Hidup Sebatang Kara, UU Tinggal di TPU

67
TUMPANG KARANG. Uu saat ditemui di sekitar tempat tinggalnya Selasa (13/8). Ia tinggal di rumah yang berada di lahan milik orang lain. Cecep herdi / Radar tasikmalaya
TUMPANG KARANG. Uu saat ditemui di sekitar tempat tinggalnya Selasa (13/8). Ia tinggal di rumah yang berada di lahan milik orang lain. Cecep herdi / Radar tasikmalaya

BANJAR – Uu (56) warga Bobojong RT 02 RW 08 Kelurahan Pataruman Kecamatan Pataruman hidup sebatang kara.

Dia tinggal di gubuk berukuran 2×1,5 meter di pelataran tempat pemakaman umum (TPU), tepat di belakang kantor Dinas Perhubungan Kota Banjar.

Gubuk Uu hanya berjarak 2 meter dengan pemakaman warga. Di sana, dia tinggal di tanah milik orang lain (tumpang karang).

“Abdi mah tos biasa nyalira kieu. Ah teu sieun nanaon da teu gaduh tempat deui kange calik. Iyeu ge tanahna nu batur sanes nu abdi,” kata Uu Selasa (13/8).

Di usia senjanya, Uu hidup serba keterbatasan. Ia tak memiliki pekerjaan. Tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk bekerja keras.

“Abdi mah teu gaduh putra, kieu we nyalira. Salaki (suaminya) abdi tos pupus dua tahun kapengker,” akunya. Sebelum suaminya meninggal, Uu sempat berjualan di pasar. Namun kini dia tak punya modal untuk usaha.

Ia tak berharap banyak dalam menjalani hari tuanya. Cukup pemerintah kota menyediakan lahan untuknya, dia pun merasa tenang.

“Nya ibu ge bingung lamun ieu (bangunan rumah, Red) diange deui kange makam, ibu pasti kedah ngalih. Tah ngalihna eta duka bade kamana deui teu terang. Pami bantuan mah kenging beras sasaih lima kilo,” ujarnya.

Ia mengaku lahir di Kota Banjar. Orang tuanya yang bukan dari kalangan warga mampu dalam ekonomi tak bisa memberikan warisan tanah kepadanya.

“Pami cai abdi sok ngala kaditu (dekat kantor Dishub), soalna teu aya sumur didieu mah,” kata perempuan yang tak fasih berbahasa Indonesia.

Selain Uu, di komplek pemakaman ada juga beberapa keluarga dengan kondisi yang sama, tumpang karang. Seperti Entin Karlina (67). Di lokasi yang tidak jauh dari gubuk milik Uu, Entin juga hidup berdampingan dengan nisan pemakaman umum.

“Saya lahir di Banjar, asli dari Banjar. Memang saya dari keluarga tidak mampu. Orang tua saya tidak memiliki harta yang diwarisankan ke saya. Saya juga sama, diam di rumah tapi yang punya pak haji Tatang. Alhamdulillah saya diizinkan tinggal di sini,” katanya.

Sama seperti Uu, Entin ingin sepetak lahan untuk rumah milik pribadi untuk tempat tinggalnya. Ia mengaku selalu waswas jika suatu saat tidak diizinkan lagi tinggal di sekitar pemakaman.

“Upami aya nu masihan mah nuhun pisan, da eta harepan abdi hoyong gaduh tanah nyalira,” harapnya.

Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Banjar Asep Tatang mengatakan pihaknya hanya menyalurkan bantuan seperti beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“Kalau bantuan rumah mah ada di PU (Dinas PUPRPKP) kang, kita paling mangurusi soal bantuan rastra atau program bantuan pangan non tunai,” katanya.

Kepala Bidang Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPRPKP Kota Banjar Acep Daryanto mengatakan tidak ada program untuk pengadaan lahan bagi masyarakat yang tumpang karang. Adapun bantuan seperti rutilahu hanya bantuan untuk bahan material rumah.

“Tidak ada programnya kang, kalau pengadaan lahan. Ada juga rutilahu tapi itu untuk rumah. Sama seperti dari Baznas, bantuan berupa bahan bangunan,” katanya. (cep)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.