Edarkan Obat, Mahasiswa Tasik Ditangkap

81
EKSPOSE. Kapolres Ciamis AKBP Bismo Teguh Prakoso SH SIK MH menjelaskan pengungkapan kasus peredaran miras dan narkoba kepada wartawan, Jumat (9/8). IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Satuan Narkoba Polres Ciamis menangkap peracik minuman keras (miras) jenis ciu dan pelaku penyalahgunaan narkoba berupa obat-obatan dan sabu-sabu. Dari kasus tersebut terdapat lima tersangka. Salah seorang di antaranya merupakan mahasiswa asal Tasikmalaya.

Kapolres Ciamis AKBP Bismo Teguh Prakoso SH SIK MH menerangkan, kasus tersebut hasil penyelidikan pada Juni, Juli dan Agustus. Dari kasus pembuatan dan penjualan miras ciu, polisi mengamankan pria berinisial DH (27) asal Kecamatan Sukamantri. Barang bukti yang diamankan pelaku berupa 152 botol plastik transparan berukuran 600 Ml berisi ciu. “Pelaku merupakan pengedar miras oplosan jenis ciu untuk diedarkan di wilayah Desa Panumbangan,” kata Bismo kepada wartawan saat ekspose kasus di Mapolres Ciamis, Jumat (9/8).

Dari penjualan miras itu, DH mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1,8 juta. Dia sudah menjalankan bisnis kotornya ini selama dua bulan. Akibat perbuatannya, dia dijerat pasal 204 ayat (1) KUHPidana Jo pasal 62 ayat (1) UU RI No. 08 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman hukumannya 5 tahun sampai 15 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar. “Jangan coba-coba meminum miras oplosan atau miras lainnya karena jelas taruhannya nyawa bisa melayang,” tutur dia.

Berikutnya, polisi mengungkap kasus penyimpanan dan pengedaran obat-obatan jenis tramadol tanpa memiliki izin. Tersangkanya adalah seorang mahasiswa berinisial IF (23) asal Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.

Dari tangan tersangka, polisi menyita delapan strip yang berisi 80 butir tramadol yang disimpan di dalam tas pinggang warna merah berselendang hitam. Atas kepemilikan obat tersebut, tersangka diancam pasal 196 Jo pasal 198 UU RI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya 10 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 1 miliar. “Pelaku sebagai pengedar (tramadol, Red.) yang diedarkan di wilayah Kabupaten Ciamis,” ucapnya.

Kasus ketiga, polisi berhasil mengungkap penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu. Pelakunya berinisial DS (39) asal Desa/Kecamatan Panumbangan dan GS (36) asal Kelurahan Lengkongsari Kecamatan Tawang. Mereka merupakan pengguna sekaligus pengedar sabu-sabu di wilayah Kabupaten Ciamis.

Dari kedua tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa dua bungkus plastik bening berisi sabu-sabtu dengan berat bruto 1,01 gram yang dimasukkan ke dalam bungkus rokok mild. Selain itu, ada juga hand phone merek Samsung dan Oppo yang disita.

Akibat perbuatannya, DS dan GS dijerat pasal 114 ayat (1) jo pasal 112 ayat (1) pasal 127 ayat (1) huruf a UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancamannya hukumannya 4 tahun sampai 12 tahun penjara dan denda Rp 800 juta. “Kasus ini terus kita kembangkan dengan mengejar satu daftar pencarian orang (DPO) berinisial MK warga Bandung yang diduga sebagai pemasoknya,” ujar Bismo.

Berikutnya, polres meng­ungkap kasus penyalahgunaan obat-obatan hexymer. Pelakunya berinisial SR (39) asal Kecamatan/Kabupaten Pangandaran. Seorang nelayan tersebut berperan sebagai pengedar. Dari kasus ini, polisi masih memburu MJ asal Purwokerto yang diduga sebagai pemasok.

Barang bukti yang diaman­kan dari SR berupa empat bung­kus plastik klip ke­cil berisi 10 butir obat hexymer dengan jumlah kese­luruhan mencapai 40 bu­tir yang dimasukkan ke da­lam bungkus rokok. Dari pe­laku, polisi juga menyita uang tunai senilai Rp 150 ribu. “Atas perbuatannya pelaku melanggar pasal 196 jo pasal 198 UU RI No 36 Tahun 2009 ten­tang Kesehatan dengan an­caman pidana penjara 10 ta­hun dengan denda paling ba­nyak Rp 1 miliar,” katanya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.