Efek Corona, Peternak di Ciamis Makin Kesulitan

337
0
ISTIMEWA KESULITAN. Peternakan ayam petelur milik Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) Ade Kusnadi alias Akaw di Jalan Makam Gunung Galuh Kelurahan Sindangrasa, Ciamis.

CIAMIS – Wabah virus corona berimbas kepada perekonomian. Para peternak ayam pedaging dan petelur di Ciamis merasakannya. Telur kurang laku akibat daya beli masyarakat berkurang. Peternak ayam pedaging kesulitan menjual ayam, karena pembatasan aktivitas.

Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) Ade Kusnadi alias Akaw menjelaskan para peternak sangat merasakan dampak dari virus corona. Saat ini harga telur ayam dari peternak per kilogram Rp 21.500.

Baca juga : 13.036 Pemudik ke Ciamis Dalam Pemantauan

“Jadi telur dari peternak kurang laku karena faktor daya beli, dampak-dampak perekonomian, karena yang beli dari UMKM atau rumah makan,” ujarnya saat diwawancarai Radar, Minggu (5/4).

“Memang harga stabil tapi kami rasakan daya beli masyarakat yang berkurang,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Perhimpunan Perugunggasan Priangan Timur H Komar Hermawan menjelaskan akibat wabah corona, akibat pembatasan aktivitas fisik, terjadi penurunan omzet penjualan. Terutama di pasar-pasar. ”Yang punya pemotongan disimpan dibekukan, tapi kan itu terbatas karena takut kedaluarsa,” ujarnya. “Makanya terkadang dijual berapa saja asal laku saja,” bebernya.

Loading...

Saat ini, kata H Komar, harga ayam hidup dari peternak Rp 5.000 sampai Rp 6.000 atau Rp 7.000 dan paling mahal Rp 10.000 per kilogram,” jelas.

Sekarang ini, kata H Komar, para peternak sulit memasarkan ayam. Padahal ada sekitar 10.000 peternak di Ciamis.

“Sekarang sulit memasarkan yang peternak besar, apalagi peternakan rakyat,” bebernya.

Dengan kondisi tersebut, sekarang ini, kata H Komar, peternak banyak yang memiliki utang ke penyedia.

“Kita sekarang tinggal utang saja ke pabrik. Tidak terhitung,” paparnya.

Saat ini, kata dia, ayam yang terjual sekitar 30 persen dari produksi. Sisanya, ada sebagian kecil yang pihaknya simpan dan kebanyakan dijual seadanya. “Ada yang beli berapa pun dijual,” bebernya.

Baca juga : Pohon Kelapa Hancurkan Rumah Warga Sukadana Ciamis, Penghuninya Mengungsi

Dulu, kata dia, saat moneter 1998, ayam tidak laku, karena masyarakat tidak mempunyai uang. Kalau saat ini, uangnya ada, namun pengusaha susah menjual ayam karena masyarakat harus membatasi aktivitas.

“Intinya kami berharap kepada pemerintah cari solusi yang terbaik untuk peternak di Priangan Timur termasuk di Kabupaten Ciamis,” tuntasnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.