Resensi Buku Marginalia 2

Esai “Liar” dari Pojok Pesantren

276
0
Judul Buku Marginalia 2: Esai-Esai dari Pojok Pesantren. Penulis : Fauz Noor Kata Pengantar : Prof Afif Muhammad Jumlah halaman : xxv + 280 halaman Penerbit : Semesta Institute Tahun Terbit : 2019

Selepas sukses dengan Marginalia 1, kumpulan esai Fauz Noor yang kedua beredar di pasaran bulan ini (Juli 2019). Kumpulan esai yang biasa terbit di Radar Tasikmalaya ini, di jilid kedua diberikan Kata Pengantar oleh Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA – Guru Besar Filsafat Agama UIN Sunan Gunung Djati. Dalam pengantarnya, Prof. Afif berkata, “Menulis dengan ruang terbatas seperti yang dilakuan Fauz Noor dalam buku ini, bukankah pekerjaan mudah. Ia membutuhkan logika yang lurus dan terfokus, sehingga tidak menyimpang ke sana ke mari. Di situ pun ada disiplin ketat yang harus dijaga. Untuk urusan yang satu ini, saya rasa, boleh dikata ia berhasil, walaupun di sana-sini masih kita temukan beberapa lubang kecil yang semestinya diisi.”

Penamaan kolom dengan Marginalia, hemat saya karena Kang Fauz (kami biasa menyebutnya demikian) merupakan seorang santri yang tentu memahami tradisi klasik Islam yang dikenal dengan Hamsiyah, catatan atau teks di pinggir kitab. Santri pasti tahu. Bagi saya ini menarik, karena tradisi hamsiyah yang “dihidupkan” ini tidak melulu terkurung dalam tradisi Islam. Benaknya begitu “luas”, kita pun bisa membaca dalam bukunya ini mutiara-mutiara hikmah dari berbagai peradaban: dari mulai Yunani sampai India, dari mulai pemikiran Kristiani sampai tentu saja bicara fiqih. Menurut saya, inilah kelebihan Marginalia, sekumpulan tulisan yang penuh nuansa kitab kuning, namun menumpuk juga literature kontemporer. Disamping khas penulisannya yang mudah dicerna.

Dalam Marginalia 2 Kang Fuz membahas berbagai macam konsep yang begitu relevan untuk konteks saat ini, dari mulai konsep tauhid, sosial, politik sampai bicara ekomoni orang tua kita di dapur. Ketika mengkritik modernisme, ia menulis dengan menohok dengan memakai dapur sebagai ruang renungan, “Karena sebuah internalisasi nilai, dapur bukan menjadi ruang yang soliter dan individualistik, bukan sebatas mencari kenikmatan keluarga dan meraup keuntungan… Kita pun mengenal istilah-istilah kehidupan sosial di dapur yang sekarang sudah tergerus zaman, semisal nyuyah dan ngenclong.”

Sebagai sebuah karya yang tekun ditulis selama 2 tahun, tidak berlebihan kiranya saya berkata bahwa nafas intelektualitas Kang Fauz cukup panjang. Butuh stamina-wacana yang kuat dan tenaga-literutur yang cukup untuk bisa mengerjakan ini. Menariknya, dengan modal literatur yang melimpah ini, Kang Fauz membuka borok-borok realitas. Sebut saja tentang Pilkada Tasikmalaya di tahun 2017 kemarin. Perjanjian Politik yang terkenal dengan fivety-fivety, dengan cerdik ia bahas dengan membenturkannya dengan pemikiran Machiavelli atau ketika ia mengurai Neraka, dangan tanpa canggung ia menusuk tema-seram ini dengan keindahan puisi Dante Aleghari. Bagi yang kurang terbiasa berpikir out the book, hal ini akan mencengangkan dengan sedikit (mungkin) marah. Tetapi, bagi saya, keliaran intelektual yang jujur seperti ini dibutuhkan untuk mendobrak kebekuaan pemikiran umat.

Dalam buku terbarunya ini pun, Kang Fauz menyuguhkan banyak pandangan baru terkait satu permasalahan, sebut saja sebagai contoh tentang Fiqih Anggaran yang bagi tradisi pemikiran fiqih klasik barangkali nyeleneh. Kita juga diajak meneledani banyak tokoh dari mulai Abu Ali Al-Farisy, Imam Syafi’i, Al Kindi, Ibnu Taimiyah, Omar Kayam, Hebermas, sampai Mahatma Ghandi bahkan Kartini. Satu kutipan ingin saya tulis, “Yang mengerikan adalah sikap kita yang kembali kepada ‘masa’ Malik Ibn Anas; skriptualisme dengan menutup diri dari dunia luar. Jika sikap ini diambil, maka kita membuang khazanah intelektual Islam yang dibangun dengan jutaan kitab dari tinta ulama dan ini satu kerugian besar. Dan yang paling mengerikanlagi, adalah sikap kita, terutama para tua, yang kerap mencurigai aktivitas berpikir anak-anak muda, lalu dituduh ‘liberal’ atau ‘sekuler’. Oh Tuhan, benarkah kita hidup dimana aktivitas berpikir dianggap aneh dan berbahaya?”

Seperti kata Prof. Afif, dalam kumpulan esai ini masih banyak bolong. Tak ada karya yang sempurna. Ketidaksempurnaan justru mempertagas kemanusiaan. Hanya saja, kita berharap, Kang Fauz memperbaiki “bolong-bolong” itu (yang entah apa maksudnya) dalam karya-karya beliau selanjutnya. (*)

Cirebon, 30 Juni 2019

Fajar Rahmawan: Pernah Nyantri di Pesantren Baitul Hikamh Haur Koneng, Penggiat Malam Rabu Tanpa Gadget Cirebon.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.