Warga Sumbersari Ancam Polisikan Pengusaha Kulit

Gerah, 32 Tahun Hirup Bau Limbah

14

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

GARUT KOTA – Ratusan warga Kampung Sumbersari Kelurahan Regol Kecamatan Garut Kota berunjuk rasa di Jalan Ahmad Yani pada Minggu (9/9).

Aksi tersebut sebagai bentuk protes kepada para pengusaha kulit di wilayah Sukaregang yang masih membuang limbah ke Sungai Ciwalen sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.

“Ini bentuk kekesalan kami, karena pemerintah dan pengusaha tidak menghiraukan keresahan warga di sini yang terdampak limbah kulit secara langsung,” ujar Bengbeng, koordintaor aksi warga kepada Rakyat Garut, kemarin.

Menurut dia, dampak limbah dari pengusaha kulit Sukaregang ini sangat dirasakan langsung oleh warga Kampung Sumbersari khususnya di RW 18 dan 21.

Dimana lokasi ini sangat berdekatan dengan Sungai Ciwalen yang merupakan tempat pembuangan limbah dari pabrik kulit di wilayah Sukaregang.

“Apalagi saat musim kemarau ini, air sungai kering sehingga bau menyengat dan menimbulkan banyak penyakit seperti gatal-gatal dan ISPA,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, kata dia, masyarakat di wilayah tersebut merasa gerah kepada para pengusaha kulit yang seenaknya membuat limbah ke sungai yang keberadaannya dekat dengan pemukiman warga.

“Pemerintah sudah membangun IPAL tapi tidak digunakan juga. Saat ini pemerintah hanya janji akan dan akan bertindak, tetapi kenyataannya tidak ada,” katanya.

Tidak ada tindakan tegas dari pemerintah, kata dia, pihaknya berencana akan melaporkan para pengusaha kulit ke Polda Jawa Barat. Hal itu dilakukan karena pengusaha kulit sudah melanggar peraturan terkait pembuangan limbah sembarang.

“Kami akan laporan ke Polda dalam waktu dekat ini, setelah bertemu dengan pemda dan pengusaha,” katanya.

Bambang menegaskan tindakan hukum ini diambil karena warga sudah menderita dengan pencemaran lingkungan akibat limbah kulit.

“Kami sudah 32 tahun seperti ini. Kami Ingin sehat, ingin anak kami belajar tenang, tidak menghirup bau limbah, dan sebagainya,” terang dia.

Warga lainnya, Endo (40), mengatakan aksi warga merupakan yang kedua kalinya setelah tahun 2015 dulu. Saat itu masyarakat, pengusaha dan pemerintah kesepakatan akan ada solusi terbaik dalam penanganan limbah.

Namun, setelah ditunggu sekian tahun sampai sekarang solusi itu tidak muncul, malah pengusaha lebih seenaknya membuang limbah ke sungai.

“IPAL memang ada, tetapi tidak digunakan semestinya, tetap dibuang ke sungai langsung,” tuturnya.

Dengan demikian, kata dia, masyarakat menolak keras pembuangan limbah ke sungai.

“Kalau tidak ditanggapi, kami akan kerahkan massa lebih besar lagi,” terangnya.

Sampai berita ini diturunkan, Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Kabupaten Garut Soekandar tidak mengangkat teleponnya saat Rakyat Garut mencoba menghubunginya. (yna)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.