Ekonomi RI Tumbuh Sementara

16
0

JAKARTA – Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Sabtu (29/6), mampu meredakan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Hal ini karena AS sepakat untuk tidak memberlakukan tarif dagang baru untuk China.

Tentu saja, turunnya tensi di antara kedua negara tersebut, berdampak positif bagi perekonomian di dunia, termasuk untuk Indonesia. Menyikapi meredanya perang dagang AS dan China, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah menilai pertumbuhan ekonomi Tanah Air hanya bersifat sementara. Sebab hanya menghasilkan kesepakatan tidak mengenakan tarif baru saja.

“Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dari kesepakatan AS-China yang lalu. Kesepakatan itu menurut saya hanya meredakan ketegangan saja. Karena hanya berupa kesepakatan tidak mengenakan tarif baru. Tapi tarif yang sudah dinaikkan tidak akan dikurangi. Artinya perang dagang sesungguhnya masih berlangsung,” kata Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN) Minggu (30/6).

Namun demikian, lanjut dia, setidaknya ada kepastian dalam jangka pendek perang dagang tidak tereskalasi lagi. Jadi cukup positif walau hanya sementara. “Dampaknya terhadap pasar keuangan rupiah juga demikian (hanya sementara) akan positif tetapi tidak akan cukup besar. Masih akan bisa dipengaruhi faktor-faktor lain,” ujar Piter.

Menurut Pieter, dampak dari kesepakatan yang hanya ‘menunda’ pengenaan tarif baru itu bagi Indonesia sesungguhnya tidak terlalu besar. “Sebab kita bukan negara manufaktur yang bergantung kepada ekspor. Ekspor kita juga kebanyakan adalah barang-barang komoditas,” ucap dia.

Lanjut Pieter, dampaknya akan besar jika kesepakatan itu benar-benar menghentikan perang dagang atau membatalkan semua kenaikan tarif yang sudah dilakukan oleh kedua belah pihak. “Dengan demikian perekonomian global bisa diharapkan kembali booming dan meningkatkan volume dan harga barang-barang komoditas. Itu yang kita harapkan sehingga neraca perdagangan kita bisa surplus kembali,” tutur dia.

“Perang dagang masih tetap berlangsung. Hanya memberikan sedikit good news bahwa perang dagang tidak teresklasi lagi. Itu yang saya kira berdampak ke investor khususnya di pasar keuangan. Tapi tidak atau belum memberikan gambaran yang lebih pasti akan arah ke depan. Perekonomian global masih dalam ketidakpastian,” sambung dia menjelaskan.

Senada dengan Pieter, pengamat ekonomi Bhima Yudhistira melihat meredanya perang dagang AS dan China hanya sementara. Bahkan, menurut Bhima, tidak menutupkemungkinan Presiden Donald Trump kembali menyerang China. “Efeknya hanya sementara saja, karena Trump bisa jadi berbalik arah dan menyerang China lagi, jika isi kesepakatan berikutnya tidak sesuai harapan AS,” kata Bhima.

Di sisi lain, dia memperkirakan ekspor akan membaik sehingga defisit perdagangan bisa berkurang. Dengan demikian, adanya perbaikan pada pertumbuhan ekonomi. “Juga ada perbaikan pada stabilitas kurs rupiah dan pendapatan masyarakat khususnya di komoditas,” ujar Bhima.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto meminta pemerintah untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mendorong investor asing. “Indonesia harus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan investasi agar target pertumbuhan dapat dicapai,” ujar dia kemarin (30/6).

Apalagi saat ini rating investasi tengah naik. Karenanya pemerintah harus bekerja keras mengoptimalkan laju keuangan investor asing di Indonesia. “Perlu dioptimalkan berbagai capaian yang diapresiasi investor internasional agar ekonomi tidak terus menerus tumbuh di level moderat 5 persen,” pungkasnya. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.