Empat Tahun Memimpin, Jokowi Tak Pedulikan Kaum Marjinal

16

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama berkuasa di negeri ini hadir tanpa perasaan, tanpa peduli terhadap kaum marjinal dan orang-orang miskin.

Pengamat politik dan aktivis kemanusiaan Natalius Pigai mengatakan hal di atas dikuatkan dengan bertambahnya pundi-pundi orang kaya sebesar 10% per-tahun.

Sedangkan pengusaha tumbuh 3% dan orang miskin hanya turun 1 digit. Padahal negara telah habiskan uang rakyat Rp 8 ribu triliun APBN.

“Bukankah pembangunan infrastruktur, jalan, jembatan dan lain-lain yang selama ini disebutkan membutuhkan dana sampai triliunan rupiah. Presiden menggunakan otoritas melalui kontraktor pemerintah,  kemudian dengan diam-diam menggandeng kontraktor swasta dengan penunjukan langsung. Memang berkuasa itu enak, mumpung berkuasa. Aji mumpung dan Itulah kekuasaan, dengan berkuasa secara leluasa bernafsu memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya, sanak saudaranya, koleganya  dan masa depan kariernya,” kata Natalius Pigai kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (23/10).

Pigai menyebutkan ada benarnya jika seorang Inggris bernama Lord Acton menyatakan kekuasaan itu cenderung korup.

Sehingga mau melakukan korupsi secara mutlak (Power tends to corrupts and will corrupts absolutely).

Namun  Pigai menegaskan sangat menghormati bangsa ini yang masyarakat masih anonim dalam berpolitik.

Ia menambahkan sebagaimana pengamat politik berkebangsaan Australia, Herber Feith pernah sampaikan kondisi pemilih di tahun 1955 dan saat ini hanya terjadi perubahan pemerintahan dan sistem politik.

Sementara mayoritas masyarakat masih stagnan dan belum melek politik, sehingga timbul kelompok solidaritas nekat, solidaritas buta, militan dan cenderung fanatis.

“Kelompok tersebut yang sangat nampak saat ini adalah kelompok pendukung Jokowi, pendukung Ahok, pendukung Mega, pendukung Luhut, pendukung penguasa. Para punggawa politik mereka oleh para pendukung dianggap sebagai titisan dewa. Di mana kata-kata  dan perbuatan tokoh-tokoh  tersebut benar semua dihadapkan pendukung fanatik ini. Bahkan kata-kata dan nasihat atau perintah mereka dianggap titah dewa, Devine Right of the King, seperti yang pernah praktikan Raja Jhon di Inggris abad 15 pada masa monarki absolut,” kata Pigai.

Ia menambahkan sudah 4 tahun pasangan Jokowi-Jk memimpin negeri ini, berbagai sandiwara dipertontonkan para Jokowier.

Mereka mengklaim diri sebagai pemilik kekuasaan, mampu mengontrol otoritas negara, orang dekat kekuasaan.

Pola pikir pongah dan bedebah yang dipertontonkan ke publik sebagai pedagang pengaruh (Trading in influences).

“Bayangkan berbagai kasus suap dan korupsi yang merusak bangsa sebagian besar dilakukan karena memanfaatkan atau memperdagangkan pengaruh. Menjual nama pejabat, kedekatan dengan pejabat dan bahkan sanak saudaranya, ” katanya Pigai.

“Di saat yang sama selama 4 tahun juga menyerang para oposisi secara babi buta tanpa perasaan, tanpa berperikemanusiaan. Menyerang oposisi dengan berbagai  kata-kata rendahan berbagai bentuk kekerasan verbal. Penyebutan monyet dan gorila oleh Jokowier kepada lawan politiknya, suatu tindakan yang relevan hanya dilakukan Simbol manusia tidak bernilai dan berbudaya karena cenderung diskriminatif dan rasialis,” tandasnya.

(NAL/FIN)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.