Pelakunya Masih Terus Diburu Polisi

Grup Gay Garut Hasil Retasan

260

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

KARANGPAWITAN – Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna memastikan bahwa keberadaan grup gay Garut di Facebook yang saat ini ramai diperbincangkan masyarakat dipastikan merupakan hasil retasan.

“Grup itu hanya retasan saja. Kenyataannya itu tidak ada, “ ujarnya kepada wartawan saat ditemui di Mapolres Garut, Minggu (14/10).

Menurut dia, dari hasil penyelidikannya selama ini, grup Facebook gay pelajar SMP dan SMA di Garut awalnya bernama kumpulan Barudak Bayongbong dan dibuat 2013. Grup ini kemudian pasif sampai 2015.

Kemudian, kata dia, grup tersebut aktif kembali 2016 dengan nama kumpulan barudak SMP dan SMA Garut dan 2017 berganti nama menjadi kumpulan Gay SMP dan SMA Garut sampai sekarang.

“Jadi ini diretas. Sebenarnya tidak ada grup gay ini,” paparnya.

Untuk anggota grup tersebut, kata Kapolres, itu tidak ada pelajar yang menjadi gay. Meski di dalamnya ada gay, itu mereka terjebak karena mengira bahwa itu grup gay asli.

“Dari hasil pemeriksaan secara random, itu kebanyakan akun palsu. Karena tidak ada foto profil dan pengikutnya,“ paparnya.

Budi meminta kepada masyarakat tidak resah dengan beredarnya grup Facebook tersebut, karena itu hanyalah perbuatan orang-orang yang ingin mengganggu stabilitas keamanan saja.

“Masyarakat agar tidak resah info kaitan dengan viral tentang gay atau LGBT, sudah kita patahkan (tidak ada, Red),” katanya.

Budi tidak menampik adanya kaum LGBT di Kabupaten Garut ini, tetapi jumlahnya tidak banyak. Keberadaan kaum gay juga bukan hanya di Garut saja di wilayah lain juga ada.

“Tetapi kalau grup Facebook terkait LGBT yang anggotanya pelajar itu dipastikan tidak ada,” paparnya.

Ia menyampaikan jajarannya akan mengungkap siapa pelaku yang mengubah nama grup medsos tersebut sehingga men­jadi nama gay pelajar Garut.

“Sekarang kita kejar peretasnya. Mudah-mudahan secepatnya bisa tertangkap,” terang perwira menengah ini.

Kapolres menerangkan feno­mena grup gay di Facebook yang saat ini ramai bukan hanya terjadi di Garut saja, tetapi di seluruh Jawa Barat. Bahkan di Karawang itu jumlah anggotanya mencapai 6000.

“Ini seperti isu penyerangan ulama. Tetapi metodenya berbeda, “ katanya.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat itu tidak langsung menelan informasi yang beredar di media sosial, karena itu bisa menyesatkan.

“Saya juga meminta kepada masyarakat jangan membuka grup gay karena ketika dibuka, mesin akan langsung memasukan kita jadi anggota grup itu,” terangnya. (yna)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.