Helmi: Alhamdulillah Tak Ada Lagi Pasien Corona di Kluster Pesantren di Cipari Garut

153
0
istimewa PENCEGAHAN. Gubernur Jawa Barat H Ridwan Kamil dan Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman saat meninjau salah satu pesantren beberapa waktu lalu.

WAKIL Bupati Garut dr Helmi Budiman memastikan tidak ada penambahan kasus baru penularan Covid-19 di lingkungan pesantren.

“Alhamdulillah untuk klaster pesantren, sekarang tidak ada penambahan kasus baru. Baik yang di Cipari maupun di pesantren lain,” ujar Helmi kepada wartawan, Minggu (1/11).

Meski begitu, tetap harus waspada dengan mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularannya. Hal itu karena, potensi penularan Covid-19 di Garut maupun daerah lainnya masih terjadi, sehingga kewaspadaan tetap harus dilakukan.

Pemkab Garut, kata dia, melalui Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Garut terus bergerak menelusuri dan menangani warga yang terpapar positif Covid-19.

Baca juga : Saat Pandemi, Emak-emak DP2KBP3A & GOW Garut Lakukan Ini..

Penelusuran salah satunya dilakukan di pondok pesantren dengan melakukan tes usap kepada para santri, guru maupun pengasuh pesantren yang hasilnya tidak ada penambahan kasus.

“Mudah-mudahan tidak bertambah lagi di kalangan santri maupun masyarakat,” terangnya.

Helmi mengajak seluruh elemen masyarakat bergerak bersama dalam mencegah dan memutus rantai penularan Covid-19 dengan selalu pakai masker, rajin cuci tangan, tidak berkerumun, dan menjaga pola hidup sehat.

Pemkab Garut, lanjut dia, sudah menerjunkan tim sukarelawan dari berbagai komunitas maupun kelompok masyarakat untuk terjun ke lapangan menyosialisasikan aturan dan penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat Garut.

“Kalau yang terkait dengan Covid-19, kita sama-sama terjun di lapangan, dari pemerintah daerah juga ada relawan-relawan,” terangnya.

Sementara itu, Ustaz Ervan Sofari, Ketua Tim Penanganan Covid-19 Pesantren Darussalam Kersamanah mengungkapkan di masa pandemi Covid-19, pihaknya melakukan pengetatat orang yang masuk lingkungan pesantren.

Hal itu dilakukan sebagai upaya dalam mencegah terjadinya penularan Covid-19 di lingkungan pesantren. “Pengetatan ini kami sudah lakukan sejak kegiatan belajar mengajar di pesantren kembali diperbolehkan,” ujarnya.

Ervan menerangkan dibukanya kembali pembelajaran di lingkungam pesantren karena pembelajaran jarak jauh kurang efektif dilakukan, karena ada beberapa mata pelajaran yang memang betul-betul harus dilakukan secara tatap muka.

Apalagi, selama ini di lingkungan pesantren diwajibkan menggunakan bahasa pengantar Arab dan Inggris dalam kesehariannya.

Namun mengembalikan para santri ke pondok, menurutnya bukanlah hal yang mudah. Hal itu dikarenakan jumlah santri putra dan putri di pondoknya mencapai 2.000 orang dan tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Kita harus memutar otak juga, karena ada beberapa santri yang tinggal di kabupaten/kota yang zona merah,” ucapnya.

Akhirnya, kata Ervan, diambil pilihan santri kembali ke pondok dengan sejumlah syarat yang harus dilakukan oleh para santri dan orang tua walinya.

Baca juga : Pemkab Siapkan Lahan Pemakaman Baru untuk Warga Garut Kota

Sebelum kembali, para santri harus isolasi mandiri di rumah selama 2 minggu dan ditandatangani oleh aparat pemerintah setempat, melampirkan hasil tes kesehatan, sampai harus diantarkan oleh keluarga sampai gerbang pesantren.

“Selain itu, kami juga sempat memisahkan santri dari zona merah, kuning dan hijau. Kalau dari zona hitam kita tidak ada. Kita isolasi lagi mereka di pondok. Dan kebijakan terakhir, orang tua santri tidak boleh masuk ke area pondok, dan itu sampai sekarang kita berlakukan,” jelasnya.

Saat ini, kata dia, bahwa para orang tua atau wali santri hanya bisa menitipkan barang untuk anak-anaknya melalui petugas yang berjaga di pos yang disiapkan, baik di kompleks putra maupun putri. Mereka sama sekali tidak diperkenankan bertemu langsung menemui anaknya.

Barang yang dititipkan oleh para orang tua dan wali santri, sebelum diberikan akan terlebih dahulu disemprot desinfektan oleh petugas ber APD lengkap. Saat dinyatakan sudah steril, paket tersebut pun kemudian diberikan.

“Semuanya begitu. Termasuk juga tamu ke para guru atau kiai juga sama kita ketatkan sebagai upaya pondok untuk mencegah virus corona masuk pesantren,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.