Generasi Muda Kota Tasik Harus Tanggap Bencana

66
0
ISTIMEWA. RIHLAH. Pengurus DKM Masjid Al-Muhajirin saat outbound beberapa waktu lalu. Saat ini, pelajar dan mahasiswa penting untuk mendapatkan pendidikan penanggulangan dan kesiapsiagaan darurat bencana.
ISTIMEWA. RIHLAH. Pengurus DKM Masjid Al-Muhajirin saat outbound beberapa waktu lalu. Saat ini, pelajar dan mahasiswa penting untuk mendapatkan pendidikan penanggulangan dan kesiapsiagaan darurat bencana.

TASIK – Tahun ini, banyak terjadi bencana alam ataupun bencana non alam. Di sinilah pentingnya pelajar dan mahasiswa mendapatkan pendidikan penanggulangan dan kesiapsiagaan darurat bencana.

Pada Minggu (1/11) Departemen Pengabdian Masyarakat Hima Kesmas Unsil Tasikmalaya mengadakan kegiatan Webinar About Disaster dengan tema “Mewujudkan Generasi Muda Indonesia Tanggap Bencana”.

Ketua Pelaksana Webinar About Disaster Tisa Safari Daryanto mewakili Ketua Hima Kesehatan Masyarakat Cahyan Firmansyah mengatakan, program ini membangun pengetahuan dan keterampilan dalam mengurangi risiko bencana alam dan bencana non alam. Sehingga setiap lembaga pendidikan akan sadar pentingnya menyiapkan kesiapsiagaan bencana ini.

“Di sini kami ingin berbagi peran penting penanggulangan bencana alam ataupun bencana non alam. Dengan begitu generasi muda bisa mengetahui cara mengantisipasi bencana dengan tepat dan benar,” katanya kepada Radar, Jumat (6/11).

Webinar ini, lanjut Tisa, juga untuk membangun kesadaran dan mengembalikan kepedulian pelajar/mahasiswa terhadap lingkungan. Seperti mencegah kekeringan dengan cara menghemat air, penghijauan, bijak mengolah sampah dan lainnya.

“Membangun kesadaran untuk hidup ramah lingkungan kepada orang itu tidak gampang, makanya perlu pendidikan sejak dini,” ujarnya.

Ia mengatakan, webinar ini diikuti sebanyak 205 peserta generasi milenial dari berbagai daerah. Pembicara yakni Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Barat Ir Dani Noor Badriansyah MT dan Sekretaris Sekolah Relawan Thea Rahmani.

“Pemateri menjelaskan ilmu tentang bagaimana kesadaran akan kesiapsiagaan bencana untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Kemudian menumbuhkan aksi solidaritas dengan membantu menyalurkan bantuan sosial ataupun membantu bergerak menjadi relawan,” katanya menirukan pesan dari pemateri.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar S menjelaskan, seharusnya sekolah melaksanakan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dalam rangka meningkatkan ketangguhan satuan pendidikan terhadap bencana alam ataupun non alam.

Hal ini didukung peraturan yang diatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB dilaksanakan saat normal atau pra-bencana, situasi darurat dan paska bencana.

“Tujuannya meningkatkan kemampuan sumber daya di satuan pendidikan, khusus siswa dalam menanggulangi dan mengurangi risiko bencana, serta melindungi investasi pada satuan pendidikan agar aman terhadap bencana,” ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut Ucu, sekolah juga bisa meningkatkan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan agar aman terhadap bencana. Kemudian, memberikan perlindungan dan keselamatan kepada peserta didik, pendidik serta tenaga kependidikan dari dampak bencana di satuan pendidikan.

“Bahkan dapat memastikan keberlangsungan layanan pendidikan pada satuan pendidikan yang terdampak bencana,” katanya.

Adapun mengenai mitigasi bencana non alam, seperti Covid-19, ia mengimbau masyarakat terus menegakkan protokol kesehatan. Caranya dengan melaksanakan 4M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

“Pemerintah serius dalam penanganan Covid-19 makanya kita sering mengingatkan akan pentingnya menjaga protokol kesehatan,” katanya.

Dalam upaya lawan Covid-19 di masa AKB ini, sambungnya, pemerintah terus mendukung program 3T yaitu testing, tracking dan treatment.

“Covid-19 menjadi tantangan, maka upayanya adalah pencegahan untuk memutuskan mata rantainya baik dengan tes massal atau imbauan disiplin menggunakan protokol kesehatan,” tambahnya.

Kemudian, agar masyarakat tetap disiplin, pemerintah juga masih terus menegakkan peraturan hukuman bagi yang tidak patuh menggunakan masker.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR Kota Tasikmalaya Enan Suherlan AMd SThI MM menyatakan perlunya mengintensifkan pendidikan bencana yang sudah terakomodir di dalam Kurikulum 2013. Setidaknya ada 5 poin yang sudah melebur ke dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah yaitu bahaya narkoba, menangkal radikalisme, kesadaran hukum berlalu lintas, pendidikan antikorupsi dan pendidikan mitigasi bencana.

“Dengan adanya pelajaran mitigasi kebencanaan ini diharapkan menjadi bahan bagi sekolah dan guru untuk menerapkan pendidikan tersebut di dalam kelas. Penting bagi sekolah memberikan bekal kesiapsiagaan bencana agar terciptanya rasa aman,” ujarnya.

Oleh karena itu, perlunya kebijakan pemerintah yang mengikat untuk sekolah-sekolah mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Terutama yang berada di lokasi rawan bencana agar memiliki program sekolah aman bencana.

“Pemerintah berkewajiban mewujudkan rasa aman dari bahaya bencana untuk masyarakat, terutama pada anak-anak. Karena mereka merupakan kelompok yang memiliki risiko tertinggi dari ancaman bahaya bencana,” katanya.

Maka perlunya mengajarkan simulasi bencana yang rutin untuk menguji kesiapsiagaan.
“Seperti di Jepang, anak-anak di sana bahkan melakukan latihan kesiapsiagaan gempa di sekolah setiap bulannya,” ujarnya. (riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.