Hapus Buku, Tekan Kredit Seret

6

JAKARTA – Perbankan BUMN gencar melakukan hapus buku (write off) kredit macet untuk mempercantik rasio kredit macet atau NPL (non-performing loan). Selama semester pertama 2018, total nilai hapus buku perbankan BUMN mencapai Rp 20,2 triliun.
Perbankan BUMN tersebut adalah BTN, BRI, Mandiri, dan BNI.

Perinciannya, nilai hapus buku BNI hingga Juni 2018 mencapai Rp 4,3 triliun, Bank Mandiri Rp 7,9 triliun, BRI Rp 5,6 triliun, dan BTN Rp 2,4 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, angka hapus buku Bank Mandiri telah mengecil daripada akhir tahun lalu yang mencapai Rp 11,6 triliun. Pihaknya mengakui, dalam dua tahun terakhir, nilai hapus buku Bank Mandiri cukup besar lantaran terdampak kondisi ekonomi pada 2016 dan 2017. ”Khususnya di sektor komersial, menengah. Di sektor-sektor yang beragam seperti baja, konstruksi, transportasi, dan sebagainya,” katanya Selasa (21/8).

Hapus buku tersebut diharapkan dapat berdampak positif terhadap penurunan rasio kredit macet atau NPL Bank Mandiri pada tahun mendatang. Meski demikian, bank memastikan bahwa kebijakan tersebut dilakukan melalui prosedur ketat sesuai persyaratan yang ditetapkan. Termasuk provisi atau pencadangan kerugian minimal 100 persen.

Bank pun masih mengharapkan tambahan pendapatan dari pemulihan kredit seret yang sudah dihapus buku. Pemulihan terjadi lantaran kredit yang dihapus buku tidak dihapus tagih dan masih tercatat di rekening administrasi (off balance sheet) bank.

Dengan begitu, petugas bank terus berupaya mengejar pengembalian dari debitor terkait. BRI, misalnya, berhasil mendapatkan pemulihan kredit Rp 2,4 triliun atau 43,15 persen terhadap hapus buku perseroan senilai Rp 5,6 triliun.

BNI juga mendapatkan pemulihan kredit Rp 1,047 triliun dari total nilai hapus buku perseroan. Meski demikian, nilai hapus buku BNI meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai Rp 3,472 triliun dengan pemulihan Rp 1,096 triliun.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, debitor yang dihapus buku merupakan golongan 5 atau debitor macet. ”Telah dilakukan berbagai upaya penyelamatan, tetapi tidak terdapat potensi perbaikan. Dengan melakukan hapus buku tersebut, kami mengharapkan recovery yang maksimal,” terang Baiquni.

BNI juga melakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp 27,958 triliun selama semester pertama 2018. Dari sisi kolektivitas, 50,9 persen kredit yang direstrukturisasi BNI berstatus lancar. ”Ada sedikit bermasalah. Ada gejala bermasalah langsung ambil langkah penyelamatan,” katanya.

Anggota Komisi VI DPR RI Iskandar D. mengatakan, perbankan memang berada di posisi yang sulit mengenai hapus buku. Sebab, jika tidak dilakukan hapus buku, NPL perbankan bisa meningkat. ”Berbicara mengenai write off memang semakin meningkat karena posisi NPL harus terjaga di bawah 5 persen. Write off itu terpaksa harus dilakukan karena langkah restrukturisasi sulit dijalankan,” tandasnya. (vir/c25/fal/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.