Gaji Dosen Asing Rp 65 Juta

261
0
Loading...

JAKARTA –  Butuh dana besar untuk mendatangkan 200 dosen asing yang akan mendidik mahasiswa Indonesia di berbagai perguruan tinggi.

Menurut Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof Ali Ghufron Mukti, pihaknya menyiapkan dana sekitar Rp 200 miliar untuk 200 dosen asing itu.

Dana tersebut meliputi biaya akomodasi, gaji dosen asing, dan lainnya. Untuk satu dosen asing, pemerintah memberikan gaji dengan hingga USD 5000 atau Rp 65 juta (kurs USD 1= Rp 13 ribu).

“Tapi itu tergantung usulan proposal masing-masing perguruan tinggi yang menawarkan dosen asing mengajar di kampusnya. Banyak juga dosen asing yang enggak mau dibayar kok,” ujar Dirjen Ali Ghufron dalam diskusi pendidikan di Jakarta, belum lama ini.

Dia pun menepis akan adanya kesenjangan antara dosen lokal dan asing. Sebab, dosen lokal sudah memahami kalau pengajar asing dibayar tinggi adalah wajar.

loading...

“Dosen kita ada 277 ribu, sedangkan dosen asing yang akan didatangkan hanya 200 jadi enggak akan mengancam stabilitas pendidikan tinggi,” tegasnya.

Pemerintah pun akan memberlakukan syarat yang sangat ketat untuk masuknya dosen asing. Dosennya harus dari perguruan tinggi terakreditasi baik dan punya reputasi internasional. Sedangkan program studi yang akan dimasuki dosen asing hanya pada sains dan teknologi.

Sebelumnya diketahui, tahun ini kebijakan impor merembet juga di dunia pendidikan tinggi. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) membuka rencana impor atau mendatangkan 200 orang dosen asing. Sejumlah skema dipersiapkan untuk kedatangan mereka.

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan salah satu skema mendatangkan dosen asing itu adalah melalui program World Class Professor (WCP). Tahun lalu program WCP menghadirkan sebanyak 87 orang profesor. Terbanyak dari Jepang. Tahun ini jumlahnya tidak jauh berbeda.

Ghufron mengatakan selama ini kedatangan dosen asing ke Indonesia durasinya singkat. ’’Kita maunya lebih lama. Jadi bisa memberikan dampak peningkatan mutu,’’ katanya. Peningkatan mutu itu meliputi proses pendidikan, penelitian, serta publikasi.

Sekjen Kemenristekdikti Ainun Naim mengatakan ’’impor’’ dosen asing itu tidak mutlak mendatangkan dosen begitu saja. Tetapi melalui banyak skema. Diantaranya adalah petukaran antara dosen Indonesia dengan dosen luar negeri. Selain itu juga bisa melalui skema join research baik di dalam negeri maupun luar negeri. ’’Jadi tidak berarti pasti merekrut dosen asing untuk mengajar di dalam negeri,’’ jelasnya.

Selain itu masuknya dosen asing bisa juga runtutan dari dibukanya akses perguruan tinggi luar negeri (PTLN) boleh membuka cabang di Indonesia. Akses ini dibuka dengan syarat PTLN tersebut harus bekerjasama dengan kampus lokal. Kemudian kampus PTLN itu mengirim dosennya, yang jelas berkebangsaan asing, untuk menjadi pengajar di kampus cabang di Indonesia.

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan mendatangkan dosen asing ke Indonesia adalah program bagus. Namun dia mengatakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia saat ini adalah praktisi di bidang-bidang tertentu. ’’Lebih banyak membutuhkan praktisi dibanding akademisi. Seperti untuk pengembangan sumber daya alam Indonesia,’’ katanya.

Dia berharap pemerintah bisa menjelaskan spesifikasi dosen asing yang bakal didatangkan itu seperti apa. Jangan sampai kualitas keilmuan dosen yang didatangkan itu tidak jauh berbeda dengan dosen di Indonesia. (esy/jpnn/jpg/wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.