E-Commerce Bukan Penyebab Toko Ritel Tutup

25

JAKARTA – Beberapa waktu lalu konsumen Indonesia dikejutkan dengan sejumlah toko ritel yang menutup operasionalnya. Berbagai kalangan menyebutkan biang keladinya adalah keberadaan E-commerce atau perdagangan melalui teknologi digital.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey angkat suara, bahwa fakta sebenarnya tidak demikian. Sebab pertumbuhan minimarket masih melesat.

Catatan Aprindo, minimarket tumbuh 800-900 per tahun, supermarket tumbuh 10-15 per tahun, dan hypermarket tumbuh 2-3 per tahun. Melihat data tersebut, artinya industri ritel Indonesia masih bertumbuh dan konsumsi masih meningkat.

Roy mengklaim, angka Indeks Kepercayaan Konsumen terhadap ritel masih tinggi yakni di atas 100. Juga Indeks Penjualan Riil yang juga di atas 100 atau inflasi terkendali di kisaran 3,1-3,2 persen.

“Ritel tutup karena mereka ingin efisiensi, mengubah business model dan merelokasi dari daerah yang tidak strategis,” tutur Roy.

Dia mengungkapkan, bahwa omzet ritel pada tahun lalu mencapai Rp 235 triliun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan E-commerce. Sementara untuk target tahun ini sebesar Rp 240 triliun.

“Pengusaha ritel akan ekspansi di timur Indonesia yang menawarkan peluang cukup besar,” ucap dia.

Kesempatan yang sama. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta Ellen Hidayat sepakat dengan yang dikatakan Roy. Ia mengatakan bahwa ritel tutup bukan disebabkan masalah ekonomi namun pengusaha tengah mencari produk yang paling produktif.

“Tutup itu masalahnya macam-macam, ada yang mereka melihat merek itu tak jalan saat ini, mending dibuka baru,” ujar Ellen.

Ellen mencontohkan, Lotus milik MAP yang sempat tutup gerai, akan tetapi MAP justru tetap berkibar dan menambah brand lainnya. Jadi memang pengusaha tengah berpikir kreatif bagaimana produk-produknya diminati konsumen.

Terpisah, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto me­nga­takan, gugurnya se­jum­lah ritel mo­dern karena kalah ber­saing dengan mini­market yang men­jemput bola kepada kon­sumen.

“Secara umum memang super market besar yang tutup karena kalah bersaing dengan minimarket yang semakin mendekat ke konsumen,” ujar Eko.

Lanjutnya, kecenderungan konsumen di zaman sekarang segala sesuatunya ingin efisien. Maka, mereka lebih memilih yang terdekat untuk melakukan transaksi. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.