Hidupi Pondok Bermodal Ritual Doa

726
0
Loading...

MALANG – Ustaz Agus Imam Bukhori, nyaris tak mengeluarkan uang untuk membangun Ponpes Tahfidzul Quran Putra Putri Al Falah di Dusun Arjomulyo, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Bahkan, saat ini Agus juga tidak bekerja, tidak pula membuka bisnis untuk menghidupi ponpes.

Lalu, bagaimana caranya ponpes itu tetap eksis?

===============================
Berikut liputan Indra Mufarendra – Radar Malang
===============================

Agus mengenang bagaimana saat dirinya memutuskan untuk membuka pondok pesantren. Berawal dari tanah wakaf seluas 612 meter persegi pemberian salah seorang warga, Agus memulai pembangunan pondok.

Loading...

”Mungkin karena kami sudah mengantongi sertifikat tanah wakaf, banyak pihak yang membantu pembangunan pondok,” ujar Agus.

Lihat: Pencetak Hafiz dari Kampung Tanaka

Bantuannya tak selalu uang. Tapi, banyak yang membantu dalam bentuk bahan bangunan. ”Ada dermawan yang tiba-tiba muncul membawa karung-karung semen,” kata dia. Bahkan, sering kali bantuan itu datang tanpa dia tahu siapa pengirimnya.

”Pernah, pagi-pagi saya lihat sudah ada beberapa boks lantai keramik di depan rumah. Saya tidak pernah tahu siapa pengirimnya,” kata dia.

Derasnya donasi itulah yang membuat pembangunan pondok ini berjalan cepat. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, PP Tahfidzul Qur’an sudah terlihat wujudnya. Yang paling besar, tentu bangunan masjid dua lantai. Di mana lantai dasarnya digunakan sebagai kamar-kamar untuk para santri.

Tak cukup sampai di situ, PP Tahfidzul Qur’an juga mendapatkan bantuan satu unit mobil Suzuki APV dari seorang dermawan.

”Ada orang kaya dari Kediri yang meminta saya menggunakan mobil itu untuk operasional santri,” ujar dia.

Mobil APV berwarna cokelat itu kini dipasang stiker pada kaca belakangnya. Tulisannya seperti ini: Ponpes Tahfidzul Qur’an Putra Putri Al Falah Tanaka Gunung Kawi, Ayo Menghafalkan Qur’an Mudah dan Menyenangkan.

Selain mobil APV, ada pula satu unit mobil pikap berwarna putih.

”Mobil ini milik seorang dermawan dari Gondanglegi. Dulu saya bantu beliau jualan peralatan rumah tangga,” ujar dia.

Ya, Agus memang sempat berjualan peralatan rumah tangga. Keliling dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menggunakan mobil pikap. Tapi itu tak lama. ”Sebab, saya jadi lebih banyak di luar. Kasihan santri saya karena terus-terusan ditinggal,” kata dia.

Akhirnya, Agus berhenti dari pekerjaan itu dan fokus mengurus pondok. Tapi tak disangka, sang dermawan itu malah menyerahkan mobil pikap itu kepada Agus.

”Sebenarnya, mobil-mobil itu bukan milik saya. Jadi, kapan pun pemiliknya bisa mengambil mobil itu kembali,” ujar dia.

Sementara itu, untuk biaya operasional, PP Tahfidzul Qur’an Al Falah juga mendapatkan bantuan dari donatur. Yang paling rutin adalah bantuan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH). ”Dari BMH kami rutin mendapatkan Rp 2 juta per bulan,” kata dia.

Kemudian, PP Tahfidzul Qur’an bekerja sama dengan sejumlah sekolah di Kecamatan Kromengan. Di antaranya, dengan SMP PGRI Kromengan dan MTs Miftahul Huda Kromengan.

”Dengan kerja sama itu, santri kami bisa bersekolah dengan gratis di sana,” ungkap dia.

Agus menyatakan, kelancaran yang dia dapatkan dalam membesarkan pondok itu tak terlepas dari kekuatan doa. Ada amalan rutin yang dilakukan Agus selepas melaksanakan salat Tahajud dan salat Duha.

”Terutama salat Tahajud, kecepatan doa (diterima Allah) itu luar biasa,” kata dia.

Setidaknya, ada tiga hal yang didoakan oleh Agus.

”Pertama, saya berdoa untuk orang tua. Kedua, saya berdoa untuk donatur. Satu per satu saya sebut. Lalu, ketiga, saya berdoa untuk anak-anak tahfidz agar terus mencintai Alquran. Saya tidak pernah berdoa untuk diri saya sendiri,” ujar dia. (***)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.