Enam Warga Wafat, Jembatan di Cipatujah Putus

183

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Ben­cana terus meng­hampiri Indo­nesia. Kali ini, hu­jan deras yang meng­guyur Kabu­paten Ta­sikmalaya me­nyebabkan banjir dan longsor di Kecamatan Cipatujah, Karangnunggal dan Culamega, Selasa (6/10). Akibatnya enam warga meninggal dunia, dan jembatan penghubung Tasik-Garut roboh.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya Wawan Ridwan Effendi menjelaskan dari data sementara hingga pukul 22.00 diketahui sebanyak enam warga meninggal dunia (selengkapnya lihat di grafis).

”Dari hasil evakuasi kami, baru enam warga yang diketahui meninggal dunia,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Pihaknya pun hingga kini terus melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan bagi warga bersama Basarnas, TNI, Polri, Tagana, FKPPI, FAJI dan masyarakat sekitar. ”Semua personel kita terjunkan ke lokasi, untuk menyisir khawatir ada warga yang kembali meninggal,” terangnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Abdul Kodir menjelaskan hujan secara terus menerus sejak Senin malam (5/11) sampai Selasa (6/11) pagi menyebabkan banjir dan jembatan Pasanggrahan sepanjang 108 meter dengan lebar 6 meter putus tepatnya di Desa Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan yang menghubungkan pesisir Tasikmalaya dan Garut Selatan tersebut putus total akibat terbawa arus sungai di bawahnya.

“Akibat hujan deras dan banjir, jembatan Cipatujah-Ciandum putus terbawa arus sungai. Jalur Selatan Tasikmalaya menuju Garut putus. Kita sudah terjunkan tim BPBD ke lokasi kejadian,” ujar yang ditemui usai meninjau lokasi bencana kemarin.

Selain itu, kata Kodir, puluhan rumah di Culamega, Karanunggal dan Cipatujah tergenang banjir akibat luapan sungai. Sebab kondisi laut sedang pasang dan arus air di Sungai Pasanggrahan besar mengalir ke muara dan kembali lagi ke sungai. Hal itu, menyebabkan air meluber ke permukiman dan menyebabkan banjir. “Sementara kami mencatat kurang lebih ada 50 rumah yang tergenang banjir di Kampung Jajawan, Cipatujah,” paparnya.

Menurut Kodir, dengan robohnya jembatan tersebut membuat Desa Ciandum, Ciheras, Pameutingan, dan Sukahurip terisolir. “Tidak ada jalan alternatif kecuali berputar ke Garut, sehingga otomatis aktivitas warga terhenti,” papar dia.

Sementara untuk jumlah rumah yang terendam, kata dia, belum bisa memastikan. Karena masih didata, sebab pihaknya kesulitan berkoordinasi lantaran jaringan komunikasi putus dan listrik mati. “Sejak malam listrik padam,” katanya.

Koordinator lapangan (korlap) relawan BPBD Kecamatan Cipatujah Rahmat Saputra menyatakan pihaknya menemukan dua korban dalam kondisi tak bernyawa di Sungai Desa Nagrog. Jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan. “Memang saat ditemukan terbawa air sungai,” papar dia.

Etih (44), warga Ciandum menyebutkan robohnya jembatan itu sekitar pukul 03.00 setelah hujan deras pada Senin (5/10). “Saat roboh seperti suara gempa,” ujar dia.

Saat itu, terang dia, luapan Sungai Ciandum sangat tinggi hingga lebih dari 10 meter dari bibir sungai. “Memang ini yang paling besar airnya yang saya ketahui,” tuturnya.

Kondisi Alam Rusak

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya Drs Erry Purwanto MSi menilai kondisi alam yang sudah rusak, menjadi faktor utama terjadinya bencana banjir dan longsor di Cipatujah.

“Dimana sekarang, bukit-bukit di hulu sungai sudah gundul. Yang mengakibatkan air tumpah masuk ke sungai, sehingga banjir bandang,” ujarnya usai meninjau langsung lokasi banjir bandang di Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya kemarin.

Menurut Erry, dari hasil koordinasi dengan unsur terkait dan aparat di Cipatujah, banjir mengalir sangat deras mulai dari hulu hingga muara di Pantai Cipatujah. Ditambah saat itu kondisi laut di Samudara Indonesia sedang posisi rob. Pertemuan antara air yang mengalir dari sungai dan laut, mengakibatkan air meluap hingga melewati batas lantai jembatan.”Karena air sangat besar, akhirnya menabrak tiang penyangga hingga menyebabkan ambruk,” ungkapnya.

