Pedagang Tasikmalaya Ikut Terkena Imbas

Hilang Rp 200 Miliar Per Hari

115
PRODUKSI. Efek lumpuhnya pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/5). Pembuatan renda di Saguling, Kersamenak, Kawalu mengalami penurunan order.

Pusat bisnis Tanah Abang, Jakarta merupakan pasar yang diisi pedagang dari berbagai daerah, termasuk Kota Tasikmalaya. Lumpuhnya pasar tersebut memberikan kerugian materi kepada pengusaha baik yang belanja maupun berjualan.

Seperti keluarga Ahmad Hidayat di Kampung Saguling Kelurahan Kersamenak Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya.

Menurut anak Ahmad, Wandi Fauzan mengatakan bahwa kios keluarganya di Tanah Abang sudah dua hari tidak buka efek kerusuhan. “Adik saya yang jaga di sana, katanya enggak mungkin kalau buka,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (23/5).

Dalam sehari, laba kotor tokonya bisa lebih dari Rp 10 juta. Maka dari itu, bila kondisi pasar Tanah Abang tidak kunjung normal kerugian akan semakin besar. “Dua hari saja sudah terasa efeknya,” terang dia.

Terlebih, kata Wandi, momen menjelang hari raya Idul Fitri adalah masa panen untuk pedagang pakaian. Pihaknya bisa meraup laba lebih dari Rp 100 juta di masa Lebaran. “Buat penjual baju, masa-masa lebaran itu paling ditunggu,” katanya.

Di samping itu, pihaknya menyesalkan pembatasan akses media sosial oleh pemerintah. Dia sendiri yang menjalankan bisnis jual beli online mengalami penurunan order. “Lumayan juga pesanan via WA, FB dan IG tiap harinya suka ada,” katanya.

Hal serupa juga dialami pengusaha renda, Hendar Pratama (29) yang biasa menerima order dari produsen pakaian. Dia mengalami penurunan order karena banyak konsumennya yang menjual pakaian ke Tanah Abang. “Karena toko di sana tutup, jadi pedagangnya enggak bisa kirim ke sana,” terangnya.

Dia berharap pasar Tanah Abang kembali berjalan normal. Supaya usahanya bisa kembali seperti biasa. “Informasinya Senin sudah buka lagi, mudah-mudahan saja benar,” katanya.

Kerugian juga dialami pedagang pakaian Cikurubuk, Yuyun Yuningsih (46) mengatakan untuk persediaan barang, dia biasa belanja ke pasar Tanah Abang Jakarta. Rencananya, kemarin dia akan berangkat ke Jakarta. “Biasa seminggu sekali belanja ke sana, rencananya hari ini tapi karena tutup jadi batal,” ujarnya.

Baginya, persoalan ini menjadi kerugian karena tidak bisa menyediakan barang-barang jenis baru. Bagaimana pun pihaknya harus bisa menyiapkan pakaian yang diinginkan konsumen. “Apalagi Lebaran, pasti nanyain model-model baru,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan kegiatan unjuk rasa yang berlangsung selama dua hari terakhir berdampak pada aktivitas bisnis perdagangan di Ibu Kota.

“Unjuk rasa pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019 membuat kondisi Jakarta tidak nyaman dan sangat mengganggu psikologis pasar,” ujar dia di Jakarta, Kamis (23/5).

Sarman mencontohkan pada 22 Mei, pusat perdagangan Pasar Tanah Abang dan Thamriun City tutup. Padahal, kata dia, rata-rata pengunjung Pasar Tanah Abang di hari biasa mencapai 150 ribu orang dengan omzet sekitar Rp 4 juta-5 juta per hari.

“Kalau Ramadan ini bisa mencapai 250 ribu orang, dengan omzet mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per hari,” tutur Sarman.

Selain itu, beberapa pusat perdagangan lainnya juga tutup menjelang siang hari. Hasil pengamatannya di kawasan Glodok dan Mangga Dua, seperti Glodok City, Glodok Jaya, Glodok Mangga Besar, WTC Mangga Dua, dan ITC Harco Mas. “Jelas kegiatan kemarin membuat pedagang mengalami kerugian omzet karena kekhawatiran yang dirasakan,” ucap dia.

Begitupun di daerah lainnya, seperti di kawasan Jakarta Timur, sejumlah mal juga tutup. Sedangkan di kawasan Jakarta Selatan, seperti pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Senayan City dan Pondok Indah Mal tetap buka.

“Tapi mengalami penuruan pengunjung hingga 70 persen. Ini karena masyarakat takut keluar rumah, mereka kehawatir melihat situasi yang tidak kondusif,” katanya.

Di menaksirkan melihat kenyataan di atas kerugian bisa mencapai lebih dari Rp 1 triliun hingga Rp1,5 triliun. “Itu belum kerugian di bisnis lainnya seperti pemilik cafe, restoran, transaksi perbankan dan pelaku usaha lainnya yang meliburkan karyawan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” papar dia.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat belum bisa memperkirakan berapa kerugian atas dampak aksi 22 Mei. “Kalau ada dampak, pasti, untuk kerugian material karena tidak bisa kirim barang. Tapi kami belum menghitung berapa kerugiannya,” ujar Ade.

Meskipun demikian, dia melihat kondisi tersebut tidak berlangsung lama sehingga kerugian yang ditimbulkan perusahaan tidak semakin besar.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani melihatnya aksi massa 22 Mei tidak mempengaruhi ekonomi secara signifikan. Hal itu, karena pelaku usaha sudah jauh-jauh hari melakukan antisipasi.

“Kemarin (22/5) sore saya hadir undangan bukber Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang sengaja digelar di 22 Mei, Karena mereka percaya ekonomi Indonesia dan pasca pengumuman tetap baik. Saya rasa itu benar dan harus dipertahankan,” kata mantan direktur pelaksana bank dunia itu. (rga/din/fin)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.