Eka: Pangandaran tak Bisa Hanya Sekadar Wisata Pantai, Harus Seperti Ini..

210
0

PANGANDARAN – Eka Kurniawan, penulis novel terkenal angkat bicara soal pariwisata di Kabupaten Pangandaran, daerah pesisir, tempatnya dibesarkan.

Menurut Eka, tantangan terbesar tempat wisata yaitu mempertahankan tingkat hunian wisatawan.

“Tantangan tempat wisata itu bagaimana mempertahankan pelancong agar mau lama, Jelas tak bisa mengandalkan obyek wisata belaka. Psikologi sebagian besar turis adalah, liburan. Ingin bersantai,” ujarnya.

Pria yang menghasilkan karya-karya novel terkenal itu bercerita pengalamannya mengunjungi tempat wisata.

Baca juga : Aquarium Raksasa di Pangandaran Segera Beroperasi

“Beberapa waktu lalu saya mampir ke Angkor Wat, sebentar saja, jadi mungkin tidak valid karena cuma transit dan liat-liat sedikit. Andalan mereka kan candi. Tapi kalau mau jujur, kualitasnya masih kalah dengan Borobudur dan Prambanan. Baik seni arsitektur/relief maupun kondisinya,” kata dia.

Lanjutnya, Angkor Wat saat ini masih dalam proses rekonstruksi, namun ada hal yang menarik, dimana wisatawan di sana betah berlama-lama.

“Padahal melihat candi cuma satu hari bisa selesai. Sama dengan kalau ke Pangandaran, lihat pantai, berenang, ke Green Canyon, bisa selesai sehari. Kenyataannya, memang banyak yang ke Pangandaran sehari saja,” ujarnya.

Dikatakan Eka, Kota Siam Reap, sebuah kota kecil yang menjadi tempat Angkor Wat berada dikunjungi banyak wisatawan asing.

“Turis bejibun disana. Saya melihat rahasia kecil, ada satu wilayah yang dinamakan Pub Street, berjejeran dengan Night Market dan Art Center, macam toko-toko sovenir sebenernya,” tutur Eka.

Tempat itu, kata dia, hanya hidup di malam hari. Jalan disana di-block sekitar jam 5 sore, kendaraan tidak boleh masuk. “Di sanalah turis hang-out. Makan dengan beragam kuliner, dari lokal hingga mancanegara, musik, atraksi jalanan seperti pengamen, anak muda yang memperlihatkan talenta dan tentu saja bar dan pub yang tak bisa dielakkan, karena itu memang salah satu kebutuhan turis,” ungkapnya.

Lanjut Eka, daya tarik seperti Pub Street ternyata bisa mempertahankan tingkat hunian wisatawan.

“Intinya, kalau ingin mempertahankan turis tinggal lebih lama, ya bikin mereka betah, dan merasa rileks. Melihat obyek wisata itu gampang dan cepat. Lihat Eifel cuma butuh satu-dua jam. Lihat Borobudur paling mentok tiga jam. Selebihnya turis pengin rebahan dan santai. Makan, tidur, hangout dan bergembira. Jika satu tempat tak menyediakan itu, mereka akan lari ke tempat lain yang menyediakannya,” ujar Eka sambil tertawa.

Hal yang sama juga terlihat di Bali, resort-resort juga tumbuh pesat untuk melayani wiaatawan kelas atas disana.

Dikatakannya, perjalanan ke Pangandaran sata ini dari Jakarta rata-rata mencapai 7 jam.
Itupun kalau menggunakan kendaraan pribadi dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

“Kalau membayangkan saya sebagai turis, saya akan mikir-mikir pergi ke Pangandaran untuk pelesir 1-2 hari saja. Istilahnya capek di jalan,” ujarnya.

Perjalanan panjang yang hampir sama dengan Jakarta-Tokyo atau Jakarta-Seoul itu idealnya menginap 4 malam atau satu minggu.

“Nah, masalahnya mau ngapain selama 4-7 hari di Pangandaran? Apa yang bisa bikin turis betah? Buat sebuah kota wisata dan industrinya “lenght of stay” merupakan kunci. Jika itu sudah bisa diatasi, tantangan kedua adalah manajemen “high” dan “low season”.
Saya belum melihat banyak tempat. Tapi, sejauh yang saya lihat, cuma Bali dan Yogya yang sudah siap,” ungkapnya.

(nana suryana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.