Guru Honorer Ciamis Jauh dari Sejahtera, Gajinya Aja Segini..

135
1
ISTIMEWA BERDEDIKASI. Guru honorer Oom Rohati (54) saat mengajar anak didiknya beberapa waktu lalu. Dia menjadi guru honorer sejak 2001.

CIAMIS – Dunia pendidikan masih memiliki pekerjaan rumah. Salah satunya kesejahteraan tenaga pendidik honorer. Upah mereka masih kecil. Bahkan, ada yang masih ”digaji” Rp 300.000 per bulan.

Koordinator Daerah Perkumpulan Honorer Kategori II Indonesia (PHK2I) Kabupaten Ciamis Asep Wardiawan mengaku bahwa para guru honorer sangat memprihatinkan. Jam kerjanya sama dengan PNS, namun honornya kecil. Per bulannya ada yang mendapatkan Rp 300.000.

“Saya kira para guru honorer yang mengabdi belasan tahun hingga sampai ada 20 tahun lebih, di Hari Guru ini (honorer, Red) masih belum merdeka dari kesejahteraannya,” papar Asep Rabu siang (25/11).

Pihaknya berharap para guru honorer ini dapat penghargaan khusus dari pemerintah. Bentuknya pengangkatan mereka menjadi PNS. Karena pengabdian mereka luar bisa. Tidak mengenal lelah mencetak generasi yang baik.

“Saya harap mereka dimerdekakan di Hari Guru ini dengan diangkat menjadi PNS,” kata dia berharap.

Dihubungi terpisah Oom Rohati adalah salah satu honorer. Usianya kini 54 tahun. Dia warga di Desa Selasari Kecamatan Kawali. Oom menjadi honorer sejak 2001 di SDN 1 Selasari Kecamatan Kawali.

Saat itu, per bulan, dia mendapatkan ”gaji” Rp 50.000 per bulan. Pendapatannya itu kemudian naik. Bertahap. Kini, 2020 atau 19 tahun kemudian, upahnya menjadi Rp 300.000 per bulan.

Baca juga : Dinkes Ciamis Bimtek Press Release & Editing Video

“Meski honor segitu saya syukuri sampai sekarang guna menopang kebutuhan lain,” ujarnya di ujung telepon.
Sujani, suami Oom sudah sepuh. Dia kini berusia 64 tahun. Bekerja serabutan dan bertani.

Di sekolahnya, kata Oom, ada delapan honorer. Sementara jumlah guru PNS-nya lebih sedikit. Kurang dari setengah yang honorer. “PNS-nya hanya tiga (orang) saja,” kata Oom.

Jumlah jam mengajar antara guru honorer dan PNS tak jauh beda. Bahkan kecenderungannya sama. Namun yang membedakan di antara mereka adalah pendapatan.

Oom pun ingin menjadi PNS. Itu agar tarap hidupnya meningkat. Namun sudah empat kali mengikuti tes menjadi PNS, dia selalu gagal.

“Pupus sudah jadi PNS, namun harapan besar kepada pemerintah pengabdian saya bisa diangkat jadi PNS tanpa tes, karena kalau tes umur tidak memadai lagi,” ujarnya.

Oom mengaku bahwa sampai saat ini guru honorer belum merdeka kesejahteraannya. Dia berharap pemerintah segera mengangkat guru-guru honorer menjadi PNS.

Meski mendapatkan honorer Rp 300.000 per bulan, dia tetap bersyukur. Dia menopang hidup dari hasil pertanian dan bekerja serabutan. Karena kalau hanya mengandalkan dari honor menjadi honorer, tidak akan mencukupi.

“Meskipun penghasilan sedikit, bersyukur bisa menguliahkan (anak),” ujarnya.

“Harapan, anak bisa lebih dari saya. Ke depannya bisa jadi PNS atau orang sukses,” ujar Oom berharap.

Di masa pandemi ini, Oom tetap semangat mengajar. Dia tetap berjuang untuk mengajar murid-muridnya, baik itu melalui pembelajaran daring, guru keliling (guling) secara berkelompok di rumah orang tua murid atau pengajaran home visit yakni guru mengunjungi rumah murid.

Baik rumah keluarga murid di daerah yang bisa diakses kendaraan roda dua atau pun yang tidak.

Dia kerap berjalan kaki untuk mengajar 13 murid selama seminggu tiga kali yang rumahnya tidak bisa diakses kendaraan.
“Jadi saya berjuang sekarang demi murid. Supaya terus dapat pelajaran tiap hari guna mencerdaskan anak bangsa,” ujar Oom. (isr)

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.