Fashion Muslim Potensial Ekspor

177
0
BANYAK DISKON. Aneka produk fashion diskon mulai 20 hingga 70 persen.

JAKARTA – Beberapa tahun terakhir, industri fashion di dalam negeri menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Capaian itu ditandai dengan peningkatan kinerja nilai ekspor.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor fashion nasional pada periode Januari–April 2018 mencapai USD 4,7 miliar. Angka tersebut tumbuh 10 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2017 sebesar USD 4,2 miliar.

”Pada posisi ini, Indonesia mampu menguasai 1,9 persen pasar fashion dunia dan menjadi negara eksportir pakaian ke-14,” ujar Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih Minggu (10/6).

Mengenai potensi di sektor industri fashion muslim, Indonesia menjadi satu di antara tiga besar negara anggota Organisasi Kerja Sama Negara Islam (OKI) sebagai pengekspor produk fashion muslim terbesar di dunia setelah Bangladesh dan Turki.

Indonesia mampu mencatatkan nilai ekspor produk fashion muslim hingga USD 12,23 miliar pada tahun lalu. ”Pada 2016, pasar fashion muslim di dunia mencapai USD 254 miliar dan diprediksi 2022 tumbuh 6,6 persen sehingga menjadi USD 373 miliar. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menguasai pasar fashion muslim di dunia,” ungkap Gati.

Apalagi, Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Melihat geliat industri fashion yang cukup pesat, pemerintah berharap terus bermunculan sumber daya manusia di industri tersebut berupa desainer-desainer muda baru. ”Dalam upaya pengembangan industri fashion, juga diperlukan kolaborasi dan sinergi dari berbagai stakeholder yang meliputi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas,” tambah Gati.

Di samping itu, lanjut dia, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah penguatan struktur industri fashion nasional. ”Integrasi akan diperkuat dengan suplai bahan baku dari industri tekstil dalam negeri yang akan diwujudkan melalui material center,” jelasnya.

Sejauh ini pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk mengintegrasikan sektor hulu sampai hilir dalam memajukan industri busana muslim nasional. Di antaranya, melalui kemitraan desainer dengan pelaku IKM fashion dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).

”Kami mendorong terciptanya ekosistem bisnis di industri fashion muslim nasional. Selain itu, memfasilitasi desainer ikut serta di berbagai pameran dan fashion show, baik di dalam maupun luar negeri,” terang Gati.

Lantas, bagaimana dengan potensi di pasar domestik? Pada kuartal kedua 2018, penjualan produk fashion muslim di Indonesia tentu akan sangat terdorong dengan Ramadan. Hal tersebut cukup terbukti, baik di segmen pasar offline seperti ritel maupun marketplace di online. Sektor fashion menjadi item paling banyak diburu konsumen yang ingin berbelanja.

VP Marketing Bukalapak Bayu Syerli menyebutkan produk yang menjadi sasaran masyarakat di marketplace selama Ramadan adalah gadget, produk kecantikan serta fashion. ”Kalau dari jumlah transaksi, sudah pasti lebih besar untuk gadget karena barangnya seharga Rp 2–3 juta. Tapi, secara volume, lebih banyak yang cari produk fashion seperti baju, gelang, dan jam tangan,” ungkapnya. (agf/c25/sof/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.