Beranda Susur Jabar Selatan Ekspedisi Radar Tasikmalaya Susur Selatan Jabar (8)
Hutan Sancang, dari Budak Angon Hingga Potensi Geopark Dunia

Ekspedisi Radar Tasikmalaya Susur Selatan Jabar (8)

141
BERBAGI

Melanjutkan kembali perjalanan menyusuri pantai selatan Jabar. Jalanan mulai menanjak dan berliku selepas dari pesisir Pantai Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya menuju ke arah pesisir Kabupaten Garut.

Laporan. Nana Suryana

Hamparan pegunungan di tepi pantai membuat suasana berbeda, tak kalah eksotis dengan pemandangan pesisir pantai yang dilewati sebelumnya.

Selanjutnya, perjalanan membelah perkebunan karet yang dikelola PTPN VIII. Kondisi jalan masih sangat baik, namun semakin sepi dari lalu lalang kendaraan hingga memasuki wilayah kawasan Hutan Sancang di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Memiliki luas sekitar 2.300,19 hektar, hutan ini termasuk kawasan cagar alam yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat.

Cagar alam hutan atau dikenal masyarakat Sunda Leuweung Sancang ini telah lama dicetuskan menjadi salah satu situs warisan dunia. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati dengan plasmanutfah langka yang masih terjaga di dalamnya. Namun sayangnya, hingga saat ini keinginan tersebut belum terealisasi. Bahkan, kalah pamor dengan Ciletuh di Kabupaten Sukabumi yang sudah semakin dikenal menjadi kawasan geopark dunia dan menjadi destinasi menarik.

Konsep pengembangan kawasan wisata alam dengan prinsip konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata memang menjadi perhatian masyarakat dunia. Kawasan Hutan Sancang sendiri memiliki potensi ke arah itu. Namun sepertinya butuh komitmen kuat jajaran pemerintah daerah, masyarakat serta pemerintah pusat.

Sebagian Hutan Sancang berada di tepi pantai menghadap Samudera Hindia yang tampak tak bertepi saat dipandang. Ekosistem hutan tropis Sancang masih sangat terjaga. Beragam flora dan fauna hidup secara alami. Hutan Sancang juga memiliki kawasan hutan bakau dan sejumlah aliran sungai.

Beberapa flora yang tumbuh di hutan Sancang diantara berbagai jenis kayu keras. Menariknya, ada tumbuhan langka yang tumbuh di sana yakni Palahlar, Kaboa dan Meranti merah, tanaman langka.

“Tumbuhannya sangat khas, bahkan di pulau jawa, jenis tumbuhan Meranti Merah hanya ada di hHutan Sancang, tidak ada lagi,” tutur Engking, petugas BKSDA Jawa Barat yang sudah bertahun-tahun bertugas di wilayah tersebut.

Sementara flora yang hidup di Hutan Sancang diantaranya owa, lutung, monyet, merak, tupai, jeralang, kucing hutan, berbagai jenis burung dan hewan hutan pada umumnya.

Di kawasan Hutan Sancang juga ada aktivitas menarik yang sudah berjalan turun temurun, yakni pengembalaan liar sapi dan kambing. Sehingga, pengendara yang melintas disana harus meningkatkan kewaspadaan, karena sewaktu-waktu bisa

menemukan sapi atau kambing melintasi jalanan. Terkadang datang secara bergelombang bersama pengembala sapi yang biasa disebut Budak Angon. Sebaiknya, memacu kendaraan dengan kecepatan lambat.

Saat Radar melintas, beberapa kali harus mengurangi kecepatan berkendara karena berpapasan dengan gerombolan sapi yang sedang di gembala. Akhirnya, memutuskan untuk beristirahat sambil berbincang dengan seorang budak angon.

Namanya Komar (38), warga Cukang Jambe Desa Sancang Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Ia mengaku sudah menjadi budak angon sejak usia remaja. Setiap hari, ia bergiliran bersama temannya menjaga puluhan ekor sapi.

“Ini bukan sapi saya, hanya mengembala saja, sebulan saya dibayar enam puluh ribu per ekor,” ungkapnya.
Sistem pemeliharaan ternaknya unik, sapi-sapi tersebut dibiarkan hidup dan mencari makan secara liar di hutan. Bahkan, tidak ditempatkan di kandang seperti ternak pada umumnya. “Dibiarkan alami saja, makan rumput di hutan, tidur sampai beranak di hutan, kita cuma jagain aja,” ujarnya.

Menariknya, para budak angon tersebut terkadang jarang bertemu dengan pemilik sapi. “Saling percaya saja, juragan saya bahkan jauh dan gak begitu kenal dekat sebelumnya, bayar ke saya pun tiap bulan cukup transfer, paling ketemu waktu mau ngambil sapi aja setahun sekali, kalau gak pas lagi dia butuh uang mau jual sapi,” kata dia.

Jika sapi-sapi tersebut beranak, tetap akan menjadi milik sang juragan sapi tersebut. Budak angon sendiri mendapatkan uang dari hitungannya biaya pemeliharaan sebesar Rp 60 ribu per ekor per bulan.

Komar mengaku menikmati profesi tersebut, menurutnya penghasilan dari jasa pemeliharaan sapi di alam liar sudah cukup untuk menghidupi keluarga. Dikatakannya, menjaga sapi tidak mudah, terkadang ia harus keluar masuk hutan mencari sapi yang tersasar.

“Biasanya sapi baru yang suka nyasar ke dalam hutan, tapi rata-rata Alhamdulillah bisa ketemu lagi, tapi yang paling ditakutkan sekarang ini sudah mulai banyak pencuri ternak, makanya dijagain siang malam di hutan,” ungkapnya.

Ia mengaku sudah biasa tinggal di hutan, sehingga tidak kesulitan saat menjaga puluhan sapi ternak. (bersambung)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.