Menteri ESDM Ingin Ngebut Realisasikan Jargas

Gas Diekspor, LPG Diimpor

36

JAKARTA – Impor Liquified Petroleum Gas (LPG) Indonesia terus membengkak. Dalam Rapat Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Komisi VII DPR RI Senin (11/2) lalu, konsumsi LPG nasional mencapai 6,9 juta ton, sedangkan impor LPG sebesar 4,5 – 4,7 juta ton. (selengkapnya lihat grafis).

Angka ini semakin masif seiring dengan konversi penggunaan minyak tanah ke gas. Dari data Kementerian ESDM, nilai impor LPG mencapai U$ 3 miliar atau setara Rp 5 triliun. Hampir 90 persen LPG yang diimpor Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Paling banyak dari Iran dan Arab Saudi. Hal ini membuat Menteri ESDM Ignatius Jonan ingin mengebut realisasi jaringan gas (jargas).

Salah satu cara mengurangi impor LPG yang sangat besar, kata Jonan, harus memacu pembangunan sambungan jaringan gas (jargas) rumah tangga. “Saya sudah sampaikan ke Komisi VII kemarin, tujuannya tentu dibangun (jargas) untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Selama jaringan ini belum terealisai, maka kita impor masih jadi solusi ketergantungan (gas) kita,” tuturnya, Selasa (12/2).

Dikatakannya, semenjak program pembangunan sambungan jargas dicanangkan pada tahun 2009 hingga akhir tahun 2018, telah dibangun 463.619 sambungan rumah, baik menggunakan dana APBN dan non-APBN. “Jaringan gas nasional yang dibangun APBN itu jumlahnya 325.852 (sambungan rumah) sampai hari ini, yang kita mulai dari 2009. Dan juga yang non-APBN, PGN dan Pertamina, itu 137.767 sambungan jargas,” imbuhnya.

Jonan menyebut sambungan jargas tersebut tersebar dari beberapa provinsi dari barat hingga timur Indonesia. “Mulai Provinsi Aceh sambungan sekitar 10 ribu hingga Provinsi Papua Barat yang jumlahnya 3.898 sambungan rumah,” terang Mantan Dirut KAI tersebut.

Jonan mengatakan untuk tahun 2019 ini, Kementerian ESDM merencanakan pembangunan jargas melalui pendanaan dari APBN sebanyak 78.216 sambungan rumah di 18 kota/kabupaten di sembilan provinsi.

Impor gas bak ironi di negeri penghasil gas seperti Indonesia. Dari data SKK Migas, Indonesia sudah memproduksi gas bumi sebesar 1.418 BOEPD (Barel Oil Equivalen Per Day/Barel Setara Minyak Per Hari). Namun dari angka itu hampir 42 persen diekspor ke luar negeri. Sementara 58 persen digunakan untuk kebutuhan industri dan konsumsi rumah tangga.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Perusahaan Gas Nasional/PGN Tbk (PGAS) Dilo Seno Widagdo menuturkan dengan angka potensi gas bumi tersebut, sebenarnya pemerintah bisa memaksimalkan sebagai bahan bakar rumah tangga untuk memasak melalui jargas.

“Ini bukan pekerjaan mudah. Infrastruktur yang PGAS miliki butuh waktu tak sedikit hingga pekerjaanya rampung. Kami harus membangun pipa dari tengah laut sampai tengah kota. Meski demikian, ini hanya soal komitmen,” imbuhnya.

PGAS mencatat untuk jumlah pelanggan rumah tangga hingga 30 September 2017 tercatat sebanyak 177.170 pelanggan. Angka itu setara 0,4% dari total penjualan PGN.

“Sayang sekali, kok kita malah mengekspor gas, sementara LPG harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang mahal,” tandasnya. (fin/tgr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.