Harus Kompak Perangi Pil PCC

304
0

Ulama dan Tokoh Desak Usut Tuntas Kasus Pil Koplo
TASIK – Pengungkapan kasus pembuatan pil PCC atau pil koplo yang diduga melibatkan empat warga Tasik, tidak hanya mengagetkan publik. Namun juga membuat mereka geram. Tokoh pemuda, ulama dan tokoh masyarakat kompak bersuara memerangi peredaran pil yang menyasar remaja dan pelajar tersebut.
Ketua GM FKPPI Kabupaten Tasikmalaya Dr H Iwan Saputra SE mengaku kaget saat mengetahui bahwa SA alias Ronggo, salah satu bos pembuatan pil PCC di Semarang berasal dari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. ”Itu harus dihukum seberat-beratnya,” ujarnya kepada Radar, Rabu (6/12).
Iwan pun mengajak semua pihak mewas­padai peredaran Pil PCC di wilayah Tasik­malaya, kare­na efeknya sangat ber­bahaya bagi kesehatan dan bisa merusak generasi muda.
”Bagi orang tua, harus jeli dalam mengawasi anaknya supaya tidak terjerumus men­coba Pil PCC dan jenis narkoba lainnya karena sangat berbahaya bagi masa depannya,” ajaknya.
GM FKPPI Kabupaten Tasikmalaya, kata Iwan, menyatakan perang terhadap peredaran Pil PCC dan narkoba di wilayah Tasikmalaya. Pihaknya akan bekerja sama dan membantu aparat untuk melakukan pengawasan di masyarakat. Jangan sampai, kata dia, obat yang bisa membuat fly itu beredar. “Karena jika sampai dikonsumsi oleh anak-anak muda akan merusak mental dan fisik generasi muda,” terangnya.
Ansor: Kita Kecolongan
Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim memuji kinerja Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian yang berhasil mengungkap kasus pabrik pil PCC di Semarang. Di sisi lain, warga Kabupaten Tasikmalaya kecolongan karena ada tiga pekerja dan satu bos yang membuat pil koplo itu asal Tasikmalaya.
”Pertama saya mengapresiasi kinerja kepolisian (dan BNN) yang sudah mengungkap dan menangkap pelaku pembuat pil PCC, termasuk pelaku asal Tasikmalaya. Kita (juga) kecolongan. Sehingga kita harus meningkatkan kerja sama antar semua kelompok. Yang banyak menjadi korban, anak-anak sekolah,” ujar Asep Muslim saat dihubungi tadi malam.
Ke depan, kata Asep, harus ada kerja sama antara tokoh masyarakat, orang tua dan guru agar anak-anak tidak sampai menjadi korban pil PCC.
”Tetap harus dipantau. Jadi di sekolah yang memantau adalah guru. Di luar sekolah orang tua jangan sampai lepas pantauan,” kata Asep.
Dalam kesempatan berbeda, Ketua KNPI Kabupaten Tasikmalaya Nana Sumarna mengatakan penangkapan pelaku pembuat PCC asal Tasikmalaya telah mencoreng wajah Tasikmalaya. ”Ini sangat parah sekali, ada orang Tasik yang ikut memproduksi pil PCC dan mengedarkannya,” kata Nana.
Jadi semua pihak, kata Nana, untuk waspada jika ada pendatang atau warganya yang eksklusif atau tertutup, maka harus ditanyakan asal-usul kerjanya.
”Semua bukan hanya aparat hukum saja. Kewajiban generasi mudah harus terus waspada,” ujarnya.
Penemuan Barang Bukti Jadi Warning
Penemuan ribuan pil biru yang diduga PCC di rumah Ronggo d Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya dua hari lalu, harus diselidiki latar belakangnya. Jangan sampai pil berbahaya itu tersebar dengan mudahnya di wilayah Tasikmalaya.
Tokoh ulama KH Aminudin Bustomi mengaku prihatin dengan terungkapnya bos besar dan penemuan ribuan pil PCC di Tasikmalaya. KH Aminudin khawatir hal itu layaknya fenomena gunung es di mana barangnya tanpa diketahui sudah beredar. “Siapa yang tahu kan, makanya diselidiki lebih lanjut pengungkapan itu,” ungkapnya kepada Radar.
Tokoh masyarakat Tasikmalaya AKBP (Purn) H Yono Kusyono juga mengatakan pengungkapan kasus pil PCC, dengan sebagian tersangkanya warga Tasikmalaya, merupakan bukti bahwa kejahatan selalu mengintai di mana saja. Untuk itu langkah preventif dan tindakan represif harus terus dilakukan untuk menjaga generasi muda dari obat-obatan berbahaya. “Karena ternyata tidak jauh-jauh, di Tasik juga ada bahkan bosnya di sini,” ujarnya.
