Ekspor Udang Ditargetkan Rp 40,8 T

26

JAKARTA – Hingga akhir tahun 2018, ekspor perikanan menunjukkan hasil yang positif. Salah satunya, ekspor udang yang masih menjadi primadona ekspor yang mencapai volume 180.000 ton, atau mencapai US$1,8 miliar.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan mencapai US$5 miliar atau naik 10% dari tahun 2017 yang sebesar US$4,52 miliar.

Tahun depan, KKP menargetkan nilai ekspor udang bisa mencapai US$2,8 miliar atau setara Rp 40,8 triliun dari sebelumnya US$1,8 miliar.

“Target kami bisa meningkatkan ekspor udang agar nilainya mencapai US$2,8 miliar untuk dua atau tiga tahun ke depan,” kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto.

Untuk mencapai target tersebut, dia menjelaskan, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP untuk meningkatkan produksi udang budidaya dalam negeri.

“Agar bisa mencapai nilai ekspor udang sebesar US$2,8 miliar, kita membutuhkan tambahan volume ekspor udang sebesar 100.000 ton,” ujar dia.

Adapun untuk pangsa pasar yang akan dilirik masih di Amerika Serikat (AS), disusul di negara Eropa. Sekadar diketahui, di AS ekspor udang dari Indonesia merupakan yang terbesar kedua setelah India.

“Selama ini produksi udang budidaya merupakan penyumbang terbesar ekspor udang nasional yang mencapai 80% dari sisanya dari perikanan tangkap,” ungkap dia.

Dia melanjutkan, selain menggenjot produksi udang, KKP juga akan meningkatkan produksi ikan lainnya seperti tuna yang di mana masuk di urutan kedua terbesar penyumbang ekspor, kemudian cakalang dan ikan tongkol di urutan kelima.

“Dan, rumput lain di urutan keenam dari segi nilai ekspor, tetapi kedua dari segi volume,” tuturnya.

Pakar Kemaritiman Rokhmin Dahuri mengatakan, target ekspor US$2,8 miliar yang dibuat KKP dinilai masih realistis. Hanya saja, target tersebut dinilai masih kekecilan. “Seharusnya US$4 miliar,” ujar dia saat dihubungi Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (12/12).

Menyoal untuk memenuhi target tersebut, KKP menggandeng pembudidaya udang memang sudah seharusnya dilakukan sejak dahulu.

“Iya, seharusnya sejak awal seperti itu. Karena memang potensi ekonomi dari perikanan budidaya 10 kali lipat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya.

Sementara, Pakar Perikanan Tangkap Nimmi Zulbainarni meragukan target KKP tercapai untuk ekspor udang di tahun 2019 senilai US$2,8 miliar. Alasan dia, selama ini Menteri Susi Pudjiastuti telah melakukan pembatasan perikanan tangkap terutama untuk udang.

“Tapi kalau untuk budidaya udang kan harus tambahan modal. Jadi harus pengembangan modal. Rasa-rasanya program Ibu Susi belum mendengar budidaya udang deh,” katanya.

Dia berpesan, nantinya tidak bernasib seperti budidaya baramudi (kakap putih) di Pangandaran, Karimunjawa dan Sabang. Selain karena lokasinya kurang tepat, juga alat keramba jaring apung (KJA) yang tidak berkualitas.

“Nantinya zonasi disusun, diatur sesuai untuk lahannya. Jadi jangan di lahan yang ombaknya besar seperti Pangandaran. Karena tidak menempatkan sesuatu yang tepat sehingga menjadi gagal,” pungkas dia. (din/fin)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.