Eks Setda Jadi Lahan Parkir Cocok

79
0
PEMANFAATAN ASET. Pemkot dan Pemkab Tasikmalaya mewacanakan kerja sama pemanfaatan eks setda di Jalan Mayor Utarya sebagai sarana parkir kendaraan dan PKL. Firgiawan / Radar Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Pengamat sosial, politik dan pemerintah Tasikmalaya, Asep M Tamam menilai rencana pemanfaatan eks setda lama di Jalan Mayor Utarya untuk lahan parkir dan pedagang kaki lima (PKL) sudah tepat. Luas lahan sekitar satu hektare itu bisa menjadi alternatif penataan kota.

“Memang memilih eks setda atau kantor bupati lama itu pilihan terbaik. Hanya saja harus dikonsep dengan serius oleh pemkot apabila tujuan utamanya untuk penataan,” ujar Asep kepada Radar, Jumat (9/8).

Menurutnya, apabila Pemkot dan Pemkab Tasikmalaya berencana membangun area parkir dan lahan bagi penataan PKL, otomatis memerlukan waktu bertahun-tahun. Apalagi jika mengandalkan anggaran daerah. Sebab, diprediksi dalam menampung PKL dan sarana parkir untuk mengakomodir mobilitas kendaraan yang biasa parkir di HZ Mustofa, tentu membutuhkan lebih dari dua lantai gedung. “Kecuali apabila dipihakketigakan seperti yang dikatakan pemkab. Ini saya kira akan menelan dana besar dan waktu yang lama apabila mengandalkan APBD saja,” kata Asep.

Dosen Institut Agama Islam Cipasung itu juga menyebutkan, relokasi PKL dari HZ Mustofa ke eks setda cukup akomodatif. Relokasi tersebut akan menjadi hal positif. “Terbayang di HZ kalau tertib, disiplin dan nyaman. Jangankan wisatawan kita juga betah mungkin, tidak seperti sekarang,” tuturnya.

Adapun mengenai pemanfaatan eks setda menjadi lahan parkir yang harus dikaji dulu karena sarat nilai historis sebagaimana anggapan DPRD, menurut Asep, itu sah-sah saja. Hanya saja, Kota Resik ini sudah harus ditata sebelum arus investasi semakin tinggi serta warga yang berdatangan dari luar semakin deras dan sulit diatur. “Sebab, penataan HZ Mustofa menggunakan eks setda adalah usulan beragam kalangan masyarakat. Solutif dan pro kepentingan masyarakat luas,” kata dia.

“Memang secara historis, itu adalah tempat yang memiliki dimensi sejarah, tapi levelnya seperti gedung DPRD kabupaten yang sekarang menjadi Taman Kota. Justru yang memiliki sejarah dengan level tinggi ya Tugu Adipura,” selorohnya.

Pengunjung Taman Kota, Arfan Arrahman (32) mendukung rencana pemkot membuat lahan parkir khusus. Sebab, pada jam tertentu di HZ Mustofa kerap macet dan sulit mendapatkan lahan parkir. “Gerobak PKL juga kerap memakan badan jalan. Sudah seperti kota besar saja, padahal belum begitu besar,” katanya.

Pengunjung lainnya, Ina Nurfauziyah (27) mendambakan HZ Mustofa bisa menyerupai Jalan Malioboro Yogyakarta dengan pedestrian yang luas untuk berlalu-lalang. “Ya kalau pun mau ada PKL juga asal ruang pejalan kakinya lebih luas dan leluasa. Apalagi ada jalur khusus sepeda atau pejalan kaki kan lebih bagus,” ucapnya. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.