Dalam kesempatan berbeda, salah satu tokoh Tasikmalaya Ustad Syamsuri mengatakan pengungkapan kasus pil PCC harus menjadi cambuk bagi instansi-instansi terkait untuk meningkatkan upaya menjaga masyarakat agar masyarakat tidak terdampak dari obat yang memabukkan itu. “Soal obat ini kan dampaknya bukan untuk satu dua orang, makanya patut menjadi prioritas (pemberantasan, Red),” tegasnya.
Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya H Ricky Assegaf mendorong aparat memperketat untuk pengawasan terkait peredaran obat-obat berbahaya di Tasikmalaya. Pihaknya bersama Barisan Ansor Anti Narkoba (Baanar) siap untuk menjadi backup aparat dalam melakukan upaya tersebut. “Karena ini perlu kerja sama dari semua pihak, kami pun siap untuk memabantu,” terangnya.
Enan Suherlan dari Pemuda Muham­ma­diyah Kota Tasikmalaya mengatakan meskipun peredaran PCC di Tasikmalaya belum ditemukan, keberadaan ribuan obat pil biru yang diduga pil PCC di rumah Ronggo di Pagerageung Selasa (5/12) menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Untuk itu polisi juga BNN perlu menyelidikinya untuk memastikan generasi muda di Tasikmalaya terselamatkan dari bahaya PCC.
“Pembuatannya dilakukan di Semarang, ditemukan ada 5.535 butir di rumahnya dan Ronggo mengaku belum pernah mengonsumsinya,” tuturnya.
Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman mengaku belum mengetahui secara jelas alasan Ronggo menyimpan ribuan obat tersebut di rumahnya. Karena di sisi lain belum ada temuan beredarnya pil itu di masyarakat. “Bisa jadi hanya transit sebagai sampel untuk dikirim ke suatu tempat,” tuturnya.
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya, sebelumnya, melakukan penggeledahan di rumah SA alias Ronggo, tersangka bos pabrik pil PCC Selasa (5/12). Di kediaman mewah di Kampung Balananjeur Desa Pagersari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya, petugas BNN menyita 5.535 butir pil biru dan data transaksi uang masuk dan keluar dengan total jumlah Rp 2 miliar.
Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman menjelaskan pihaknya baru-baru ini memang sedang melakukan penyelidikan terkait peredaran obat keras. Tanpa sepengetahuannya, BNN pusat mengamankan warga Tasikmalaya, Ronggo dan tiga orang pria asal Tasik lainnya. Mereka diduga memproduksi pil PCC di Semarang. “Kita datang ke sana (ke rumah Ronggo, Red) dan cari informasi juga,” tuturnya di tempat kerjanya, Selasa (5/12).
Menurutnya, BNN pusat sebelumnya hanya melakukan penangkapan di Pagerageung, tanpa penggeledahan di rumah Ronggo. Untuk itu, pihaknya pun meminta izin kepada keluarga Ronggo untuk melakukan penggeledahan di rumah mewah yang memiliki kolam renang dan garasi luas itu. “Alhamdulillah keluarganya kooperatif dan di lokasi juga tidak ada police line jadi kita bisa punya akses,” tuturnya.
Dalam penggeledahan itu, kata Tuteng, BNN menemukan ada satu pil biru yang tergeletak di sebuah lemari di dalam kamar. Setelah diperiksa lebih lanjut ditemukan ribuan pil lainnya di dalam plastik yang dikemas lagi dengan kardus bekas air mineral. Jumlahnya mencapai 5.535 butir. Jika diuangkan diperkirakan mencapai Rp 16 juta.
“Tadinya hanya ditemukan satu, ternyata ada banyak sampai ribuan,” jelasnya.
Selain ribuan pil PCC, BNN juga menemukan lembaran faktur dan berkas transaksi uang masuk dan keluar di sebuah dashboard mobil di rumah Ronggo. Jumlahnya cukup bombastis, karena setiap transaksi jumlahnya ratusan juta sampai miliaran. “Omzetnya ternyata miliaran, ini di bulan Oktober saja. Totalnya sampai Rp 2 miliar,” katanya.
Barang bukti yang berhasil diamankan BNN Kota Tasikmalaya lalu diserahkan ke Polres Tasikmalaya Kota untuk diproses lebih lanjut. Polisi juga akan melakukan koordinasi dengan BPOM untuk memastikan kandungan dalam pil tersebut. (yfi /dik/rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.