Pengurus Persikotas Harus Saling Percaya, Saling Mendukung

30
MEDALI EMAS. Deri Daswara menunjukkan medali emas Liga 3 yang diraih Persikotas 2008. FIRGIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

Pengurus Persikotas 2006-2008 Deri Daswara mengomentari polemik di tubuh Laskar Wiradadaha. Menurutnya, membangun tim yang solid, bukan perkara mudah. Apalagi waktunya relatif singkat. Chemistry seluruh komponen baik manajemen, ofisial sampai pembantu umum harus satu visi.

“Membangun tim harus saling percaya, menghargai peran dan tanggung jawab masing-masing. Apa pun perjuangan di lapangan, semua komponen turut berjuang, sebab sepak bola bukan soal bermain di kotak hijau (stadion, Red),” ucap Deri memaparkan saat ditemui Radar di Jalan AH Nasution, Jumat (15/3).

Ketika menyusun kesebelasan, kata dia, perlu adanya kesepakatan ketua dan ofisial. Termasuk menentukan pelatih serta pemain. Dia berkaca pada periode 2006-2008.

“Saat itu, tujuh pemain asli daerah sisanya dari luar daerah. Kita putuskan karena memang potensi kita saat itu baru sebatas tujuh atlet saja,” tuturnya.

Soal anggaran, sarannya harus terestimasi. Manajemen harus bisa mengalkulasi kebutuhan tim mulai satu putaran, sampai sesi kompetisi berakhir di putaran nasional.

Ketika tim kandas di tengah jalan, sisa anggaran, yang disiapkan bukan untuk panitia atau pengurus, melainkan untuk latihan dan pembinaan. “Jadi perlu perencanaan yang matang. Maka kami persiapan menghadapi pertandingan, tidak pernah mepet. Selain siapkan amunisi (anggaran, Red) juga menyiapkan soliditas pemain,” jelas dia.

“Ke mana pun tim bertanding, tidak selalu ketua turut serta. Namun, apa pun kebutuhan tim dalam menunjang pertandingan selalu terpenuhi. Ofisial tak perlu mencari-cari anggaran ketika butuh selalu disiapkan,” terangnya melanjutkan.

Mantan Sekretaris Disporabudpar Kota Tasikmalaya ini menjelaskan, ketersediaan anggaran tidak terlepas dari kepiawaian ketua melobi sponsor atau pihak pendonor. Tentunya, kocek pribadi para pengurus juga saat itu kerap dikeluarkan.

“Sampai alhamdulillah waktu itu pertandingan yang kami ikuti di Awal Februari sampai Desember 2008 membuahkan hasil. Juara 1 Liga 3 tingkat Nasional,” tuturnya, bangga.

Deri bercerita kala itu Persikotas yang dipimpin (alm) H Endang Suhendar dan didampingi Drs Edi Hernawan MPd, Yogi, Dani Suryabuana, Oteng Ramona, termasuk pembantu umum Jojo dan Edi, mengelola Persikotas penuh rasa kekeluargaan. Ketika, mess pemain harus pindah dari lokasi satu ke lokasi lain, tak sungkan ketua umum dan jajaran ikut serta mengangkut kasur atlet.

“Peralatan latihan, seragam anak-anak, kita ikut semua saat harus pindah mess. Karena anggaran juga waktu itu terbatas,” ujarnya bercerita.

Termasuk, kata dia, ketika para pengurus memiliki waktu luang, mess para atlet sering mereka kunjungi. Itu memunculkan kedekatan emosional antara manajemen dengan pemain. Bahkan, pemain dan pelatih serta pengurus kerap diundang ke kediaman (alm) Endang. Di sana mereka sekadar makan bersama. “Itu yang kita rasakan saat pengalaman dulu,” jelas Deri mengenang. (igi)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.