Gubernur Jabar Minta Aktivitas Santri di Garut Dihentikan

86
0
SERAHKAN. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyerahkan bantuan kepada pengurus Pesantren Cipari yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Kecamatan Pangatikan, Selasa (27/10). Yana Taryana / Rakyat Garut

PANGATIKAN – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta kepada pengurus pesantren yang masuk klaster penyebaran Covid-19 di Kabupaten Garut untuk menghentikan sementara waktu seluruh kegiatan santri.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya dalam meminimalisir penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren supaya tidak meluas.

“Sampai semua jelas, kegiatan sementara waktu dihentikan dulu. Setelah penanganan selesai baru bisa beraktivitas lagi,” ujar Emil – sapaan akrab Ridwan Kamil- kepada wartawan usai memantau langsung kondisi Pesantren Cipari yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Kecamatan Pangatikan, Selasa (27/10).

Menurut Emil, dalam penanganan klaster pesantren ini, Tim Gugus Tugas terus melakukan pengetesan dan penelusuran terhadap santri, para pengurus serta guru yang ada di pesantren tersebut.

Selain itu, di lingkungan pesantren itu telah didirikan tenda untuk pengetesan. Di tenda itu juga disiagakan sejumlah tenaga kesehatan yang bertugas memantau kondisi para santri.

“Pos itu nantinya juga diperuntukkan bagi warga sekitar yang akan melakukan tes Covid-19,” ujarnya.

Emil meminta, dalam penelusuran kasus Covid-19 di klaster pesantren ini, tak cukup hanya menyasar santri di lingkungan, melainkan juga harus dilakukan kepada warga di lingkungan sekitar. Sebab, ia meyakini, selama ini terjadi interaksi antara santri dengan warga.

Emil meyakini, meski saat ini banyak santri yang terkonfirmasi Covid-19, tetapi dapat sembuh total. Hal itu melihat dari statistik angka kesembuhan pasien Covid-19 yang mencapai 80 persen.

“Sekarang di Jawa Barat hampir 80 persen pasien Covid-19 ini bisa kembali sembuh,” terangnya.

Dalam kasus di pesantren, kata dia, mayoritas yang terpapar adalah santri, yang notabene masih berusia muda. Menurut dia, umumnya anak muda tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid), sehingga ia optimistis para santri seluruhnya dapat kembali sehat. “Kita doakan cepat selesai dan berharap pesantren ini bisa normal lagi,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Maskut Farid mengatakan, pihaknya sudah melakukan tracing kepada seluruh penghuni pesantren tersebut. Hasilnya, hingga saat ini terdapat lebih dari 100 santri terkonfirmasi positif Covid-19.

Namun, menurut dia, hasil tes swab untuk santri perempuan masih belum diketahui. “Mudah-mudahan tidak terlalu banyak yang positif. Tapi (santri perempuan, Red) ada yang positif,” kata dia.

Ia menyebutkan, seluruh santri yang dinyatakan positif Covid-19 sudah seluruhnya diisolasi di rumah sakit. Banyaknya kasus terkonfirmasi dari lingkungan pesantren itu membuat sejumlah rumah sakit rujukan di Garut mulai terisi penuh.

”Kita kan banyak sekali kasus aktif, lebih dari 200 yang dirawat,” terangnya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut hingga Senin (26/10), total kasus terkonfirmasi positif berjumlah 626 orang. Sebanyak 255 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, 356 orang dinyatakan sembuh, dan 15 orang meninggal dunia.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus terkonfirmasi, Maskut mengatakan, pihaknya sudah mulai menyiapkan sejumlah gedung untuk tempat isolasi yang layak. Sebab, ia memperkirakan peningkatan kasus dari lingkungan pesantren masih akan terus terjadi.

Ia menambahkan, kasus klaster pesantren di Kecamatan Pangatikan bukanlah satu-satunya di Garut. Terdapat beberapa pesantren lain yang menjadi klaster penyebaran Covid-19.

“Secara aturan, sebenarnya untuk santri boleh isolasi mandiri di pesantren. Namun sudah kita cek, kondisinya tak mungkin untuk isolasi. Makanya yang positif kita bawa semua (ke rumah sakit, Red),” ujarnya.

Baca juga : Banyak Santri Positif Corona, Ini Kata Jubir Ponpes Cipari Garut

Untuk mengantisipasi terus meningkatnya kasus dari pesantren, Maskut mengatakan, pihaknya telah berkirim surat ke Kementerian Agama (Kemenag) untuk menghentikan aktivitas pesantren yang tak menerapkan protokol kesehatan. Namun, hingga saat ini belum ada respons dari Kemenag.

Juru bicara Pesantren Cipari Nasrul Fuad mengatakan, hingga saat ini total santri yang terkonfirmasi dari pesantrennya berjumlah 114 orang dari total keseluruhan 420 santri di pesantren itu.

Seluruhnya adalah santri laki-laki. “Santri perempuan sudah dilakukan testing, tapi hasilnya belum keluar. Masih dalam proses cek lab, itu informasi yang kita terima,” katanya.

Ia menambahkan, para santri yang sudah dinyatakan negatif untuk sementara tetap berada di pesantren karena tetap harus menjalani karantina. Namun, para pengasuh tetap memberikan kegiatan kecil kepada para santri agar kondisi psikologis mereka tak terganggu.

Meski begitu, para santri tetap di dalam asrama dan tidak diperbolehkan keluar lingkungan pesantren. “Kita juga belum mengizinkan santri untuk pulang sampai proses karantina selesai,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.