Guru Larut Seperti Gula, Ikhlas Memberikan Kebaikan

485
0
FOTO-FOTO: Siti Aisyah / Radar Tasikmalaya TERIMA KASIH GURUKU. Siswa SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya antre memberikan bunga kepada kepala sekolah dan guru yang ada di sekolah. Foto kanan, murid berlomba menyuapi kue kepada ibu guru.

Hari Guru Nasional 2017 menjadi momen intropeksi diri. Sebagai pendidik, guru ikhlas seperti gula. Larut, menjadi pemanis. Diaduk dengan kopi jadi kopi manis. Bersatu dengan teh, menjadi teh manis. Dicampurkan dengan roti, jadi roti manis. Tidak disebut kopi gula, teh gula atau roti gula. Itulah guru. Mulia untuk kita.

Siti Aisyah, Kota Tasikmalaya

Ada pemandangan berbeda di Peringatan Hari Guru Nasional 2017 di SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya. Komite sekolah dan seluruh orang tua serta siswa memberikan hadiah untuk para guru di sekolah tersebut.
Ketua Komite SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya Sona Sonjaya mengatakan di Hari Guru 2017 ini banyak kejuatan yang diberikan siswa kepada guru. Mereka membuat pentas seni, ekpose siswa berprestasi. Termasuk siswa peraih 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu, 3 perak di kejuaraan taekwondo tingkat Kota Tasikmalaya.
”Ini hadiah terbaik. Siswa yang berprestasi dan juga memiliki potensi yang luar biasa bagian dari hasil pembinaan guru di sekolah. Prestasi terbaru kita dari enam atlet taekwondo juara tingkat Kota Tasikmalaya dalam Siliwangi Competition juga ditampilkan sebagai motivasi bagi siswa yang lainnya. Ini menjadi kebanggaan kami, orang tua atas pembinaan dan jasa guru,” terang Sona, Sabtu (25/11).
Dalam kegiatan Hari Guru tersebut dilaksanakan pemutaran thrailer film Berdirinya Kerajaan Galunggung yang dibintangi siswa dan orang tua SDN 4 Pengadilan. Ada juga potong tumpeng dan pemberian bunga dari siswa untuk guru. Termasuk perpisahan guru yang mendapat promosi menjadi Kepala SDN 1 Urug Tasikmalaya.
”Jadi agendanya sangat beragam. Selain itu juga ada surprise dari siswa kelas IV kepada wali kelasnya. Mereka berebut menyuapi kue kepada sang pendidik.
“Berbagai acara yang dilakukan esensinya adalah di samping meningkatkan motivasi siswa dalam belajar serta ikut aktif dalam kegiatan ekskul di sekolah juga menjadi ucapan terima kasih kepada guru yang selama ini sudah dengan sabar membimbing dan mendidik anak-anak,” tuturnya.
Kepala SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya Bangbang Hermana SPd MPd mengaku rasa bangga dan terharu dengan apa yang diberikan peserta didiknya. Itu sebagai renungan untuk guru. Bangbang menganalogikannya seperti minuman kopi. Ada 3 unsur di kopi. Yakni, kopi, gula dan rasa. “Kopi adalah orang tua. Gula adalah guru dan rasa adalah siswa,” ujarnya.
Jika kopi terlalu pahit, terangnya, siapa yang salah? Gula lah yang disalahkan karena terlalu sedikit, hingga “rasa” kopi menjadi pahit. Jika kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan? Gula pula yang disalahkan karena terlalu banyak, hingga “rasa” kopi menjadi manis.
”Jika takaran kopi dan gula seimbang, sehingga rasa yang tercecap menjadi nikmat, siapa yang dipuji, tentu semua akan berkata: kopinya mantaaap! Kemana gula? Di mana gula, yang mempunyai andil membuat ’rasa’ kopi menjadi mantaaap. Itulah guru yang ketika ’rasa’ terlalu manis maka dia akan dipersalahkan. Itulah guru yang ketika ’rasa’ terlalu pahit maka dia pula yang akan dipojokkan,” tutur ketua PGRI Kota Tasikmalaya ini.
Ketika “rasa” mantap, ketika siswa berprestasi, maka, kata Bangbang, orang tualah yang akan menepuk dadanya: “Anak siapa dulu”.
”Mari ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat. Tapi sangat bermakna. Gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis. Bukan kopi gula. Gula pasir memberi rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. Orang menyebut roti manis, bukan roti gula. Orang menyebut syrup pandan, sirup apel, sirup jambu, padahal bahan dasarnya gula,” ujarnya.
Gula tetap ikhlas larut dalam ”benda” untuk memberi rasa manis. Namun, apabila berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut penyakit gula. “Begitulah hidup,” ujarnya mendalam.
“Kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang, tapi sedikit saja khilaf salah dilakukannya, maka akan dibesar-besarkan. Ikhlaslah seperti gula. Larutlah seperti gula. Tetap semangat memberi kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan, karena kebaikan tidak untuk disebut, tapi untuk dirasakan. Banggalah jadi guru,” ujarnya. (ais)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.