Data Positif Emiten Belum Rem Aksi Jual

Era Bunga Rendah Bakal Berlalu

330
0
radartasikmalaya
ilustrasi/net
Loading...

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Berdasar kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah menyentuh posisi Rp 3.965 per USD Kamis (3/5). Posisi rupiah itu melemah 0,20 persen jika dibandingkan dengan hari sebelumnya saat rupiah bertengger di Rp 13.936 terhadap USD.

Terkait dengan pergerakan rupiah yang terus terdepresiasi tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo kembali menuturkan bahwa publik tidak perlu khawatir berlebihan. ’’BI selalu berada di pasar jika ada tekanan,’’ ujarnya di gedung BI.

Agus menyatakan pihaknya juga akan terus mengamati pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC). Dia menambahkan bahwa hasil pertemuan FOMC itu dibahas dalam rapat dewan gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Mei mendatang.

Mantan Menkeu itu pun mengindikasikan dalam RDG nanti BI mungkin menaikkan suku bunga acuan. Dia mengungkapkan bahwa era bunga rendah sudah berlalu. Sebab, negara-negara maju tengah melakukan normalisasi sistem moneternya. Salah satunya adalah AS yang berencana menaikkan suku bunganya 3–4 kali tahun ini.

’’Semua sudah memahami ke depan era bunga murah sudah di belakang. Jadi, yang ada era bunga yang bakal meningkat. Bahkan, kita mendengar mungkin tahun ini Amerika bisa menaikkan lebih dari 3 kali, bahkan 4 kali, dan diikuti negara maju lainnya,’’ jelasnya.

Loading...

Agus menjelaskan jika suku bunga AS meningkat, yield surat utang dipastikan ikut meningkat. Dengan peningkatan yield tersebut, negara-negara maju seperti AS pun berharap negara-negara berkembang ikut melakukan penyesuaian dengan menaikkan imbal hasil surat utangnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT United Tractors Tbk Iwan Hadiantoro berharap pergerakan nilai tukar bisa lebih distabilkan. ’’Jangan terlalu volatile lah,’’ katanya. Sebab, 20 persen alat berat United Tractors merupakan produk impor dari Jepang dan Thailand. Stabilitas nilai tukar sangat dibutuhkan agar bisnis dapat berjalan baik.

Bila mata uang rupiah terus melemah, hal itu akan berpengaruh ke konsumen. ’’Kami bakal perlahan-lahan adjust selling price (menyesuaikan harga jual, Red) ke customer,’’ tuturnya.

Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ditutup melemah. Setelah pada Rabu (2/5) berhasil rebound ke level psikologis 6.000 (6.012,24), kemarin indeks turun cukup dalam, yakni 2,55 persen. Indeks ditutup di level 5.858,73. Asing kembali mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp 772,53 miliar dari sebelumnya (2/5) Rp 511,67 miliar di seluruh market. Tercatat, hanya 69 saham yang mampu bergerak naik, sedangkan 333 saham ditutup turun. Sisanya, 85 saham, tidak berubah.

Analis senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memaparkan, kembali melemahnya laju bursa saham AS berimbas negatif pada pergerakan IHSG. Meski The Fed tidak menaikkan suku bunga, pandangannya terhadap potensi kenaikan inflasi di AS membuat laju USD kembali menguat. ’’Akibatnya, rupiah terkena dampak sehingga kembali terdepresiasi. Di sisi lain, pelaku pasar kembali panik dengan aksi jualnya sehingga IHSG anjlok lagi,’’ terangnya.

Dia menilai adanya sejumlah berita positif dari para emiten belum mampu menghalau masifnya aksi jual. Pergerakan sejumlah bursa saham Asia pun belum terdorong aktif. Pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang pertemuan delegasi Tiongkok dengan AS dalam pembahasan kesepakatan perdagangan di antara keduanya. (ken/rin/c14/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.