Sebelum Meninggal, Kirim Pesan Lewat Whatsapps

Guru SMPN 1 Salopa, Tasikmalaya Wafat usai keluar dari ATM

327
0

Ajal memang tak bisa ditebak, datang tanpa melihat tua, muda, sakit atau sehat. Seperti yang dialami Guru SMPN 1 Salopa Kabupaten Tasikmalaya Titin Mastini (55.) Almarhum meninggal usai keluar dari ruang salah satu ATM di kawasan Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya Senin (19/11).

Kapolsek Mangkubumi Ipda Agus Fredy mendapat laporan soal adanya warga yang meninggal di depan sebuah kantor bank sekitar pukul 15.30. Titin meninggal mendadak usai keluar dari mesin ATM di kawasan Pasar Cikurubuk. “Orangnya meninggal dan sudah dibawa oleh keluarga,” ungkapnya kepada Radar, Senin (19/11).

Ditanya soal dugaan penyebab kematiannya, Agus Fredy tidak melihat kejanggalan. Namun hasil penyelidikan sementara, Titin mengalami kecapean dan kondisinya drop. “Dugaan karena sakit atau kecapean,” terangnya.

Kejadian tersebut menyita perhatian warga di sekitar lokasi kejadian.

Saat meregang nyawa Titin sempat dibantu oleh Satpam bank ke tempat yang lebih aman. Hanya beberapa saat, sudah tidak terlihat lagi adanya tanda-tanda kehidupan di tubuh Titin.

Menantu Titin, Angga Nugraha (30) mendapat informasi dari adik iparnya. Karena warga di lokasi menggunakan ponsel Titin untuk memberitahu keluarga. “Kebetulan di log panggilan keluar, terakhir komunikasi itu dengan Dede (anak kedua Titin, Red), Dede langsung ngasih tahu saya karena dia di luar kota,” ujarnya.

Keluarga Titin sempat mem­bawanya ke rumah sakit, pen­jelasan pihak medis menyatakan guru Bahasa Indonesia itu sudah tutup usia. Jenazahnya langsung dibawa pulang untuk dikebumikan.

Soal kemungkinan penyakit yang diderita Titin, pihak keluarga tidak mengetahui secara persis. Namun tiga hari sebelum meninggal, Titin mengaku sesak dan sempat diperiksa ke dokter. “Semuanya terbilang normal, hanya saja tensinya yang tinggi,” tuturnya.

Anak-anak Titin tidak me­nyangka ibu mereka akan me­ninggal secara mendadak. Namun demikian, ada sikap Titin yang dinilai tidak biasa beberapa hari sebelum meninggal.

Anak sulung Titin, Asti Anjarani menerangkan hari Minggu (18/11) tidak biasa ibunya menghubungi anak-anak dan menantu berkumpul di rumahnya (kediaman Titin, Red). Tidak ada acara khusus, hanya makan-makan saja. “Yang tidak datang pun di video call, katanya sudah percaya dan tenang menitipkan si bungsu ke kakak-kakaknya,” terang dia.

Seminggu ke depan, Dinda, anak bungsunya yang masih SMA akan berulang tahun. Titin sudah menyiapkan kado. Anehnya kado itu dititipkan kepada Asti. “Mamah kok sudah nyiapin kado, terus kenapa dititip ke saya padahal yang tinggal serumah (dengan Dinda, Red) kan mamah,” terangnya.

Ada pun pesan terakhir dari sang ibu kepada keluarga yakni pukul 09.00 Senin (19/20) yang dikirim ke grup Whatsapp keluarga.

Isi pesannya adalah mengingatkan kepada anak-anaknya untuk sering beristigfar. Rezeki yang harus disyukuri bukan hanya materi, tapi juga kesehatan, ketenangan kedamaian dan keikhlasan. “Beberapa hari terakhir Mamah memang sering ngasih wejangan, terakhir itu ya yang di grup,” katanya.

Titin sudah lama berprofesi sebagai guru. Dia diangkat sebagai PNS tahun 1984 dan ditempatkan di SMPN 1 Salopa sebagai guru Bahasa Indonesia. Sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah punya keinginan untuk pindah tempat dinas. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.