Adanya bencana ini, kata Erry, harus menjadi evaluasi semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Bahwa kondisi alam di Kabupaten Tasikmalaya sudah banyak yang rusak. ”Ini sebuah peringatan untuk menyadarkan kita semua,” paparnya.

Untuk itu, dia meminta Pemkab Tasikmalaya segera melakukan koordinasi dengan Basarnas dan pihak lain dalam upaya pemulihan. “Kita harap ada penanganan cepat dari pemerintah baik daerah, provinsi maupun pusat atas bencana ini,” tandasnya.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tasikmalaya Mamik M Fuadi ST MT menjelaskan jembatan dan jalan di Desa Ciandum Kecamatan Cipatujah berstatus jalan nasional Selatan Jawa. “Panjang jalan yang amblas sekitar 20-30 meter-an,” terang dia.

Sehingga kewenangan anggaran untuk memperbaikinya, kata dia, menjadi ranah Pemerintah Pusat yang dibantu Balai Besar Jalan Provinsi Jawa Barat. “ Jadi kita hanya bisa membantu dari sisi data, membantu tenaga teknis dan menyediakan peralatan jika dibutuhkan,” jelasnya.

Melihat tingkat kerusakan jalan, analisa Mamik, untuk sementara jalan hanya bisa dipasang dengan jembatan bailey. Supaya masih bisa di lewati, karena jalan tersebut merupakan penghubung antara Tasik-Garut. “Untuk perbaikan jalan dan jembatan supaya normal lagi tergantung anggaran, jika anggaran tanggap darurat perbaikannya ada. Ya bisa cepat diperbaiki,” ungkapnya.

Selamatkan Diri Jebol Atap

Samsul (33), warga Kampung Jajawai Desa Cipatujah terpaksa menjebol atap rumah untuk menyelamatkam diri dari banjir. Karena luapan Sungai Cipatujah begitu cepat datang.

Dia menceriotakan air Sungai Cipatujah mulai datang saat tengah malam sekitar pukul 24.00, ketika itu air sudah menggenangi halaman rumahnya. “Saat itu kami tidak langsung bergegas pergi meninggalkan rumah, karena air menggenang ketika hujan sudah dianggap biasa,” ujarnya kepada Radar, Selasa (6/11).

Namun sekitar pukul 01.00,  luapan air begitu cepat datang sehingga tidak bisa menyelamatkan barang-barang. “Terpaksa kami menjebol langit-langit dan genting untuk menyelamatkan diri,” ungkapnya.

Sebab kondisi air, kata dia, sudah lebih dari 2 meter menggenangi rumahnya. Sehingga dia dan keluarga tidak sempat menyelamatkan harta bendanya. “Semua barang terendam, yang kami pikirkan hanya keselamatan diri,” jelas dia.

Ditambah kondisi listrik sudah padam sehingga tidak terlihat untuk pijakan. “Kondisinya tidak mungkin untuk keluar dari rumah, sehingga kami naik ke atas rumah,” katanya.

Tidak hanya barang-barang bawaan yang terendam, kata dia, semua ternak milik warga termasuk dirinya sebanyak 15 ekor ikut terendam bersama kandangnya. “Mudah-mudahan ternak ada yang mengganti,” paparnya.

Warga lainnya, Pupu (45) mengatakan sebelum datangnya luapan air sungai, terlebih dahulu terdengar suara gemuruh. “Sekilas terdengar mirip ada ombak datang,” ungkapnya.

Sementara itu, pucuk pimpinan TNI Polri yakni Dandim 0612/ Tasikmalaya Letkol Nur Ahmad SE, Danlanud Wiriadinata Letkol PNB M Pandu Adi Subrata serta Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra meninjau lokasi bencana khususnya jembatan penghubung yang ambruk diterjang banjir.

Selain itu, Lanud juga memberikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak bencana.

Letkol PNB M Pandu Adi Subrata mengatakan bantua diberikan sekadar membantu kesulitan warga yang tengah terkena musibah. “Diharapkan bisa meringankan beban mereka,” imbuhnya. (ujg/dik)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.