Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.4%

0.9%

60.8%

2.3%

0.2%

4.4%

19.6%

11.4%

0%

0.1%

0%

0%

Guru Mesti Miliki Keahlian Mengajar ABK

47
0
MENGAJAR. Ketua Resource Center SLBN Tamansari dan Pengurus Pokja Sekolah Inklusi Jawa Barat Rahmat Syafi’i MPd mengajar ABK di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tamansari Senin (6/1). FATKHUR RIZQI / RADAR TASIKMALAYA
MENGAJAR. Ketua Resource Center SLBN Tamansari dan Pengurus Pokja Sekolah Inklusi Jawa Barat Rahmat Syafi’i MPd mengajar ABK di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tamansari Senin (6/1). FATKHUR RIZQI / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Mewujudkan komitmen Kota Tasikmalaya sebagai Kota Pendidikan Inklusif, maka perlu adanya penguatan sumber daya manusia (SDM) guru dari semua jenjang pendidikan.

Diharapkan guru bisa memahami cara melayani pembelajaran bagi disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pendidikan inklusif ini diatur oleh Pemendiknas RI Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusi, serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Dr H Dadang Yudhistira SH MPd menjelaskan, dengan adanya Peraturan Wali Kota (Perwalkot) Nomor 46 Tahun 2014 mestinya ada keberpihakan pemerintah daerah terhadap mutu pendidikan anak usia sekolah dari kelompok disabilitas.

Sebab, tambah dia, ABK memiliki hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, sama seperti anak-anak usia sekolah pada umumnya.

Dengan begitu, harus adanya pendidikan dan latihan khusus bagi guru di sekolah umum agar kompeten dan memiliki keahlian untuk melayani ABK dalam proses belajar-mengajar.

“Sejalan dengan prinsip pendidikan yang tidak diskriminatif sesuai ketentuan Undang-undang, sejatinya ABK mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya. Peran guru menentukan adanya sekolah inklusi di Kota Tasikmalaya,” kata dia kepada Radar, Senin (6/1).

Ia menilai, semua tingkat pendidikan mesti memiliki guru yang berkeahlian melayani ABK. Hal ini perlu dipahami pemerintah dan pengambil kebijakan.

“Sekolah atau satuan pendidikan pada satuan pendidikan SD/SMP/SMA atau sederajat, mesti memiliki tenaga guru khusus yang kompeten dan memiliki kapasitas untuk melayani mereka (ABK, Red) secara bermartabat, khususnya pada sekolah inklusi,” katanya membeberkan.

Suatu hal yang tak bisa dipungkiri, menurutnya bahwa sekolah tidak boleh menolak ABK untuk belajar di sekolah umum.

Idealnya, ABK memanfaatkan layanan sekolah seperti sekolah luar biasa (SLB) agar pertumbuhan dan kebutuhan ABK terlayani secara maksimal, karena di SLB tersedia guru yang ahli dan kompeten.

“Semua pihak tak bisa memaksa ABK masuk SLB, terlebih jika zonasi domisili ABK jauh ke SLB. Atau karena alasan lain, tak memungkinkan mengikuti pendidikan di SLB. Maka, sekolah umum tak bisa menolak kehadiran ABK,” katanya.

Ketua Resource Center SLB Negeri Tamansari dan Pengurus Pokja Sekolah Inklusi Jawa Barat Rahmat Syafi’i MPd menjelaskan sistem layanan pendidikan inklusi pada Abad 21 saat ini lebih humanistik dan sifatnya ramah pada ABK.

“Jadi sekolah inklusi itu lebih humanistik. Untuk itu, guru reguler dituntut kreatif dan punya kesabaran dalam menggali keunikan ABK, sehingga dapat belajar dengan baik,” katanya.

Yang terpenting sekolah inklusi, sambungnya, memberikan pelayanan pendidikan dengan mencari tahu kelemahan dan kelebihan ABK, guru harus mempersiapkan pembelajaran adanya keberagaman, dan mempunyai pembelajaran dengan metode khusus.

“Banyak yang harus dipelajari guru reguler. Bukan sekadar menerima keberagaman, tapi harus bisa melayani keberagaman tersebut,” ujarnya.

Dengan mengenal tentang keberagaman itu, guru bisa tahu cara memecahkan kompleksitas permasalahan ABK yang mempunyai hambatan fisik, sosial, emosi dan intelegensi. (riz)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.