di Tasikmalaya melalui DC dan NA. “Saya dapat dari teman barangnya,” ujarnya.

RA mengaku pernah menikah dan cerai. Dia dikaruniai dua anak. Sehari-hari, dia mengaku menjadi pengemudi angkutan daring.

“Sebetulnya ngedarin narkoba bukan untuk kebutuhan ekonomi, karena saya punya kerja. Cuma senang saja. Dulu saya juga pakai, sempat berhenti dan dua bulan ini saya pakai lagi,” tuturnya.

Diakui RA kenapa sampai menggunakan atau mengkonsumsi narkoba karena stres dengan kehidupannya. Termasuk dia gagal membina rumah tangga. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.