Dunia Pendidikan Krisis Perhatian

5
RUSAK. Atap kelas di SDN 1 Cipakat Kecamatan Singaparna rusak dan hampir ambruk Selasa (18/9).

SINGAPARNA – Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Singaparna Asep Abdul Rofiq menyayangkan masih adanya fasilitas sekolah yang mengkhawatirkan dan mengancam siswa dalam belajar mengajar.

“Saya miris melihat kondisi ruang kelas dan bangunan SDN 1 Cipakat Kecamatan Singaparna hampir ambruk dan membahayakan siswa yang belajar,” ujarnya kepada Radar, Minggu (23/9).

Melihat kondisi ini, Asep menilai pengelolaan dunia pendidikan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya buruk. Pasalnya, untuk memperhatikan fasilitas penunjang belajar mengajar pun tidak mampu. Padahal, sekolah ini berada di ibu kota kabupaten. “Menurut saya dunia pendidikan saat ini krisis perhatian yang serius,” ungkapnya.

Ketika sekolah di ibu kota saja seperti ini, Asep tak yakin yang berada di daerah pelosok bisa mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik. “Saya berani bicara seperti itu karena melihat sekolah di Singaparna saja masih seperti ini,” terangnya.

Pemerintah selalu menggemborkan wajib belajar 12 tahun, tapi Asep mengaku heran target tersebut tidak diimbangi dengan hadirnya fasilitas untuk belajar mengajar siswa yang baik. “Bagaimana mau mencetak generasi muda apabila kondisi fasilitas tempat belajarnya masih seperti ini. Padahal baiknya fasilitas belajar bisa menjadi penunjang siswa untuk meraih sukses dan prestasi,” ungkapnya.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya Ami Fahmi menyayangkan masih adanya fasilitas sekolah yang rusak di daerah ibu kota. “Seharusnya tak ada lagi sekolah seperti ini dan fasilitas pendudukan harus nyaman digunakan belajar mengajar,” kata dia. Maka dari itu, pihaknya mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera memperbaiki sarana belajar di SDN 1 Cipakat.

Sebelumnya, Kondisi ruang kelas I, III dan VI di SDN 1 Cipakat Kecamatan Singaparna nyaris ambruk. Tapi, para siswa masih tetap menyelenggarakan belajar mengajar di ruangan yang sudah ditopang menggunakan bambu pada bagian atapnya tersebut.

“Saat ini dilanda kecemasan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Bangunan sekolah sudah mulai rapuh dan sewaktu-waktu dapat ambruk serta membahayakan siswa. Karena tidak ada lagi ruang kelas dan para guru dan siswa sudah diimbau untuk selalu waspada ketika sedang belajar mengajar,” ujar Kepala SDN 1 Cipakat H Hasan SPd kepada Radar, Selasa (18/9).

Saat ini, terang dia, memang ruangan tersebut masih digunakan. Itu pun ketika musim kemarau saja. Sedangkan saat memasuki musim hujan, para siswa di kelas tersebut harus mengungsi ke kelas lain dan proses belajar mengajarnya disatukan. Karena kondisi ruangan tersebut pasti terjadi banjir dan dikhawatirkan ambruk.

Lanjut dia, menyikapi kondisi ini pihaknya sudah melayangkan surat kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya untuk segera mengambil tindakan terkait kondisi ruang kelas yang mengkhawatirkan ini. “Kami sangat berharap bangunan ini segera diperbaiki, sehingga tidak menjadi ancaman bagi siswa dan guru yang sedang belajar mengajar,” terangnya. (ujg/obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.