Ekspor Mobil CBU Naik 6,6 Persen

25
0
Loading...

SURABAYA – Pasca perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok ternyata berimbas positif pada pelaku usaha di Indonesia, khususnya otomotif. Di saat negara adidaya saling menaikkan tarif impor, negara kaya mineral seperti Indonesia diuntungkan karena menjadi sasaran basis produksi.

Hal itu diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Opening Ceremony Gaikindo GIIAS 2019 di Surabaya Jawa Timur Jumat (29/3). Menurutnya, pengoptimalan komponen lokal yang semakin meningkat membuat produksi otomotif dalam negeri tidak terimbas dalam perang dagang kemarin. “TKDN ini yang menjadi kunci keberhasilan dari sektor industri otomotif nasional, yang diharapkan mampu menjadi hub bagi pasar ASEAN bahkan di tingkat Asia,” jelasnya

Airlangga mengatakan hal itu tercermin dalam capaian ekspor mobil Indonesia mencapai 346 ribu unit atau setara USD 4,78 miliar pada tahun 2018. “Tahun kemarin, ekspor mobil CBU sudah menyentuh di angka 264 ribu unit dan yang bentuk CKD sekitar 82 ribu unit, sehingga total menembus 346 ribu unit. “Tahun ini ditargetkan bisa menembus 400-450 ribu unit,” ungkap Airlangga.

Diketahui Gaikindo mencatat volume ekspor mobil CBU Indonesia mencapai 264.553 unit pada 2018 atau naik 14,4 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 231.169 unit. Kenaikan juga dialami ekspor komponen yang tercatat di angka 86,6 juta pcs pada 2018 atau tumbuh 6,6 persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 81,2 juta pcs. “Capaian produksi kendaraan roda empat atau lebih pada tahun 2018 yang menembus hingga 1,34 juta unit atau setara USD 13,76 miliar. Kalau pasar domestik, kita lebih unggul dari Thailand. Kami menargetkan produksinya nanti bisa mencapai 1,5 juta unit pada tahun 2020,” tutur Airlangga.

Saat ini industri otomotif di Indonesia telah berkembang menjadi basis produksi kendaraan jenis MPV, truck dan pick up yang pengembangannya diarahkan untuk meningkatkan ekspor ke pasar global dengan target besarnya sebagai pemasok kendaraan jenis sedan dan SUV. “Kami juga mendorong agar manufaktur-manufaktur otomotif dalam negeri dapat merealisasikan program pengembangan kendaraan rendah emisi atau LCEV,” imbuhnya.

Loading...

Melalui program tersebut, ditargetkan tahun 2025 kendaraan berbasis energi listrik mencapai sekitar 20 persen. “Industri otomotif nasional sebagai salah satu sektor andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0, yang ditargetkan pada tahun 2030 dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle untuk pasar domestik dan ekspor,” paparnya. (rls/fin/tgr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.