Warga Tasik Korban Palu Dirawat di RSUD

Hindari Gempa, Ngesot Sekitar 10 Kilometer

6

TASIK – Sulaeman, warga Sindanglengo, Sukamaju Kidul, Indihiang, Kota Tasikmalaya menjadi korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.

Dia pun mengalami cedera di bagian kakinya, sehingga harus mendapatkan perawatan medis di RSUD dr Soekardjo sejak pulang ke Tasikmalaya pada Sabtu (6/10).

Saat ditemui Radar, Sulaeman tengah terbaring di ranjang rumah sakit plat merah tersebut. Kaki kirinya dipasang gips karena mengalami patah tulang. Dia dirawat di ruang melati kamar 3 dan ditunggui oleh anak dan istrinya.

Luka Sulaeman memang tidak tergolong parah, hanya bagian tumit kaki saja yang sakit. Namun hal itu menyulitkannya untuk berjalan. Ayah dua anak itu menyambut kedatangan Radar dengan ramah dan menceritakan pengalamannya ketika kejadian gempa di Palu.

Sulaeman menceritakan keberadaannya di Palu berawal saat program transmigrasi tahun 2011 lalu. Dia menjadi peserta dari Kabupaten Tasikmalaya dan dikirim ke Palu menjadi petani, tepatnya di wilayah Tongoa Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi.

Sulaeman tidak sendirian, dia bersama istrinya Ati Sriu Sumaryati (40) dan kedua anaknya Muhammad Azlan (17) dan Fikriana Skimanan (14).

Selama dua tahun, program transmigrasi itu tidak jelas. Sehingga dia banting setir mencari nafkah di bidang lain. Dia bersama keluarga pun pindah ke wilayah Sidera, Kabupaten Sigi dan tinggal di sebuah masjid tempat sekolah anak sulungnya. Sementara anak bungsunya di sekolahkan di pesantren.

Karena mempunyai kemampuan menjadi operator toko, Sulaeman bekerjasama dengan salah seorang warga Tasikmalaya memasarkan aplikasinya. Akhirnya dia menjadi operator aplikasi di lima toko, ada toko kosmetik, obat, material bangunan, apotek, toko pupuk dan onderdil motor di wilayah Palu.

Saat bencana gempa dan tsunami terjadi, sekitar pukul 18.00 di mana Sualeman hendak salat magrib di Masjid An-Nur Jalan Sis Aljufri. Jamaah baru mengangkat tangan melakukan takbiratul ihram namun masjid langsung terguncang.

Jamaah beserta imam salat panik, sebab guncangan yang sangat kencang. Dia melihat jelas bagaimana tiang-tiang dalam masjid bergoyang seakan hendak roboh.

Saat dia hendak keluar, terpeleset dan jatuh. Awalnya dia tidak merasa sakit. Namun beberapa langkah setelah berjalan, rasa perih menjalar di kaki kirinya. Karena ada keretakan di bagian tumit dan membuatnya tidak bisa berjalan. “Saya ngesot sampai pinggir jalan, sekitar 10 meter ,” katanya.

Lalu dia teringat anak istrinya di Sidera, namun tidak bisa berjalan karena cedera. Beberapa orang yang mengendarai sepeda motor hendak membantu namun langsung kabur saat gempa susulan terjadi. “Ada beberapa kali datang (warga), lalu pergi saat gempa, setelah reda baru ada yang menolong membawa saya ke tempat kerja,” tuturnya.

Sulaeman paham orang-orang saat ini sedang panik, pemilik toko langsung membawanya ke masjid DPRD Palu. Di sana sudah banyak pengungsi yang berkumpul. Semalaman dia tidak bisa tidur, selain menahan sakit di kaki, dia pun khawatir dengan kondisi anak istrinya di Sidera, jaraknya sekitar 17 km dari tempat lokasi dirinya.

Hari Sabtu (29/9) dia dibawa ke markas Korem 132/Tadulako. Salah satu perwira Korem berbincang dengannya. Dia pun mengungkapkan soal kondisi kakinya dan ingin bertemu keluarganya di Sidera. “Alhamdulillah komandan itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengantar saya,” tuturnya seraya mengaku lupa nama Komandan Korem tersebut.

Namun kendala kembali datang, jalur akses menuju Sidera terputus. Sehingga dia harus turun di tengah perjalanan, dia pun kembali berharap kepada pengendara yang lewat. “Harapan saya tipis karena saya yakin semua orang juga sedang mencari keluarganya,” kata dia.

Beberapa pengendara motor hanya lewat saja, meskipun dia meminta tolong. Setelah beberapa jam ada salah seorang pengendara motor yang menolongnya dan bersedia mengantar ke Palu. Meskipun pria tersebut sedang mencari keluarganya.

Dalam perjalanan, pria tersebut menemukan keluarganya, namun dia tidak menggugurkan niat untuk mengantarkan Sulaeman ke Sidera. Sekitar 5 km sebelum sampai di tujuan nasib malang kembali menimpa, bahan bakar motor tersebut habis. “Enggak nangis gimana saya, orang itu sudah baik ke saya, tapi akhirnya menderita karena menolong saya,” tuturnya.

Akhirnya mereka berdua mencari bantuan, ada warga yang memiliki sepeda motor dengan bahan bakar cukup banyak dan memberinya bensin. Selain itu warga tersebut juga mengantarkan Sulaeman ke tempat anak istrinya.

Saat sampai di lokasi, banyak bangunan rusak, namun anak istrinya berhasil selamat. Air mata pun tak bisa tertahan dalam pertemuan keluarga kecilnya itu. “Bagaimana tidak, selama berhari-hari saya tidak tahu kondisi anak istri saya bagaimana,” katanya.

Dengan kondisi kaki yang masih cedera, Sulaeman mencari informasi bantuan pemerintah untuk memulangkan warga ke Jakarta. Akhirnya ada titik terang dan mereka berangkat ke Bandara Mutiara. Di sana mereka kembali ke pulau Jawa dengan menggunakan pesawat Hercules. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.