Gubes Sejarah: Kerajaan Galuh di Ciamis Itu Ada

1175
0

CIAMIS – Kerajaan Galuh dinyatakan ada oleh seorang peneliti dari Kabupaten Ciamis, Prof Dr Nina Herlina MS, yang juga Guru Besar (Gubes) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran Bandung.

Kata Nina, pihaknya telah meneliti tentang keberadaan Kerajaan Galuh dan Sunda dari tahun1984. Saat itu dirinya menulis skripsi.

Lalu penelitian dilakukan saat membuat tesis di UGM. Kemudian membuat disertasi.

“Disertasi saya itu objeknya adalah mengenai kehidupan Kaum Menak di Priangan. Dimana Kaum Menak  itu  turunan raja-raja Galuh dan raja- raja Sunda,” tuturnya saat dihubungi Radar.

Baca juga : Babe: Nama Ciamis Lebih Lama Ketimbang Galuh

“Waktu itu saya melakukan penelitian sendirian. Pertama untuk skripsi, tesis dan disertasi,” sambung perempuan yang sudah mencetak  22 dokter sejarah ini.

Nina menambahkan, pada tahun 2014, Dedi Mulyadi meminta dirinya untuk meneliti lebih mendalami tentang Kerajaan Galuh.

Terutama melakukan ekskavasi di  Astana Gede Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis.

“Saat itu tahun 2014 saya membawa tiga orang arkeologi. Satu ahli arkeologi  masa klasik, prasejarah dan ahli masa klasik. Sejarawannya ada 6 orang doktor. Kemudian ada lagi ahli filologi dan ahli geologi,” tandasnya.

“Jadi penelitian ini kenapa harus lintas disiplin? Karena dalam penelitian sejarah modern itu, monodisiplin tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan,”  tandas warga Kabupaten Garut ini.

Nina beryukur, di tahun 2014 timnya menemukan Altar  yang menguatkan yang dulunya sebagai kabuyutan.

Bahkan kerajaan di Astana Gede ada ditemukan juga kramik, serta prasasti lainya. “Jadi kerajaan Galuh itu bukan Hoax. Tapi benar ada,” tegasnya.

Saat ditanya Radar, apakah yang diucapkan Ridwan Saidi bahwa arti Galuh itu Brutal, Nina menjawab bahwa ungkapan Ridwan Saidi mengenai arti Brutal tidak salah.

“Yang salah itu menganggap tidak ada Kerajaan Galuh. Begini, kalai Ridwan Saidi  berpendapat bahwa dalam bahasa Armenia Galuh itu brutal, itu hak dia menyebut itu. Cuman sayangnya begini, kan Ridwan Saidi ini bukan sejarawan akademisi, kalau pihaknya sebagai sejarawan akademisi itu yang kuliah 11 tahun untuk sampai jadi doktor. Itu ada hal-hal prinsip yang harus dikuasi oleh sejarawan  akademis,” paparnya.

“Itu tidak bisa dilakukan oleh peminat sejarah seperti Ridwan Saidi. Beliau memang peminat sejarah yang luar biasa, pengetahuannya banyak. Tapi prinsip ini beliau lupakan , untuk mengartikan nama-nama Galuh,” tegasnya.

(iman s rahman)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.