Hanya Nyinyir, Oposisi di Indonesia Tak Berprestasi

148
0

JAKARTA – Hasil pemilu di Malaysia diyakini tak signifikan memengaruhi peta politik di Indonesia jelang Pemilu serentak 2019. Pasalnya, ada beberapa perbedaan yang nyata antara kondisi perpolitikan di Indonesia dengan Malaysia.

“Pertama yang harus dilihat, hal yang membawa kemenangan Mahathir Muhammad itu karena dia merupakan politikus ulung. Kemudian, kelompok oposisi-nya juga sangat kredibel,” ujar pengamat politik Adi Prayitno kepada JPNN, Minggu (20/5).

Pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta ini membandingkan tokoh oposisi di Indonesia dan Malaysia. Oposisi di Indonesia terkesan tidak memiliki prestasi selain nyinyir pada pemerintah.

“Kemudian soal isu yang diangkat, di Indonesia cenderung hanya mendaur ulang isu-isu lama dan itu saya nilai kontra-produktif. Misalnya, terkait isu SARA dan HAM, saya kira ini membuat ceruk pemilihnya itu-itu saja,” ucap Adi.

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute ini menyarankan, oposisi di Indonesia harus lebih kreatif membangun kepercayaan publik jika ingin mendulang kesuksesan oposisi di Malaysia.

“Misalnya, tidak lagi main isu SARA dan HAM. Harus melihat secara jernih kondisi yang ada. Ingat, incumbent di Malaysia itu kalah karena akumulasi persoalan yang sudah sangat lama,” katanya.

Adi kemudian menyebut tiga syarat utama jika oposisi di Indonesia menjadikan hasil pemilu di Malaysia sebagai acuan untuk memenangi Pilpres 2019 mendatang.

“Oposisi harus kredibel, tokoh dan elitenya harus punya prestasi yang layak dibanggakan. Kemudian, sepertinya membutuhkan waktu lama atau sekitar 60 tahun untuk menggulingkan kekuasaan yang ada. Lho iya dong, mereka (oposisi di Malaysia) kan mmbutuhkan waktu 60 tahun. Jadi mungkin Indonesia butuh sekitar 30-40 tahun lagi. Agak berat memang,” pungkas Adi.

(gir/jpnn)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.