Kiprah Rubiyanto, Inovator Motor Roda Tiga untuk Kalangan Difabel

Dua Roda di Depan dan Tetap Bisa Bermanuver ala Rossi

287
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Penghargaan yang diraih Rubiyanto atas inovasinya diawali tantangan seorang korban gempa Jogjakarta. Sudah punya dua paten untuk brand dan trademark.

M. HILMI S, Pekanbaru

GEMPA besar Jogjakarta belum terlalu lama berlalu ketika perempuan itu bertandang ke kediaman Rubiyanto. Dan, langsung melemparkan tantangan: bisakah Rubiyanto membuatkan motor yang membantu mobilitasnya?
Jane, perempuan tersebut (nama samaran, atas permintaan Rubiyanto), menjadi penyandang cacat di kaki akibat gempa tersebut. Padahal, usianya masih produktif.

Dan, lewat perantaraan seorang kawan, dia tahu Rubiyanto ahli permesinan. Pria kelahiran Blora pada 8 Oktober 1958 itu sejak 2000 memang punya bengkel pembuatan mesin untuk industri makanan dan farmasi serta mesin industri lain. ’’Saat itu motor roda tiga, khususnya bagi kaum difabel, sebenarnya sudah banyak,’’ kata pria bernama lengkap Rubiyanto Hadi Pramono itu tentang periode 12 tahun lalu tersebut.

Namun, lanjut dia, kebanyakan dibuat asal-asalan. Sambungan atau konstruksi rangkanya dibuat acak-acakan. Susahnya lagi, kerap ditolak jika dibawa masuk ke bengkel resmi karena oleh sang montir dirasa ruwet untuk sekadar servis biasa.
Dipicu tantangan Jane itu, Rubi berusaha membuat motor roda tiga yang memenuhi standar keamanan. Serta nyaman, rapi, awet, dan mudah dirawat.

Dan, tak sia-sia. Upaya panjang alumnus D-3 Akademi Teknik Mesin Industri Solo dan Magister Schweizerische Technische Fachschule (STF) Winterthur di Swiss itu berbuah penghargaan bergengsi.

Dalam puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-23 di Pekanbaru pada Jumat lalu (10/8), dia merebut juara satu penghargaan Labdha Kretya. Itu adalah bentuk apresiasi bagi masyarakat umum yang menghasilkan produk inovasi.

Pekerjaan menjawab tantangan Jane pun dimulai. Rubiyanto mengatakan butuh waktu sekitar sebulan untuk tahap trial and error.

Pada mulanya, bapak Nova, Vega, dan Eta itu membuat modifikasi motor dengan memasang dua roda di bagian belakang. Lengkap dengan dua buah disk breaker alias rem cakram di kedua roda belakang.

Setelah jadi, Jane langsung diberi kesempatan menjajal. Ternyata, dia puas. Langsung saja informasi tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Rubiyanto pun akhirnya banjir order pembuatan motor roda tiga.
Sampai-sampai, dia menghentikan pabrik pem

buatan mesin alat makanan dan farmasi yang lebih dulu beroperasi. Beralih mendirikan bengkel modifikasi motor.
Alasannya sederhana. Membuat motor modifikasi lebih menguntungkan dari sisi ekonomi. Dan, dia memang juga hobi utak-atik motor. ’’Semangat saya (modifikasi motor roda tiga, Red) untuk cari makan,’’ jelasnya.

Kebanyakan motor yang dimodifikasi sehingga menjadi beroda tiga adalah jenis motor matik. Tetapi, ada pula yang pesan dengan motor biasa. Bahkan, ada order modifikasi motor roda tiga untuk satu unit motor gede (moge).

Dalam perkembangannya, kakek dua cucu itu terus berinovasi. Inovasi monumentalnya, antara lain, mengubah dua roda yang sebelumnya di belakang menjadi di depan. Dia ingin mengadopsi pabrikan motor Ariel dari Inggris yang pada 1947 juga melansir motor roda tiga.

Rubiyanto sempat mengamati konstruksi motor roda tiga pabrikan Ariel tersebut. Menurut dia, konstruksinya kaku seperti becak. ’’Ketika dikendarai itu seperti orang mengendarai becak. Kaku,’’ ungkapnya.

Rubiyanto juga menyamakannya seperti orang mengendarai kendaraan roda empat ATV (all-terrain vehicle). Yang juga sama-sama kaku seperti orang mengendarai becak.
Akhirnya, dengan beberapa kali uji coba, Rubiyanto berhasil membuat konstruksi roda dua di depan, tapi tetap memungkinkan pengendara bisa melakukan manuver. Tidak kaku seperti orang mengendarai becak.

’’Rasanya seperti mengendarai motor biasa. Bisa dibuat ngebok (bermanuver di tikungan, Red) seperti Valentino Rossi,’’ ujarnya, lantas tertawa.

Dia menyatakan, motor roda tiga dengan dua roda di bagian depan cocok dipakai difabel tidak sejak lahir. Artinya, orang tersebut sudah bisa atau berpengalaman mengendarai motor. Hanya, sekarang tidak bisa lagi menggunakan motor biasa karena mengalami cacat pada kaki. Seperti si Jane tadi.

Sebaliknya, motor roda tiga dengan dua roda di bagian belakang cocok bagi penyandang disabilitas sejak lahir. Mereka yang sama sekali belum berpengalaman mengendarai motor pada umumnya. Sehingga sangat terbantu ketika mengendarai motor roda tiga dengan dua roda di belakang.

Rubiyanto mengungkapkan inovasi motor roda tiga yang dibuatnya bersifat kit alias perlengkapan portabel. Dengan demikian, saat perakitannya, tinggal ditempel. Kemudian dikencangkan dengan beragam cara. Bentuk motornya tetap stylish seperti motor baru pada umumnya.

Saat ini suami Winarti itu memiliki dua paten untuk brand dan trademark (merek dagang). Dua paten tersebut adalah satu untuk nama produk Invarunner dan satu lagi untuk RWIN.
Dia mengibaratkan RWIN itu seperti nama pabrikan. Misalnya, Honda, Kawasaki, atau Yamaha. Sedangkan Invarunner adalah merek motor seperti Supra, Vario, Mio, dan sejenisnya.
***

Upaya Rubiyanto mengambil penerbangan pagi ke Pekanbaru sia-sia. Dia tetap terlambat ke seremoni puncak Hakteknas yang dihadiri mantan Presiden B.J. Habibie dan Menristekdikti Mohammad Nasir itu.

Jadilah panitia yang mewakilinya menerima penghargaan. Wajahnya pun terlihat masam, mungkin menahan kecewa. Tapi, begitu menerima piala juara pertama Labdha Kretya, lengkap dengan sertifikatnya, Rubiyanto mulai terlihat ceria. (*/c5/ttg/jpg)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.