Pasien Dievakuasi, Jemaah Berhamburan

Duka Gempa Sulteng

16

MAKASSAR – Duka kini dirasakan oleh masyarakat di Sulteng. Dua lokasi yakni di Kabupaten Donggala dan Kota Palu, dilanda gempa dan tsunami, Jumat (28/9).

Sri Rahayu ketakutan. Warga asal Pinrang, yang bekerja di kantor distributor perusahaan pupuk cabang Palu ini, merasakan betul setiap detik goncangan akibat gempa di Kota Palu. Gudang tempat kerjanya diterjang tsunami. Saat kejadian wanita yang akrab disapa Ayu ini berada di salah satu gedung di area pusat kota. Akan tetapi Ayu dan beberapa orang lain, cepat menyelamatkan diri keluar. Sehingga tak kena dampak reruntuhan. Ayu sempat berkomunikasi dengan salah seorang rekannya, Erni. Mengabarkan, jika kondisi bangunan disana porak-poranda. “Saya sempat komunikasi, terakhir pukul 19.00. Katanya masih gempa disana, waktu menelfon Ayu (Sri Rahayu) menangis juga.

Semua panik,” ujarnya Erni kepada FAJAR, kemarin.

Kata dia, Ayu dan beberapa orang lain, saat ini ada di salah satu ruko kerabatnya di Kompleks Pasar Masomba, Palu. Mereka ada di pinggiran jalan. Kondisi bangunan disana sudah banyak yang rusak parah. Ayu juga sempat berkomunikasi dengan ibunya di Paradiba yang saat ini masih di Pinrang.

Informasinya hingga malam kemarin gempa susulan masih terus terjadi. Kondisi disana pun gelap. Komunikasi sempat lancar, namun terputus beberapa saat setelahnya. Sampai saat ini, kata dia, Ayu masih dalam kondisi ketakutan. Bingung entah kemana, pasalnya akses ke wilayah perbukitan sulit karena kondisi kota yang porak-poranda.

Pasien Dievakuasi,

Jemaah Berhamburan

Pergerakan lempeng bumi di Donggala-Palu, Sulteng, turut dirasakan di sejumlah daerah. Paling terasa di wilayah tetangga. Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan ikut merasakan getarannya.

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada enam gempa yang terjadi. Guncangan membuat banyak warga berhamburan keluar dari rumahnya. Menghindari tertimpa reruntuhan bangunan. Seperti yang diceritakan Arif, warga Jalan RE Martadinata, Mamuju, SUlbar. Pukul 17.58 wita, dia sedang berada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulbar.

Getaran hanya sekitar 30 detik. Namun, cukup keras. Dia lalu berlari ke jalan raya. “Sangat terasa, Pak. Jadi saya panik dan berlari keluar dari gedung. Banyak orang yang juga melakukan hal sama. Bahkan pihak pasien yang ada dalam gedung juga ikut dikeluarkan,” kata Arif. Honorer Pemprov Sulbar ini menuturkan jalan sebelum jembatan di depan RS Bhayangkara Polda Sulbar juga ikut ambles hingga 30 sentimeter. Arus lalu lintas sempat menumpuk karena kendaraan tidak bisa melintas. “Tapi warga melakukan penimbunan sementara sehingga bisa dilalui kendaraan,” ucapnya. Salat Magrib Kepanikan serupa juga terjadi di Kabupaten Polman, Sulbar.

Mereka hendak melaksanakan salat magrib di Masjid Syuhada, Pekkabata. Mereka berhamburan keluar dari masjid karena ada getaran yang sangat kencang. Saat itu muazin baru saja usai mengumandangkan azan, tiba tiba terjadi gempa. Warga yang berada dalam masjid maupun yang baru mengambil air wudu kocar-kacir. “Awalnya saya kira perasaan saya oleng kurang darah. Tetapi karena semua jemaah merasakan, maka langsung berhamburan keluar,” bebernya.

Hal sama dirasakan Harianto warga Kelurahan Polewali. Menurutnya getaran gempa dirasakan cukup kuat membuat warga berhamburan keluar rumah.

Kapolda Sulbar Brigjen Pol Baharudin Djafar menghimbau warga tidak panik pascagempa Donggala-Palu, serta isu adanya ancaman Tsunami. “Info resmi dari BPBD Sulbar, yakni Pak Darno menemui saya dan menyatakan bahwa berdasarkan hasil pantauan alat yang canggih bahwa potensi tsunami sudah tidak ada. Terutama wilayah Sulbar,” ucapnya.

Jenderal bintang satu ini juga menghimbau warga tidak panik menanggapi maraknya foto dan video yang tersebar di media sosial soal gempa. “Saya meminta kepada warga Sulbar untuk tidak panik menanggapi maraknya postingan-postingan yang tersebar di media sosial. Postingan tersebut menimbulkan kepanikan bagi masyarakat,” tambahnya. Jaringan Telepon Gempa dan tsunani Donggala-Palu juga menyebabkan gangguan jaringan telekomunikasi terputus. Provider kini berupaya agar kondisi jaringan kembali normal.

GM External Corporate Communication Telkomsel, Denny Abidin, mengaku, gempa bumi yang berpusat di Kabupaten Donggala, mengakibatkan terputusnya pasokan listrik PLN sehingga berdampak pada menurunnya kualitas layanan telekomunikasi Telkomsel. “Khususnya di Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Parigi Moutong mengalami gangguan,” terang Denny. Pihaknya kini tengah berupaya secara maksimal dengan mengerahkan mobile back up power untuk mengurangi dampak gangguan tersebut. “Kami memohon maaf atas ketidaknyaman yang terjadi,” ucapnya.

Sementara itu, Corporate Communication North Region XL Axiata, Yoseo Maya Pong Masak, membeberkan, kondisi jaringan pasca gempa masih aman. Hanya saja, ada beberapa site di Sulteng sedang terganggu karena pasokan listrik yang terputus. “Kalau jaringan di Sulbar terpantau normal. Kami akan terus memantau kondisi di sana. Atas nama keluarga besar XL Axiata, kami turut berduka atas gempa yang terjadi,” tutupnya. (ful/edo-gsa/rif-zuk)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.