Film G30S/PKI Perlu Diputar Rutin

69
0

TASIK – Pemutaran kembali film G30S PKI mendapatkan sambutan hangat publik. Tokoh-tokoh di Tasikmalaya berharap film tentang penumpasan PKI itu diputar setiap tahun.
Ketua Generasi Muda (GM) Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia (FKPPI) Kabupaten Tasikmalaya Dr H Iwan Saputra SE MSi mengatakan pemutaran film G30S/PKI sangat perlu untuk diputar rutin setiap tahun, karena untuk lebih mengingatkan kepada generasi muda terkait adanya sejarah pemberontakan yang dilakukan PKI terhadap bangsa Indonesia.
“Sangat setuju sekali kalau ini (film G30 S/PKI, Red) diputar rutin setiap 30 September untuk melawan lupa,” ujar Iwan kemarin (2/10).
Tokoh masyarakat Tasikmalaya AKBP (Purn) H Yono Kusyono mengatakan dengan menonton film G30S PKI, masyarakat bisa tahu bahaya laten komunis. Maka dari itu, menurutnya, penayangannya perlu dilakukan setiap tahun. “Karena pasti banyak anak-anak muda yang belum tahu film tersebut,” ungkapnya.
Hal ini, kata Yono, sejurus dengan apa yang diungkapkan Presiden pertama Ir Soekarno bahwa masyarakat tidak boleh melupakan sejarah.
Bahaya laten komunisme, kata Yono, harus benar-benar diantisipasi supaya sejarah kelam itu tidak kembali terulang. “Sudah jelas kalau komunis itu bertentangan dengan Pancasila,” katanya.
Namun begitu, Yono berharap ada sensor-sensor adegan kekerasan di film yang disutradarai Arifin C Noer itu. Itu supaya tidak memberikan pengaruh buruk untuk anak-anak. “Kalau bisa kekerasan-kekerasannya itu disensor,” terangnya.
Terpisah, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor H Ricky Assegaf juga berharap film G30S PKI diputar rutin. Bahkan, menurutnya, film Sang Kiai juga dipertontonkan ke masyarakat. “Di film Sang Kiai juga diceritakan bagaimana kebengisan komunis terhadap para ulama,” terang tokoh muda ini.
Mengantisipasi bahaya laten komunis, kata Ricky, tidak bisa hanya sekedar menonton film. Karena negara harus mengedukasi masyarakat apa yang disebut dengan paham komunis itu sendiri. “Intinya komunis ini adalah gerakan-gerakan yang anti dan bertentangan dengan Pancasila,” tuturnya.
Mengingat adanya kekerasan yang diperlihatkan dalam film tersebut, menurutnya anak-anak tidak dibiarkan ikut menonton. Supaya efek pemutaran film itu tidak melenceng dari tujuan awalnya yang ingin mengedukasi masyarakat. “Saya pikir perlu dihindarkan dari anak-anak, khawatirnya malah memberi pengaruh buruk,” ujarnya. (yfi/rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.