Gadis Diikat, Diperkosa Ayahnya

357
0
DISKUSI. Guru BK, Erni (kanan) berdiskusi terkait kasus yang terjadi pada anak didiknya di sekretariat Manasix, Jumat (1/2).RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TAWANG –November lalu, warga Kawalu melaporkan kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang ayah berinisial An (37) kepada anaknya. Namun, sampai saat ini An masih dalam pelarian dan belum diproses secara hukum.

Adapun kasus pencabulan tersebut muncul saat Edelweis—nama samaran—mengadu kepada guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya. Gadis berusia 15 tahun itu mengaku menjadi korban kekerasan seksual sejak dia duduk di kelas VII sekitar dua tahun lalu.

Pihak sekolah pun menindaklanjutinya dengan berkoordinasi dengan ibu korban. Akhirnya kasus itu pun dilaporkan ke Mapolres Tasikmalaya Kota pada September lalu. Akan tetapi, An langsung kabur dari rumah dan tak kunjung pulang.

Guru BK korban, Erni mengatakan bahwa Edelweis bercerita kejadian pertama dilakukan ayahnya saat dia sedang tertidur. Dia yang masih anak-anak tidak bisa melawan. Bahkan, aksi bejat pelaku tergolong tidak normal. “Sampai korban itu diikat dan mendapat kekerasan,” tuturnya, Jumat (1/2).

Kemarin kasus tersebut didiskusikan dengan Yayasan Mantan Narapidana Tasik (Manasix) karena An merupakan mantan narapidana kasus pencurian.

Ketua Manasix Asep Ugar mengaku prihatin dengan apa yang menimpa Edelweis. Dia dan rekan-rekannya yang pernah menjalani kehidupan di dunia kelam mengaku jijik mendengar seorang ayah yang tega menodai anaknya. “Sebagai ayah seharusnya melindungi, bukan malah merusak,” katanya.

Pihaknya berencana akan mendorong aparat kepolisian guna secepatnya bisa menemukan pelaku yang tidak lain ayah korban sendiri. Pasalnya, jika dibiarkan, tidak akan ada efek jera kepada pelaku dan korban akan terus merasa terancam. “Nanti kami akan mendorong kepolisian, mudah-mudahan pelaku segera ditemukan dan diperiksa,” ucap dia.

Wawancara terpisah, petugas Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Ajeng Diah Rahmadina mengatakan bahwa kasus itu sudah ditangani. Pihaknya bersama instansi-instansi terkait sudah melakukan pendampingan sampai psikologisnya membaik. “Karena waktu awal-awal dia drop sekali, sekarang alhamdulillah sudah mendingan,” tuturnya.

Saat ini korban masih dititipkan di salah satu yayasan demi keamanan dan kesehatannya. Akan tetapi, dalam waktu dekat ini korban akan dikembalikan kepada keluarganya. Hal itu karena kemauan dari korban yang ingin kembali bersekolah. “Kalau dilarang enggak bagus juga, tapi tetap kita akan melakukan pengawasan dan pendampingan,” ujar dia. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.