Harga Gas di Indonesia Paling Stabil

58
0

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga gas di Indonesia terbilang paling kompetitif di regional ASEAN.

Juru bicara Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi membuat pasokan dan harga gas industri di Indonesia relatif stabil.

“Kalau kita lihat lebih detail perbandingan dari titik referensi yang sama, harga hulu di Indonesia sebesar USD 5,3/MMBTU, ini terbilang kompetitif,” paparnya di Jakarta Senin (15/7).

Ia juga membandingkan harga gas di tiga negara Asia Tenggara yang memiliki perekonomian kuat. Thailand mematok harga gas di hulu sebesar USD 5,5/MMBTU dan Malaysia sebesar USD 4,5/MMBTU. Sementara harga gas di Singapura jauh di atas USD 15/MMBTU.

“Bahkan kalau dibandingkan dengan Tiongkok yang ekonominya kian menggeliat harga gas di hulu telah mencapai USD 8/MMBTU, ini artinya gas kita terbilang paling murah,” paparnya.

Jika dicermati lebih lanjut, harga gas Malaysia memang lebih rendah. Kendati demikian, rendahnya harga gas di Malaysia ditopang dari struktur biaya pembentukan gas yang menerapkan Regulation Below Cost (RBC).

“Sistem RBC menuntut adanya penerapan subsidi sehingga membuat harga gas di Malaysia lebih murah. Sementara, Indonesia secara regulasi berbeda, ” jelas Agung.

Sementara di Thailand dan Tiongkok menjalankan model indiksasi ke harga minyak. Artinya, harga gas akan mengikuti pergerakan harga minyak (gas pipa). Jika harga minyak naik, maka harga gas akan naik. Begitu pula sebaliknya. “Skema ini mendorong tingginya tingkat fluktuasi sehingga menyebabkan ketidakstabilan harga gas,” ungkapnya.

Indonesia sendiri, imbuh Agung, menerapkan skema Regulation Cost of Services (RCS). Jadi, penetapan harga gas berdasarkan keekonomian di setiap mata rantai. Skema ini cocok diterapkan di Indonesia karena tidak mengikuti harga minyak dan tidak menimbulkan volatilitas. “Ini yang membuat harga gas di Indonesia cukup stabil,” tegasnya.

Kestabilan harga gas terlihat pada catatan harga gas pipa domestik dari tahun 2008 hingga April 2019. Pada tahun 2008, gas pipa domestik sebesar USD 4.83/MMBTU. Sementara, pada April 2019 sebesar USD 5,87/MMBTU.

Dalam kurun 11 tahun, gas pipa domestik hanya terkoreksi sebesar USD 1,04/MMBTU. Kalau dibandingkan dengan pergerakan ICP dalam kurun waktu yang sama, fluktuasi ICP punya selisih USD 34,58/barrel. “Ini sebatas gambaran umumnya,” singgung Agung.

Kendati demikian, pemerintah akan terus mendorong struktur biaya energi di Indonesia makin kompetitif sehingga harga gas di level plant gate bisa lebih rendah dari rata-rata biaya sekarang, yaitu sebesar USD 9/MMBTU. “Kami terus mencari formula baru untuk menekan harga gas sampai ke tingkat akhir pengguna,” terang Agung. (rls/fin/tgr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.