Hindari Kekerasan saat Belajar Daring, Dampingi Anak dengan Sabar

74
0
ISTIMEWA PENUH PERHATIAN. Psikolog Layanan Konseling Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Rinnie Riannydewi R membimbing anaknya belajar dari rumah, Jumat (18/9). Orang tua diminta lebih sabar dan perhatian saat membimbing anak belajar daring.
ISTIMEWA PENUH PERHATIAN. Psikolog Layanan Konseling Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Rinnie Riannydewi R membimbing anaknya belajar dari rumah, Jumat (18/9). Orang tua diminta lebih sabar dan perhatian saat membimbing anak belajar daring.

TASIK – Di masa pandemi Covid-19, peran perempuan di keluarga sangatlah penting. Termasuk dalam menyukseskan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Perempuan dengan kodratnya yang lembut, penyayang dan tegas harus mampu membimbing anak belajar dari rumah.

Psikolog Layanan Konseling Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Rinnie Riannydewi R mengatakan, pihaknya prihatin dengan terjadinya kasus kekerasan yang terjadi pada anak akhir-akhir ini yang disebabkan belajar daring. Hal itu ironis, sebab seorang ibu harusnya mampu menjadi tempat ternyaman bagi anak, termasuk dalam mendampingi belajar anak di masa pandemi ini.

“Dibutuhkan kesabaran bagi para orang tua dalam membimbing belajar anaknya,” katanya kepada Radar, Jumat (18/9).

PJJ di masa pandemi ini, kata ia, mestinya dijadikan sebuah hikmah, sebab para orang tua sedang diberikan kesempatan mendidik anak secara langsung.

“Buatlah aktivitas belajar bersama anak, terutama dalam kondisi pembelajaran jarak jauh saat ini lebih menyenangkan. Serius tapi santai, sehingga anak merasa nyaman,” katanya.

Dia pun memahami kondisi saat ini, kebanyakan orang tua jauh lebih tertekan atas tugas belajar yang menumpuk, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan terhadap anak.

“Seorang ibu harus menghilangkan segala bentuk egosentrisme atau memaksakan kehendak. Fokuskan perhatiannya kepada anak, bukan pada kemauan sendiri,” ujarnya.

Orang tua harus belajar mengubah persepsi terhadap reaksi anak. Ketika anak rewel, dia sebenarnya hanya mengekspresikan dirinya sendiri. Ketika anak enggan belajar, mungkin karena memang dia tidak paham atau ada tekanan yang menimbulkan gejala stres.

“Di sini lah orang tua harus tenang dan berprasangka baik kepada anak. Maka sikap dan reaksinya anak ini bisa dikendalikan orang tua secara positif,” katanya.

Dia pun mengatakan, seorang ibu yang mendampingi anaknya belajar haruslah dalam kondisi positif thinking dan tidak menganggap hal itu sebagai beban. Kalau dijadikan beban, nanti malah rentan emosi. Ia mengatakan, ketika kondisi belajar sudah memancing amarah, lebih baik hentikan terlebih dahulu proses belajarnya.

“Ibu-ibu yang sedang membantu anak mengerjakan tugas lalu mulai terjadi konflik, lebih baik tunda dulu belajarnya. Alihkan jadi bermain bersama anak, karena dalam kondisi ini mungkin anak sedang stres sehingga akan sulit untuk mencerna pelajaran,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam mendidik anak itu para ibu harus sering melakukan introspeksi diri, terutama terhadap pola asuh, pola ajar dan pola didik yang benar. Maka berikanlah contoh pembelajaran yang terbaik sejak kecil.

“Agama pun sudah memiliki rumus pengelolaan emosi yang paling baik. Misal dalam Islam, ketika kesal, marah atau emosi maka segera berwudu, zikir dan bersujud,” katanya.

Jadi, sambungnya, pembelajaran di rumah ini harus bisa menumbuhkan keakraban dan kasih sayang antara anak dan orang tua, jangan malah sebaliknya.

“Maka saat belajar orang tua tidak boleh membentak-bentak. Tanpa disadari anak meniru, terlebih lingkungan yang menciptakan watak seseorang secara tidak disadari,” ujarnya.

Ketua STIKes BTH Tasikmalaya Hj Enok Nurliawati SKp MKep mengimbau agar orang tua terus mengawasi kegiatan belajar dan bermain anak-anaknya. Hal ini penting, karena kondisi sekarang masih fluktuatif dalam penyebaran Covid-19.

“Akhir-akhir ini angka positif Covid-19 semakin meningkat. Maka orang tua perlu ikut mencegahnya. Bisa dengan imbauan tetap di rumah, mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker di lingkungan keluarganya,” katanya.

Hal itu yang harus menjadi kebiasaan di masa pandemi. Usaha tersebut sebagai bentuk menjaga diri sendiri agar orang lain tidak terkena Covid-19. Jadilah orang tua yang bijak, jangan sampai anak keluar rumah tanpa ada tujuan yang jelas.

“Perlu diinformasikan saat ini orang tua harus memperhatikan anaknya dalam pembelajaran daring ataupun luring. Jangan sampai keluar rumah saat kegiatan belajar dari rumah berlangsung,” ujarnya. (riz)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.