Ekspor Naik 11,71 Persen

8

JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kenaikan ekspor Indonesia sebesar 11,71 persen. Angka ekspor sepanjang bulan Maret 2019 dinilai surplus dengan total produk mencapai USD 14,03 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto me­ngatakan Jika di­bandingkan dengan nilai impor, maka transaksi perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 0,54 miliar atau USD 540 juta.

“Total nilai impor kita mencapai 13,49 miliar dollar AS atau naik 10,31 persen dibanding Februari 2019, turun 6,76 persen bila dibanding Maret 2018. Kalau dibandingkan dengan nilai ekspor, ada surplus USD 540 USD,” katanya saat jumpa pers di kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (15/4).

Jika dirinci, pencapai total nilai ekspor sebesar 14,03 miliar dollar AS itu disebabkan oleh meningkatnya ekspor non migas 13,00 persen, yaitu dari 11.445,7 juta menjadi 12.933,6 juta. Sedangkan ekspor migas turun 1,57 persen dari USD 1.110,2 juta menjadi USD 1.092,8 juta.

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 10,44 persen menjadi 82,4 juta dollar AS dan ekspor minyak mentah 23,37 persen menjadi 120,3 juta dollar AS, sementara ekspor gas naik 3,35 persen menjadi USD 890,1 juta dollar AS,” ungkap Suhariyanto.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2019 terhadap Februari 2019, menurut Kepala BPS, terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD 401,3 juta dollar (24,21 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan dan permata 31,8 juta dollar AS (4,84 persen).

“Komoditas lainnya yang juga meningkat nilai ekspornya adalah besi dan baja USD 186,7 juta atau naik sebesar 40,38 persen, kemudian bijih, kerak dan abu logam sebesar USD 162,9 juta atau naik 110,41 persen,” bebernya.

Sementara komoditas yang menurun selain perhiasan/permata adalah ampas/sisa industri makanan 27,3 juta dollar AS (38,12 persen); benda-benda dari besi dan baja 9,6 juta dollar AS (9,81 persen); lokomotif dan peralatan kereta api 8,2 juta dollar AS (76,55 persen); serta garam, belerang, kapur 6,2 juta dollar AS (18,30 persen).

Disinggung mengenai realisasi nilai impor Indonesia sepanjang 2019, menurut Suhariyanto, mencapai 13,49 miliar dollar AS atau naik 10,31 persen dibanding Februari 2019. Namun bila dibandingkan Maret 2018 turun 6,76 persen.

“Dari total angka tersebut, impor nonmigas Maret 2019 mencapai 11,95 miliar dollar AS atau naik 12,24 persen dibanding Februari 2019 dan turun 2,29 persen jika dibanding Maret 2018. Impor migas Maret 2019 mencapai 1,54 miliar dollar AS atau turun 2,70 persen dibanding Februari 2019,” jelas Suhariyanto.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2019 dibanding Februari 2019, menurut Kepala BPS itu, adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar 11,2 juta dollar AS (17,04 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar 47,8 juta dollar AS (67,32 persen).

“Tiga negara pemasok barang impor nonmigas ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD 10,42 miliar dollar AS (29,01 persen), Jepang 3,97 miliar dollar AS (11,05 persen), dan Thailand 2,42 miliar dollar AS (6,75 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,21 persen, sementara dari Uni Eropa 8,37 persen,” tandasnya. (fin/tgr)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.