Harga Bawang di Garut Anjlok, Petani Merugi

55
0
PANEN. Petani bawang merah di kampung Batugede Bayongbong memanen bawang. Saat ini harga bawang merah anjlok. Yana Taryana / Rakyat Garut
Loading...

BAYONGBONG – Para petani bawang merah di Kabupaten Garut, mengeluhkan anjloknya harga jual bawang merah pada masa panen raya tahun ini.

Anjloknya harga bawang merah ini, salah satunya suplai bawang merah dari wilayah lain yang melimpah, sehingga berdampak buruk pada harga bawang merah dari petani Garut.

Ate (47), salah seorang petani bawang merah di Kampung Batugede, Desa Sukamanah, Kecamatan Bayongbong, mengatakan penurunan harga jual bawang merah pada saat panen raya kali ini, akibat serentaknya musim panen di beberapa daerah penghasil bawang merah, seperti di Brebes dan daerah lainnya.

“Stok dari daerah lain melimpah, jadi harga bawang dari petani murah,” ujarnya saat ditemui di kebunnya, kemarin.

Menurut dia, dengan harga yang anjlok ini, penghasilan dari 1.400 meter persegi lahan bawang merah, saat ini dirinya hanya bisa mendapatkan Rp 6,5 juta.

Loading...

Baca juga : Penuh, RSUD Garut Hanya Terima Pasien Covid-19 Begejala Berat

Biasanya lahan seluas itu ketika harga bawang normal, bisa mendapatkan harga jual hingga Rp 15 juta satu kali panen. “Jelas rugi besar padahal biaya produksi mencapai Rp 8 juta,” ujarnya.

Ate menerangkan, saat ini harga serap pasar terhadap hasil bawang petani rata-rata berada di interval Rp 7-8 ribu per kilogram, harga itu turun drastis dibanding panen raya sebelumnya di angka Rp 25 ribu.

Akibat anjloknya harga bawang ini, dampaknya bisa dirasakan langsung para petani bawang merah di Garut, mengalami kerugian yang besar, biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai jual bawang merah yang rendah.

Hal senada disampaikan Adul (45), petani bawang merah lainnya. Akibat melorotnya nilai jual bawang saat panen kali ini, ia memilih realistis untuk menjual bawang sesuai harga pasar.
“Kami pasrah saja, mau disimpan dulu juga enggak punya tempat simpan, minimal bisa untuk modal tanam lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sukamanah Entam Rustam mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir wilayahnya telah menjadi sentra bawang merah di Garut.

“Wilayah kami juga terbilang tepat untuk bercocok tanam bawang merah,” ujar dia.

Dengan potensi itu, warga sekitar mulai beralih menanam bawang merah karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding palawija lainnya.

“Di Desa Sukamanah ini setidaknya ada 80 persen petani yang bertanam bawang merah,” ujarnya.

Namun sayang, khusus tahun ini, musim panen yang relatif bersamaan, menyebabkan harga jual bawang merah merosot drastis. Akibatnya, banyak petani bawang merah di desanya yang tidak mendapatkan keuntungan.

“Petani bawang di sini banyak yang rugi, sehingga sekarang belum bisa menanam bawang lagi karena tidak ada modal,” ujarnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.