Simpan Potensi Perikanan Tangkap Melimpah

Ekspedisi Radar Tasikmalaya Susur Selatan Jabar (6)

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Harapan masyarakat nelayan di pesisir Kabupaten Tasikmalaya untuk memiliki infrastruktur yang baik sangatlah logis. Garis pantai dan wilayah perairannya sangat luas ternyata merupakan salah satu daerah penangkapan ikan (fishing ground) potensial.

Tak heran, perairan Tasikmalaya selatan menjadi buruan para nelayan dari berbagai daerah.

Laporan : NANA SURYANA

Sayangnya, potensi ini ternyata belum tergali secara optimal dan memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat pesisir di sana. Padahal pesisir selatan Tasikmalaya memiliki panjang garis pantai mencapai 54,5 km. Luas daerah

penangkapan ikan atau fishing ground-nya mencapai 306 km2. Wilayah pesisir juga mencakup tiga kecamatan yang n luas total wilayah kelautan sekitar 200,72 km2 atau 7,41 persen dari luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Jika mampu dimanfaatkan, itu salah satu jalan menuju kemakmuran.

Namun, pesisir pantai Tasikmalaya selatan masih minim lokasi pendaratan nelayan. Sehingga banyak nelayan setempat memilih merantau ke wilayah lain, seperti Kabupaten Pangandaran.

Dalam perjalanan ekspedisi jalur selatan Jawa Barat, di wilayah pesisir Kabupaten Tasikmalaya ini tidak begitu terlihat kesibukan aktivitas nelayan. Padahal, menurut data Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya di website resminya, jumlah nelayan di sana mencapai 3.853 orang.

Kemanakah para nelayan? Apakah masih mengarungi Samudera Hindia atau beralih profesi lain? Radar berkesempatan berbincang dengan  Ketua Rukun Nelayan Cimanuk yang juga sebagai Wakil Ketua FKKUB Perikanan Tangkap Kabupaten Tasikmalaya Jajang Rahmat.

Tokoh nelayan ini begitu semangat saat bercerita potensi perikanan tangkap di wilayahnya. Namun, ia juga menyimpan harapan besar terkait pelabuhan pendaratan ikan di wilayah pesisir Kabupaten Tasikmalaya. “Kalau berbicara perikanan

tangkap, laut di wilayah kita ini sangat potensi sekali. Puluhan ton setiap tahunnya. Bahkan nelayan di wilayah lain juga banyak menangkap ikan di perairan kita,” ungkapnya.

Namun demikian, saat ini dirinya malah merasa seolah-olah menjadi penonton. “Saya kadang mengelus dada, hanya melihat dari daratan nelayan dari wilayah lain melaut di perairan kita, apalagi kalau malam hari lampu-lampu dari perahu keliatan,” ujarnya.

Lebih lanjut, disampaikan Jajang, nelayan di wilayah Pantai Cikalong dan sekitarnya selama bertahun-tahun memiliki kendala melaut. Karakteristik pantainya yang berombak besar membuat nelayan harus ekstra keras menembus ombak saat akan melaut.
“Harus benar-benar yang berani. Karena sangat berisiko. Wilayah kita merupakan wilayah lepas pantai berombak besar. Sangat berbahaya untuk nelayan yang menggunakan perahu kecil,” ujarnya.

Karena kondisi tersebut, saat ini banyak nelayan akhirnya “hijrah” ke wilayah lain demi keamanan melaut. “Banyak yang melautnya pindah ke Muaragata atau Batukaras (Pangandaran, Red). Di sana lebih aman untuk melaut,” kata dia.

Di Pantai Cimanuk sendiri ada sekitar 50 perahu. Namun saat ini lebih dari 35 perahu melaut di wilayah Kabupaten Pangandaran. “Dengan melaut di wilayah lain, akhirnya hasil tangkapan pun dijual di sana sesuai kearifan lokal, otomatis PAD (pendapatan asli daerah, Red) sektor kelautan juga masuk ke sana,” ungkapnya.

Di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kata dia, nelayan hanya mengandalkan pelabuhan pendaratan ikan di Pantai Pamayangsari. “Hanya di sana ada pelabuhan pendaratan ikan. Aktivitas TPI (Tempat Pelelangan Ikan) masih berjalan di sana menghasilkan PAD. Kalau di Cimanuk sudah terhenti. Nelayan yang melaut tinggal beberapa perahu saja,” ungkapnya.

Jajang menyakini jika pelabuhan pendaratan ikan Cimanuk selesai dikerjakan, maka aktivitas nelayan akan kembali bergeliat.

“Sudah dua tahun ini pembangunannya terhenti. Katanya tidak ada anggaran. Padahal sudah sekitar enam puluh persen, tinggal pengerukan di lambung pelabuhan,” ungkapnya.

Keberadaan pelabuhan di Cimanuk sangat dinanti nelayan. Karena dianggap menjadi solusi untuk menjaga keamanan nelayan saat melaut.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran Fuad Husen mengatakan masalah yang dihadapi nelayan di pesisir selatan Jawa Barat memang terkait infrastruktur dan alat tangkap. Apalagi, nelayan-nelayan yang berada di wilayah lepas pantai seperti nelayan pesisir Tasikmalaya.

“Memang benar nelayan-nelayan di pesisir Tasikmalaya, bahkan dari Pameungpeuk Garut ada yang akhirnya bersandar di wilayah kita (Pangandaran, Red). Karena terlalu berbahaya di wilayah mereka untuk melaut,” ujarnya.

Topografi di wilayah Kabupaten Pangandaran berbeda karena banyak daerah teluk sehingga lebih aman bagi nelayan.
“Bagi kita tidak masalah nelayan mana pun bebas bersandar. Memang ada kearifan lokal, yaitu menjual hasil tangkapan di wilayah tempatnya melaut,” tuturnya.

Menurut Fuad, perairan wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan zona penangkapan ikan. “Di sana ada palung raksasa, yang menjadi habitat ikan-ikan besar. Tuna banyak di sana. Selain itu, lobster juga banyak. Potensi perikanannya sangat bagus,” ungkapnya. (bersambung)

loading...