Guru, Digugu dan Ditiru

151

BERITA di Harian Pagi Radar Tasikmalaya 9 Maret 2018 tentang dugaan pelecehan seksual oleh guru terhadap siswa, menjadi sebuah “tamparan berat” bagi profesi guru. Terlebih kejadian tersebut berlangsung di kota yang berjuluk Kota Santri dan pelakunya pun tokoh masyarakat. Kejadian itu bisa menjadi bahan muhasabah (introspeksi) bagi siapa pun yang ‘mengaku dan menjadi guru’. Tulisan ini mencoba mengajak semua insan guru bermuhasabah. Apakah kita masih pantas menyandang jabatan sebagai guru.

Secara bahasa guru berasal dari kata ‘gu dan ru’. Makna ini bertemali dengan arti bahwa guru harus dapat digugu dan ditiru oleh peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Harus dapat digugu dan ditiru dalam ucapan, tindakan, maupun perilaku yang baik. Bukan pada yang lain.

Guru sebuah jabatan yang melekat pada diri guru. Sebutan guru tidak hanya berlaku pada saat seseorang melaksanakan tugas dalam proses belajar mengajar (PBM), melainkan di luar proses pembelajaran pun, sebutan dan panggilan guru melekat pada diri sang guru.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru Dosen, “Guru adalah pendidik profesional yang tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik”. Mendidik mengandung makna, guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmu dan keterampilan, yang lebih penting adalah mentransfer nilai (nilai ketuhanan (ilahiah), nilai kepribadian, dan nilai kebangsaan).

Dalam sebuah mahfudhot Arab dinyatakan “kaazal mu’allimu rasuulan” (nyaris kedudukan guru itu disejajarkan dengan kedudukan rasul). Karena kedudukan rasul mulia, maka kedudukan guru pun mulia. Kemuliaan kedudukan guru ini tergambar dalam beberapa hal.

Pertama, semua rasul adalah guru. Kedua, semua budaya mengagungkan profesi guru. Ketiga, semua orang-orang saleh adalah guru. Keempat, aib seorang guru dinilai lebih besar dari aib orang lain. Kelima, seseorang akan merasa aman ketika berada bersama guru. Keenam, dalam kasus kriminal guru.

Agar guru memiliki kemuliaan, al-Abrasy menyampaikan tujuh belas sifat yang harus dimiliki guru. Tujuh belas sifat itu; zuhud, bersih tubuhnya, bersih jiwanya, tidak ria, tidak pendendam, tidak menyenangi permusuhan, ikhlas dalam menjalankan tugas, sesuai antara perkataan dan perbuatan, tidak malu mengakui kesalahan, bijaksana, tegas dalam perbuatan dan perkataan, rendah hati, bersifat kebapakan, lemah lembut, pemaaf, tidak merasa rendah diri, dan mengetahui karakter murid.

Tugas Pokok Guru
Ada tiga tugas pokok menurut Daud Yoesoef (1980) yaitu : Pertama tugas profesional. Tugas professional seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Kedua, tugas kemanusiaan, yaitu membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri dan Ketiga tugas kemasyarakatan. Merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengembangkan, dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945.

Mudah-mudahan dengan upaya menata ulang kembali pemikiran dan pemahaman akan sebutan, kedudukan, dan tugas guru ini, akan membawa kesadaran bagi setiap guru, bahwa profesinya itu sebuah profesi yang memiliki tugas mulia dan menjadi ‘penentu’ dalam menyiapkan generasi-generasi bangsa yang memiliki karakter, mampu menghargai kebhinekaan, dan yang paling penting generasi berakhlakul karimah. Hancurnya suatu bangsa karena ruskanya karakter dan akhlak masyarakatnya, di sinilah pentingnya guru dapat digugu dan ditiru. Wallau ‘alam. (*)

Ketua Prodi PGMI Suryalaya Tasikmalaya dan Mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.