Gedung Tulip Belum Layak Digunakan

38
0
AUDIENSI. Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya H Heri Ahmadi (kedua dari kiri) saat menerima audiensi dari pelaksana proyek dan manajemen konstruksi (MK) proyek Gedung Tulip RSUD dr Soekardjo tahap II di Ruang Rapat Paripurna DPRD, Jumat (12/7). Firgiawan / Radar Tasikmalaya
Loading...

INDIHIANG – Polemik Gedung Tulip RSUD dr Soekardjo memasuki babak baru. Jumat (12/7), perwakilan pelaksana kontrak, manajemen konstruksi (MK), kuasa hukum rumah sakit, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) bersama Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya menggelar audiensi di ruang rapat paripurna.

Hasilnya, pelaksana proyek tahap II siap memperbaiki sejumlah kekurangan yang dinilai belum lengkap. Namun, kontraktor dan MK memastikan apa yang akan dipenuhi tersebut, sesuai dengan kontrak kerja dan tertuang pada rencana anggaran biaya (RAB). “Pihak rekanan telah ada kesanggupan untuk memperbaiki meskipun masa pemeliharaan sudah habis, tapi itu masih bisa dilakukan,” ujar Ketua Komisi III, H Heri Ahmadi kepada wartawan usai audiensi.

Terkait 19 item yang ditemukan saat inspeksi mendadak (sidak) beberapa waktu lalu, Heri menyebut hal itu merupakan miskomunikasi. Dia mengaku sebatas menyampaikan apa yang menjadi kekurangan pada gedung tulip, sesuai data yang diinventarisasi pihak rumah sakit. “Itu kan keinginan rumah sakit supaya dipenuhi. Sekarang sudah terklarifikasi,” kata politisi PKS itu.

Team leader MK proyek Gedung Tulip tahap II, H Nanang Nurjamil mengatakan, 19 item yang ditemukan DPRD saat sidak merupakan kekurangan yang seharusnya tidak dikerjakan pelaksana kontrak yang dia awasi. Ke 19 item tidak tertuang dalam kontrak dan RAB di pelaksanaan pembangunan tahap II. “Ada miskomunikasi, 19 item itu bukan temuan yang harus dilaksanakan pelaksana tahap II. Itu justru bagian dari usulan kami MK dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dari 39 item yang kami usulkan supaya dianggarkan di pembangunan tahap selanjutnya,” tuturnya.

“Sekaligus, finishing lantai IV dan V Gedung Tulip yang saat ini belum selesai. Supaya segera dianggarkan, sehingga fungsi gedung dapat beroperasi dengan optimal,” katanya.

Menurut Nanang, secara teknis Gedung Tulip belum layak dioperasionalkan karena terdapat banyak kelengkapan teknis yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Paling tidak instalasi air bisa dilengkapi sehingga memadai. “Ini belum layak digunakan secara teknis. Terlepas user (rumah sakit, Red) pertimbangannya dioperasionalkan karena aspek kemanusiaan, kebutuhan dan lain sebagainya,” ujar dia.

Apalagi, lanjut Nanang, kebocoran lambat laun akan kembali terjadi apabila beberapa instalasi berkaitan air belum dilengkapi. Termasuk, risiko rembesan dari lantai IV dan V Gedung Tulip yang saat ini belum ditutup dinding. “Tak perlu kajian teknis, nalar logika saja sudah terprediksi. Ketika hujan, air akan mengalir ke celah gedung dan masuk ke lantai di bawahnya,” tutur Nanang.

Loading...

Sementara kekurangan yang terjadi di pembangunan tahap II, pihaknya telah menginstruksikan kontraktor pelaksana supaya dikerjakan. Pihak rekanan pun sudah menyanggupi untuk diperbaiki sesuai kontrak dan RAB. “Untuk yang bisa dikerjakan oleh kontraktor sesuai kesepakatan, ya saya telah perintahkan kerjakan dan tuntaskan serta sesuai dengan kontrak,” katanya. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.